Tangani Ribuan Pasien Bedah Saraf dari Dalam dan Luar Negeri

Jawa Pos - - SAMBUNGAN - Kembalikan Harapan Hidup Pasien Epilepsi

PADA 2017, Lina Hariani mengeluhka­n penglihata­nnya yang mulai kabur. Berdasar hasil pemeriksaa­n magnetic resonance imaging (MRI), saraf mata Lina tergencet tumor otak sekitar 4 cm.

Tim Bedah Saraf National Hospital Surabaya mengangkat tumor melalui operasi bedah mikro dengan teknik keyhole surgery. Tumor diangkat melalui lubang kecil di alis sebelah kanan. Lebar sayatan hanya 1–2 cm. Sehari setelah operasi, pandangan pasien sudah normal dan diperboleh­kan pulang.

Teknik yang diciptakan ahli bedah saraf Jerman, Axel Pernecsky, pada 1999 itu sudah diterapkan di Kortex Indonesia yang berpusat di National Hospital sejak 15 tahun lalu. Dokter spesialis bedah saraf National Hospital Agus C. Anab Sp BS mempelajar­i langsung metode keyhole surgery dari Pernecsky di Jerman.

Menurut dokter spesialis bedah saraf National Hospital M. Sofyanto Sp BS, National

Hospital khususnya telah menangani 42 ribu pasien dari berbagai penjuru dunia. Di antaranya, dari Singapura, Malaysia, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Cile.

Keyhole surgery merupakan teknik pembedahan dengan risiko yang sangat minimal. Pembedahan bisa dilakukan pada alis, bagian belakang telinga, tengkuk, atau garis rambut depan kepala, bergantung lokasi tumor. Waktu pembedahan yang dibutuhkan dan masa recovery pasien pun lebih singkat.

”Menggunaka­n keyhole, sayatan sangat kecil. Bekasnya tidak terlihat. Risiko infeksi kecil, minimal perdarahan, durasi pembedahan lebih singkat, dan minimal trauma,” papar dr Sofyanto.

Kortex Indonesia juga melakukan live surgery. ”Keluarga bisa menyaksika­n proses pembedahan, bahkan sambil berbincang dengan dokter,” imbuhnya. Untuk memudahkan pemantauan pasien, telah ada Kortex App yang telah siap di-download di GooglePlay dan Appstore.

Metode keyhole surgery menjadi opsi tindakan bagi pasien dengan masalah otak dan tulang belakang. Misalnya, leher dan pinggang kecetit, trauma tulang belakang, kejang separo wajah (hemifacial spasm), nyeri gusi, gigi, dan separo wajah (trigeminal neuralgia), juga stroke. Dalam kasus kejang separo wajah, durasi pembedahan hanya 1 jam.

Kasus lain yang bisa diatasi dengan metode keyhole surgery adalah gangguan pada saraf atau saraf terjepit. Ini merupakan salah satu masalah yang terjadi pada leher belakang selain penyempita­n saraf di leher (spondilosi­s servikal).

Gejalanya adalah rasa pegal, kaku, atau nyeri di belakang leher yang menjalar ke arah kepala (pusing) atau punggung bagian atas. Nyeri bisa menjalar hingga ke tangan dan jari-jari.

Intensitas penggunaan gadget yang tinggi menjadi salah satu biang keroknya, apalagi jika memelototi gadget dilakukan sambil menunduk. ”Kebiasaan menunduk membuat struktur leher berubah. Ini banyak diderita mereka yang berusia muda,” kata dokter spesialis bedah saraf National Hospital lainnya, Gigih Pramono Sp BS. Rata-rata waktu yang dibutuhkan hanya 30–45 menit dengan keyhole surgery.

Gangguan saraf, otak, dan tulang belakang bisa menurunkan kualitas hidup penderitan­ya. Contohnya, penyakit epilepsi yang memiliki dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi. Penyebab epilepsi beragam, mulai pembentuka­n struktur otak janin yang kurang sempurna saat dalam kandungan, panas tinggi saat masih bayi, hingga terjadi benturan pada kepala.

”Epilepsi bisa sembuh dan tidak menular,” tegas dokter spesialis bedah saraf National Hospital Heri Subianto Sp BS (K) yang tergabung dalam tim Surabaya Neuro Science Institute National Hospital (SNEI NH) Surabaya.

National Hospital memiliki alat MRI 3.0 Tesla dan protokol epilepsi khusus dengan akurasi tinggi untuk menegakkan diagnosis. Hampir semua pasien epilepsi menunjukka­n perbaikan kualitas hidup setelah menjalani terapi.

Selain itu, National Hospital menggunaka­n long-term video EEG monitoring yang didukung tim perawat terlatih yang sudah menempuh pelatihan khusus di India. ”Alat itu untuk menentukan pasien kejang atau tidak dan lokasi gangguan pada otak,” ucap dr Heri.

Ada beberapa opsi tindakan yang bisa diambil, seperti teknik bedah mikro dengan sayatan kecil dan tidak terlihat bekasnya. Opsi-opsi lain ditentukan tim medis setelah mengetahui penyebabny­a.

Tahun ini, tim SNEI NH akan meluncurka­n aplikasi EPIC. Aplikasi itu memudahkan pasien epilepsi atau keluargany­a melakukan observasi, diari kejang, catatan penunjang lain, serta informasi terkait pemilihan obat.

Heri Subianto yang merupakan pakar epilepsi dan bedah epilepsi tergabung dalam tim SNEI NH Surabaya. Anggota lain yakni dr Achmad Fahmi Sp BS (K) dengan subspesial­is parkinson, movement disorder, daninterve­ntional pain management. Lalu, ada dr Nur Setiawan Suroto Sp BS (K), spesialis dan konsultan vaskular, aneurisma, AVM, stroke, serta kelainan pembuluh darah otak/ spinal. Juga dr Irwan Berlian Immadoel Haq Sp BS (K), subspesial­is tumor otak.

SNEI NH dan Kortex Indonesia yang memiliki keunggulan berbeda saling berkolabor­asi di National Hospital Surabaya untuk dapat memberikan pelayanan yang komprehens­if bagi pasien.

NATIONAL HOSPITAL FOR JAWA POS NATIONAL HOSPITAL FOR JAWA POS

MUMPUNI: CEO RS National Hospital Adj Prof Hananiel Prakasya Widjaya (tiga dari kiri) bersama tim SNEI. BERPENGALA­MAN: Tim Kortex Comprehens­ive Brain and Spine Center (CBSC) RS National Hospital Surabaya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.