Tak Satu pun Terindikas­i Kena Covid-19

Observasi 238 WNI di Natuna Berakhir Hari Ini

Jawa Pos - - FRONT PAGE -

JAKARTA, Jawa Pos – Masa observasi 238 WNI dari Provinsi Hubei, Tiongkok, dan 47 penjemputn­ya di Pangkalan Terpadu TNI Natuna berakhir hari ini (15/2) ■

Mereka bisa kembali ke daerah asal dan bertemu keluarga. Sekretaris Ditjen P2P Kementeria­n Kesehatan Achmad Yurianto menyatakan, semua peserta observasi yang mayoritas mahasiswa itu dalam kondisi sehat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga memastikan bahwa tak ada satu pun di antara 285 orang itu yang terindikas­i terkena Covid-19. ”Mereka siap kembali berkumpul bersama keluarga,” kata dia saat berada di Magelang kemarin (14/2).

Jokowi mengatakan, seluruh protokol Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah diikuti pemerintah secara ketat. ”Karantina di Natuna ketat, diawasi, dicek harian. Sekarang sudah 14 hari, memang protokolny­a seperti itu,” jelasnya. Jokowi menepis kekhawatir­an mengenai kondisi mereka selepas kembali ke keluarga dan masyarakat. Dia menegaskan, ketika diputuskan boleh pulang, mereka dipastikan telah melalui prosedur kesehatan.

Yurianto menyatakan, tidak ada alasan untuk memperpanj­ang masa observasi. Dia juga menyatakan bahwa 238 orang yang sebagian besar mahasiswa di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, itu sudah memulai kuliah dengan metode online. ”Mereka datang dalam kondisi sehat. Jadi, untuk apa kami tahan-tahan. Tidak ada yang harus dibatasi,” tuturnya.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menko PMK Muhadjir Effendy, dan Kepala BNPB Doni Monardo akan melakukan penjemputa­n di Bandara Raden Sadjad, Natuna. Ada tiga pesawat milik TNI Angkatan Udara yang digunakan. Dua Boeing dan satu Hercules.

Tiga pesawat itu jugalah yang dipakai untuk menjemput peserta observasi yang terbang dari Batam menuju Natuna. Sebelum meninggalk­an tempat observasi, mereka akan menjalani pemeriksaa­n terakhir. Pukul 13.00 pesawat dijadwalka­n terbang ke Bandara Halim Perdanakus­uma, Jakarta. Setelah itu, hanggar tempat observasi dibersihka­n. Kementeria­n Kesehatan melakukan disinfeksi sehingga area akan ditutup 3 hingga 7 hari.

Dari 238 orang itu, terbanyak berasal dari Jawa Timur (65 orang). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa pihaknya secara kontinu berkoordin­asi dengan tim Kementeria­n Kesehatan. ”Kami akan kawal betul proses pemulangan­nya. Memastikan ke-65 orang tersebut bisa kembali berkumpul dengan keluarga,” katanya kemarin.

Perinciann­ya, 3 orang dari Sidoarjo, 34 Surabaya, 1 Tuban, 1 Banyuwangi, 1 Bojonegoro, 1 Bondowoso, 1 Gresik, dan 1 Jember. Selain itu, 4 orang Kediri, 2 Lamongan, 4 Lumajang, 7 Malang, 1 Pamekasan, 1 Ponorogo, dan 3 Probolingg­o.

Khofifah mengatakan, masyarakat Jawa Timur tidak perlu khawatir berlebihan dalam merespons kepulangan peserta observasi. Dia memastikan seluruh WNI tersebut dalam kondisi sehat. ”Kementeria­n Kesehatan sudah melakukan observasi selama 14 hari dan tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukka­n gejala terinfeksi virus korona. Mereka mengantong­i surat keterangan sehat dari Kemenkes, jadi tidak perlu khawatir,” ungkapnya.

Orang tua para mahasiswa yang akan pulang itu pasti tak sabar bertemu buah hatinya. Lilis Triana, orang tua Nathania, menyatakan baru berkomunik­asi dengan anaknya sekitar 30 menit sebelum Jawa Pos menghubung­inya pukul 20.30 tadi malam. ”Saya video call kan, eh mereka lagi jalanjalan menikmati malam terakhir di Natuna,” ujarnya senang.

Dian Aprillia Mahardini, mahasiswa Unesa yang sedang mengambil program belajar setahun di Wuhan, mengungkap­kan bahwa kondisi mereka di Natuna baik-baik saja. ”Mohon doanya, semoga bisa kembali ke rumah dengan selamat,” tuturnya.

Lilis berharap kepulangan anaknya bisa diterima dengan baik. Lilis dan keluarga berharap ada semacam sertifikat khusus yang bisa dipegang untuk membuktika­n kepada masyarakat atau warga bahwa anaknya negatif Covid-19. Menurut dia, itu dilakukan untuk jaga-jaga jika ada yang tidak percaya dengan hasil pemeriksaa­n dan observasi pemerintah.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.