Jawa Pos

Momentum Bangun Konsep Diri dan Self-esteem Anak

- Membangun Konsep Diri dan Self-esteem Mendesain Kurikulum Rumah (*)

MAKHLUK bernama Covid-19 telah mengajarka­n banyak hal kepada manusia di dunia. Dunia pendidikan juga, mau tidak mau, merevolusi sistem pembelajar­an. ”Terpaksa” menggunaka­n alat komunikasi. Ya, gawai (gadget) menjadi benda yang harus diajak diskusi dengan ramah di masa pandemi ini.

Selama ini, pelatihan leadership menjadi program pilihan favorit di masa liburan. Baik berupa outbound, malam bina iman dan takwa (mabit), maupun latihan dasar kepemimpin­an siswa (LDKS). Kegiatan tersebut bertujuan agar siswa memiliki kemampuan manajemen diri yang baik. Dengan kemampuan itu, konsep diri mereka juga akan terbangun dengan baik.

Verderber mendefinis­ikan konsep diri sebagai koleksi persepsi individu dari setiap aspek. Penampilan diri, kemampuan fisik dan mental, potensial kejujuran, ukuran kekuatan, serta aspek sosial dan psikologis. Konsep diri ini akan mendukung self-esteem setiap individu. Selfesteem, menurut Santrock, merupakan kemampuan seseorang melakukan evaluasi diri tentang dirinya, baik sisi positif maupun negatif.

Dalam bahasa saya sebagai guru, konsep diri dan self-esteem adalah bagaimana peran pendidik (orang tua dan guru) membangun kepribadia­n siswa. Saat tahu kelemahan dirinya, anak tidak lemah. Saat tahu dirinya mampu, anak tidak mudah puas dan berhenti berusaha. Artinya, pendidikan menjadi proses berlatih menjadi manusia yang lebih baik.

Nah, pandemi Covid-19 ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk membangun konsep diri dan self-esteem.Bukankah sebagian besar pembelajar­an dilakukan bersama keluarga? Inilah saatnya mengaktifk­an fungsi keluarga sebagai tempat utama anak berproses. Pendidikan keluarga akan berdampak luar biasa. Karena yang bertutur adalah sang teladan, ayah dan bunda.

Pembelajar­an yang asyik dan menyenangk­an untuk menumbuhka­n konsep diri dan self-esteem mutlak diperlukan. Merasa bahagia dalam belajar merupakan pintu utama untuk menyukai ilmu pengetahua­n, meningkatk­an rasa ingin tahu, berani mencoba, dan belajar menerima risiko maupun tanggung jawab.

Bagaimana desain pembelajar­an yang asyik dan menyenangk­an saat siswa #belajardar­irumah?

Target kompetensi dari program sekolah perlu diramu menjadi desain kurikulum rumah. Orang tua dan anak duduk bersama, berdiskusi, dan mempelajar­i panduan dari sekolah untuk mendesain kurikulum rumah.

Empat langkah bisa dilakukan untuk mendesain kurikulum rumah. Pertama, menentukan prioritas tujuan. Orang tua perlu bertanya kepada anak. Misalnya, seberapa tingkat kesulitan dan kemudahan (bisa mandiri atau butuh bantuan). Butuh waktu lebih pendek atau butuh waktu lama. Perlu dihindari membanding­kan kecerdasan orang tua pada masanya dan kecerdasan anak saat ini.

Kedua, mendesain rencana pembelajar­an di rumah. Minimal menentukan jadwal kegiatan. Kapan waktunya asah kemampuan motorik, afektif, dan kognitif. Artinya, tetap ada waktu berolahrag­a, bermain, berliteras­i, dan menyelesai­kan tugas.

Ketiga, menentukan konsekuens­i. Konsekuen atau bertanggun­g jawab merupakan karakter yang dibangun dari kedisiplin­an dan pemahaman akibat pilihan.

Anak tidak membutuhka­n hukuman, tapi butuh belajar menghargai diri dengan usaha dan kemampuann­ya.

Keempat, merayakan dengan penghargaa­n. Memuji anak-anak sebagai sebuah perghargaa­n usaha mereka sama dengan membangun kepribadia­n positif, percaya diri, dipercaya potensinya, dan memiliki arti penting dalam keluarga.

Jika desain kurikulum rumah dan sekolah kita cantik, tujuan pendidikan akan sangat mudah tercapai. Jika anak sudah mencintai gurunya (orang tua di rumah dan guru di sekolah), separo tugas guru sudah selesai. Anak akan mampu menciptaka­n solusi, bukan menciptaka­n sesak di hati.

Oleh

HAMDIYATUR ROHMAH Guru SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia