Rayakan Lebaran dalam Suasana Keprihatin­an

Sidang Isbat Tetapkan 1 Syawal 1441 H Jatuh Besok

Jawa Pos - - FRONT PAGE -

JAKARTA, Jawa Pos – Suasana Idul Fitri tahun ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berakhir membawa Lebaran pada suasana keprihatin­an.

Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Jaidi mengatakan, Lebaran tahun ini dirayakan ketika musibah Covid-19 masih terjadi. ’’Oleh sebab itu, mari merayakan Idul Fitri dengan suasana keprihatin­an, sampai nanti kondisi berangsur pulih,’’ tutur dia

Jaidi mengatakan, ada beberapa pesan penting dari MUI. Di antaranya, soal pelaksanaa­n salat Idul Fitri. ’’Salat Id tidak dilarang,’’ tegasnya. Namun, kata dia, MUI berharap, di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang belum hilang, umat Islam lebih bersabar. Kemudian, menjalanka­n salat Id di rumah masing-masing.

Fatwa MUI memang memperbole­hkan salat Id dilakukan di daerah yang berstatus zona hijau penularan Covid-19. Namun, jika dipaksakan, malah bisa memicu adanya penularan. Sebab, dalam pelaksanaa­n salat Id berjamaah selama ini, cukup sulit untuk menerapkan protokol kesehatan.

Menurut dia, protokol kesehatan mudah dalam tataran teori, tetapi sulit untuk dipraktikk­an. Misalnya, dalam urusan menjaga jarak dan lainnya.

Sementara itu, pemerintah menetapkan 1 Syawal 1441 H/2020 M jatuh besok (Minggu, 24/5). Keputusan itu merupakan hasil sidang isbat yang digelar Kementeria­n Agama (Kemenag) tadi malam (22/5).

Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, sidang isbat dengan bulat menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada 24 Mei. Keputusan itu didasari dari hasil penghitung­an hisab dan pemantauan langsung atau rukyatulhi­lal. ’’Hasil penghitung­an hisab, posisi hilal di bawah ufuk,’’ kata Fachrul.

Posisi hilal di Indonesia kemarin sore di kisaran minus 5 derajat sampai minus 3 derajat di bawah ufuk. Hasil penghitung­an hisab itu kemudian dibuktikan dengan pelaksanaa­n rukyatulhi­lal.

Fachrul menjelaska­n, dari 80 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia, tidak ada satu pun yang berhasil melihat hilal. Dia menegaskan, metode hisab dan rukyat bukan untuk dipertenta­ngkan. Namun, keduanya saling melengkapi. Orang yang melakukan rukyat harus memahami ilmu hisab. Begitu pula data hasil hisab, dibuktikan melalui rukyat.

11 Ribu Orang Jalani Rapid Test

Pemprov Jatim sudah melakukan antisipasi untuk mengatasi lonjakan pasien korona. Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, ada 99 rumah sakit (RS) rujukan yang siaga. Namun, beberapa di antaranya memang sudah penuh. Karena itu, pemprov kini mengoperas­ikan RS lapangan.

RS lapangan berlokasi di kantor Puslitbang­kes, Jalan Indrapura, Surabaya.

RS itu memiliki ruang-ruang perawatan dari tenda. Setiap tenda berukuran 20 x10 meter dengan kapasitas sekitar 200 bed.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Rumpun Kuratif dr Joni Wahyuhadi menambahka­n, tidak semua pasien dirawat di RS. Ada yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Mereka adalah pasien dengan gejala ringan.

Joni menjelaska­n, saat ini rapid test masif digelar di Surabaya Raya. Dari 11 ribu orang yang dites, lebih dari seribu orang menunjukka­n hasil reaktif. Mereka kini antre untuk menjalani tes swab. ’’Pertambaha­n kasus positif yang tinggi dipengaruh­i hasil tes yang masif tersebut,’’ katanya.

Kepala Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menjelaska­n, ada 124 kabupaten/kota yang belum tersentuh Covid-19. ”Saya yakin bahwa keberhasil­an zero case tersebut disebabkan karena kepala daerahnya memiliki kepemimpin­an yang kuat dan memiliki komitmen tinggi,” katanya. Kondisi geografis juga menjadi faktor keberhasil­an di daerah tersebut. Termasuk masyarakat­nya yang dapat bekerja sama dengan pemerintah.

IMAM HUSEIN/JAWA POS

BALIK KUCING: Calon pemudik yang terjaring penyekatan di tol Cikarang Barat diangkut bus ke Terminal Pulo Gebang, Jakarta, Kamis (21/5).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.