Periuk Nasi yang Berevolusi

Demam organisasi atau usaha rintisan yang menemukan model bisnis berulang serta terukur (start up) berbasis teknologi tengah melanda dunia. Sebagian usaha rintisan itu sukses merengkuh pasar, tetapi sebagian lagi gagal menemukan pasar.

Kompas - - NUSANTARA - (INGKI RINALDI) (INK)

Para pendirinya ( founders) berjuang di jalur anyar perekonomian, atau bahkan peradaban baru, yang dilatarbelakangi keniscayaan digitalisasi di nyaris semua bidang. Sumber-sumber mata pencarian konvensional mengalami turbulensi, tanpa kecuali melanda pula ASEAN, dan membuat ”periuk nasi” mengalami evolusi. ”Karena di ASEAN, setiap orang terkait dengan periuk nasi. Ini adalah soal pendapatan,” kata LilyanaAbdul Latiff, Chairman of Rice Bowl Startup Awards yang juga Technical Director New Entrepreneurs Foundation (Yayasan Usahawan Baru), Rabu (3/8). ”Rice Bowl,” diambil sebagai nama, merupakan tafsir bebas atas istilah ”periuk nasi” atau mata pencarian itu tadi. Lilyana menceritakan latar belakang Indonesia Rice Bowl Startup Awards (RBSA) atau ASEAN Startup Award yang malam itu digelar di Cre8 Community and Workspace, Jakarta. Lokasi itu merupakan ruang kerja konsep baru, yang juga dilatarbelakangi keniscayaan digitalisasi pada nyaris semua bidang, di mana para usahawan dari organisasi atau perusahaan berbeda bisa berbagi lingkungan kerja dan sumber daya dalam ruangan kerja yang sama. Tahun lalu, RBSA dimulai di Malaysia oleh Yayasan Usahawan Baru. ”Kami adalah yayasan yang dibentuk swasta dan sektor publik (pemerintah),” ujar Lilyana. Yayasan itu menyelenggarakan program-program untuk mengakselerasi banyak start up, khususnya di bidang teknologi, agar lebih cepat tumbuh dan berkembang serta menemui pasar. Pelatihan dan sejumlah kegiatan, seperti pemberian penghargaan di malam itu, merupakan sebagian di antara beberapa program akselerasi yang dilakukan. Mereka menyasar hampir semua kelompok demografi, dari anak-anak hingga dewasa, untuk belajar menjadi wirausahawan. Di Malaysia, hal ini sudah dijalankan hingga tingkat nasional. ”Saat Pemerintah Malaysia bertanya, apa yang NGO bisa bikin, ide saya adalah membuat yang tingkatnya ASEAN. Namun, sejumlah negara, seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Filipina juga menggelar RBSA ,” kata Lilyana. Karena Yayasan Usahawan Baru di Malaysia tidak mengenal detail dan atmosfer start up tiap negara, untuk penyelenggaraan di setiap negara itu, yang melakukan adalah insiator lokal. Di Indonesia, penyelenggaranyaKolaborasi Indonesia. ”Materi acara diracik sesuai kebutuhan tiap negara. Start up di Singapura sangat maju, tetapi di Jakarta, ada yang sudah maju ada yang belum, sehingga kebutuhannya tidak sama” kata Lilyana. Pada akhir September kelak, para pemenang di setiap negara itu akan diadu lagi untuk ajang tingkat ASEAN di Filipina. Sebuah konferensi terkait bakal turut pula digelar untuk menarik lebih banyak pengunjung. Lalu seterusnya, para pemenang di tingkat ASEAN bakal dipertemukan dengan para penantang lain dari sejumlah negara. Karena itu, Rabu malam itu, yang terkait dengan organisasi rintisan yang menemukan model bisnis berulang serta terukur ( start up) berbasis teknologi, Rabu (3/8) lalu menghadiri Indonesia Rice Bowl Startup Awards (RBSA) atau ASEAN Startup Award di Cre8 Community and Workspace, Jakarta. James ”Jim” Digby yang berdomisili di Copenhagen, Denmark, dan adalah Co-Founder Global Startup Awards (GSA) turut memberikan pidato. Selain Lilyana dan Jim, sejumlah pembicara juga tampil, seperti Matthew DM Morrison (Founder A Space, Filipina) dan Sathyvelu Kunashegaran yang bertindak sebagai pemantik diskusi. Sathyvelu, secara berseloroh mengatakan seorang tukang ojek berbasis aplikasi yang hari itu ditumpanginya sebagai superhero, karena berhasil menembus kemacetan Jakarta dengan teknik berkendara super berani.

Percaya diri

Komunitas pendiri start up yang saling berlomba meraih predikat terbaik di masing-masing kategori itu, sebelumnya telah melalui sejumlah proses penyaringan. Salah satunya ialah melewati proses bernama peers pitch, di mana mereka mesti menyajikan solusi tersebut tersebut agar dikenali komunitas start up. Ini memberikan semacam ja- minan bahwa solusi yang dihasilkan memang berkualitas dan tidak semata-mata bergantung pada kualitas presentasi di depan para investor. Karena itu, kepercayaan diri yang dimiliki dari setiap pihak terbilang tinggi. Lilyana mencontohkan, seorang anak di Myanmar yang memiliki karya bagus dan melakukan presentasi dalam bahasa Myanmar. ”Wirausahawan, di manapun ia, punya kepercayaan diri, apa pun bahasa yang digunakannya,” katanya. Tentang Indonesia, Lilyana mengatakan, pasar terbesar di ASEAN ini merupakan target banyak usahawan baru, target para pendiri start up. Namun, sulit untuk menjangkau seluruh wilayahnya terkait dengan keragaman berbagai hal, termasuk kondisi infrastruktur yang belum merata. Namun, selalu ada peluangnya, terutama karena sebagian besar generasi mudanya melek dan lekat dengan teknologi, lewat beragam pelantar virtual. Merekalah yang menghasilkan se- jumlah karya, dan sebagian bertransformasi menjadi start up. Tentu saja, dampak lanjutannya adalah kebutuhan besar pada sejumlah bidang, seperti pengembang web, analisis data, programmer atau pakar keamanan internet. Kebutuhan itu sedemikian besarnya, hingga setiap lulusan sebagian universitas di Indonesia, kata Lilyana, hampir pasti selalu langsung diserap pengelola start up di Malaysia. Keberhasilan mereka dalam menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan ”periuk nasi” masa kini dan bakal terus berevolusi, tentu saja mesti ditiru lebih banyak lembaga pendidikan sejenis. ”Ada banyak kesempatan bagi anak-anak muda untuk turut mengisi keriuhan ekonomi digital. Kini bukan saatnya lagi hanya ingin menjadi pegawai,” ujar Lilyana. Lihat Video Terkait ”Komunitas Rice Bowl” di kompasprint.com/vod/ ricebowl Sejumlah komunitas yang dikoordinasikan oleh Komunitas Propaganda Senyum, Minggu (11/9) petang, membagikan paketpaket bantuan kepada anak-anak yang hidup dengan penyakit atresia bilier dan tengah dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, beserta keluarga mereka yang tengah menunggui. Sejumlah komunitas yang terlibat itu, di antaranya Sahabat Berbagi, Portal Infaq, Pejuang Hati, Gerakan Nasi Kotak untuk Berbagi, Berbagi Kasih Nur Hakim, dan Sedekah Rombongan. Beberapa jenis bantuan yang diberikan itu, di antaranya popok bayi sekali pakai dan paket makanan untuk menyambut hari raya Idul Adha 1437 H. Pendiri Komunitas Propaganda Senyum Hery Aldian mengatakan, paket makanan, seperti opor ayam, ketupat, dan sejenisnya itu dibagikan agar keluarga para anak-anak penderita atresia bilier turut merasakan kegembiraan di hari raya. Adapun atresia bilier merupakan bawaan lahir berupa penyumbatan saluran pembawa cairan empedu dari hati ke kandung empedu. Kerusakan hati hingga ancaman atau risiko kematian mengintai anak-anak dengan kondisi tersebut, bilamana tidak segera ditangani dengan baik.

KOMPAS/ INGKI RINALDI

Sejumlah orang

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.