Berguru Kilat kepada Jawara Jepang

Kompas - - OLAHRAGA - (C03)

Di atas matras GOR POPKI Cibubur, sekitar 60 pelatih karate bersabuk hitam asal Indonesia berjajar dan memasang kuda-kuda. Semua tatapan tertuju kepada pria di hadapan mereka, yang berpostur tinggi dan tampak bugar meskipun sudah berumur. Oleh pria itu, para pelatih diminta melakukan gerakan menyerang. Bergerak serentak, gerakan mereka nyaris sama. Selain melepaskan kepalan tangan kanan, telapak kaki mereka terangkat, sebelum kemudian terdengar hentakan ketika mendarat di matras. Melihat gerakan itu, pria berpostur tinggi buru-buru mengoreksinya dengan bahasa Jepang. ”Bukan seperti itu, jangan ada lompatan,” ujarnya, yang kemudian diartikan oleh penerjemah, Jumat (7/10). Pria pemberi instruksi itu ialah Seiji Nishimura, peraih medali emas pada nomor kumite -70 kg Kejuaraan Dunia Karate 1982, yang juga mantan pelatih timnas karate Jepang. Dia memberi pelatihan kumite sebagai rangkaian dari Indonesia International Karate Championship 2016, 8-9 Oktober. Pelatihan itu dirasa sangat bermanfaat, salah satunya oleh Bermanhot Simbolon, pelatih karate Wadokai pengurus cabang Samosir, Sumatera Utara. Dia baru memahami bahwa langkah tanpa hentakan saat menyerang dapat menambah kecepatan. ”Ternyata untuk dinyatakan masuk, pukulan mutlak harus kena lawan. Tanpa hentakan bisa menambah kecepatan,” ucap Bermanhot. Nishimura mengingatkan bahwa tiga hal utama dalam ka- pelatih tim nasional karate Jepang, Seiji Nishimura (atas), memberi pelatihan kepada sekitar 60 pelatih karate asal Indonesia di GOR POPKI, Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (7/10). Peraih medali emas di World Games dan Kejuaraan Dunia Karate pada era ’80-an itu membagi ilmu khususnya soal kecepatan, kekuatan, dan teknik bertanding. Acara ini merupakan bagian dari Indonesia International Karate Championship di GOR POPKI, 8-9 Oktober. rate ialah kecepatan, kekuatan. dan ketepatan waktu. Namun, khusus bagi karateka Indonesia yang memiliki karakter tubuh tidak terlalu besar, pria berusia 60 tahun itu menyarankan untuk mengandalkan kecepatan saat bertanding. ”Karateka Indonesia memang belum sampai level top. Namun, jika kecepatan bisa dioptimalkan, peluang mengalahkan karateka berpostur besar seperti dari Eropa selalu terbuka. Kekuatan dilawan dengan kecepatan,” kata penyandang sabuk hitam Dan VII beraliran Wado Ryu itu.

ADITYA PUTRA PERDANA

Mantan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.