Literer-Kuliner di Panggung Dunia

Frankfurt Book Fair 2016 dimaknai sebagai ajang promosi di panggung dunia. Yang dipajang tak melulu produk industri penerbitan, tetapi juga produk budaya dari masyarakat, salah satunya kuliner Nusantara. Produk literer bersanding dengan kuliner.

Kompas - - PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN - (NASRULLAH NARA, dari Frankfurt, Jerman)

Hari Jumat (21/10) siang, tatkala para penjaga stan dan eksekutif perusahaan penerbitan bergegas ke gerai-gerai makanan di dalam dan sisi gedung tempat pameran berlangsung, Gedung Messe Frankfurt, Jerman, stan Indonesia hiruk-pikuk oleh pengunjung. Puluhan orang merubung sebuah meja hidang. Di atas meja itu berjejer mangkuk berisi bahan baku soto berupa taoge, irisan daging, tumis bawang, daun bawang, berikut bumbu lain. Di dekatnya terdapat dua kuali berisi kuah berwarna kuning. Tak sampai 15 menit, sekitar 100 mangkuk sudah berpindah ke genggaman orang-orang yang merubung dan antre. Dua petugas dengan cekatan menyerok kuah panas, lalu menuangkannya ke mangkuk-mangkuk. ”Hmmm... so delicious!” ucap Luisa Faust (18), mahasiswi Universitas Frankfurt, setelah menyeruput kuah soto. Tak lama kemudian, giliran teman sebayanya, Karina Lokk, berujar, ”Wow... It tastes really great.....” Ketakjuban pengunjung akan rasa soto ditimpali penjelasan oleh ahli kuliner Bara Pattiradjawane seputar cara memasak dan bahan-bahan yang digunakan. Sebagian dari pengunjung sudah pernah mencicipi soto ketika berwisata di Indonesia. Namun, tak sedikit pula yang baru pertama kali menjumpai hidangan yang namanya menyesuaikan dengan daerah asalnya—semisal soto kudus, soto bandung, soto padang, dan soto betawi—itu. ”Hidangan ini bisa ditemui di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bahan-bahannya diambil dari tumbuh-tumbuhan di bumi Indonesia dan kini tak sulit lagi mendapatkannya di supermarket Eropa,” ujar Bara. Soto yang disuguhkan kali ini adalah soto lamongan atau ala jawa timuran. Pertimbangannya, soto ini lebih sederhana untuk dibuat ketimbang soto lainnya. ”Rempahnya tidak banyak ragamnya, cukup pakai kunyit,” tutur Bara. Penjelasan itu ditopang dengan hadirnya buku-buku kuliner di pameran. Dari sekitar 30 penerbit Indonesia yang ikut dalam Frankfurt Book Fair 2016, hampir semuanya menerbitkan buku masak-memasak. ”Meski cara memasak sudah bisa diunduh melalui internet, buku kuliner tidak ada matinya,” tutur Siti Gretiani, General Manager Gramedia Pustaka Utama. Buku Trailing the Taste of Gorontalo yang merangkum kuliner dan obyek wisata Gorontalo bah- kan meraih Gourmand World Cookbook Award 2015. Kemarin, Amanda Katili dari Omar Niode Foundation—selaku penerbit— tampil mempresentasikan buku itu di Gourmet Gallery dalam arena Messe Frankfurt.

Peta Indonesia

Di arena pasaraya buku yang berlangsung pada 19-23 Oktober itu, Indonesia juga menyuguhkan seabrek menu tak berkuah, seperti rendang, dendeng balado, tumis jamur, sayur asem, dan rica-rica. Suguhan itu seolah mewakili geografi yang terdiri atas 17.000 pulau di Indonesia. Di atas meja, dibentangkan pula peta wilayah Republik Indonesia. Ketika menjelaskan rempah-rempah, seperti pala, Bara menunjuk Kepulauan Maluku. Rica-rica mewakili Minahasa, Sulawesi Utara. Rendang dan balado mewakili Sumatera Barat. Komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI) tak mau ketinggalan. Astrid Enricka Dhita dan rekannyamenyuguhkan cendol dan makanan ringan lain tak jauh dari tempat penyuguhan masakan asin dan pedas itu. Pengunjung penasaran melihat gula jawa, santan kelapa, dan bahan-bahan pangan dari negeri tropis. Setiap hari ada saja suguhan kuliner yang menyemarakkan keikutsertaan Indonesia dalam pameran penerbitan buku yang diikuti ribuan penerbit dari sekitar 100 negara ini. Pada acara happy hour, Kamis sore, aneka makanan ringan, seperti lumpia, pastel, dan lapis legit, juga disuguhkan kepada relasi bisnis penerbit Indonesia.

Identitas bangsa

Badan Ekonomi Kreatif yang mendukung keikutsertaan Indonesia di ajang ini memang ingin menampilkan kekayaan alam serta kreativitas masyarakat Nusantara. Persembahan karya nonliterer tersebut relevan dengan pandangan antropologis bahwa ragam pangan mencerminkan identitas bangsa. Di pameran buku yang sudah berusia 531 tahun ini, Indonesia juga menampilkan pentas seni di bawah koordinasi Endo Suanda, seperti musik keroncong dan pencak silat. Pentas seni digelar di luar gedung, tetapi tetap menarik perhatian pengunjung. Sementara dalam hal karya literasi, Indonesia kali ini memboyong sekitar 300 judul buku dari berbagai topik dan puluhan penerbit. Semua bahu-membahu mempromosikan Indonesia.

FOTO- FOTO: KOMPAS/ NASRULLAH NARA

Mangkuk- mangkuk berisi soto, Jumat (21/10), siap dihidangkan di stan Indonesia dalam Frankfurt Book Fair 2016 di Jerman (foto kiri). Chef Bara Pattiradjawane (tengah) memperkenalkan masakan khas dari sejumlah wilayah Nusantara di arena Frankfurt Book...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.