Menara Tenggelam di Kota yang Tumbuh

Di atas mercusuar ini, bisa dibayangkan seorang penjaga berdiri, di pertengahan abad ke-19. Memandangi kapal-kapal berlabuh ke Sunda Kelapa setelah nakhoda melihat tanda izin masuk dari puncak mercusuar. Kini menara itu terkepung bangunan, tenggelam di ko

Kompas - - METROPOLITAN - OLEH SAIFUL RIJAL YUNUS

Angin kencang hampir saja menerbangkan topi penutup kepala. Di musim angin barat seperti ini, apalagi di puncak bangunan yang berhadapan langsung dengan laut Teluk Jakarta, angin jauh lebih kencang menerpa. Siang itu, akhir Oktober, matahari terik menusuk kulit. Bersembunyi di bayangan struktur besi tempat dudukan lampu mercusuar menjadi cara jitu menghindari sinar mentari. Total tinggi bangunan hingga dudukan lampu sekitar 17 meter. Di depan, perairan Pelabuhan Sunda Kelapa menghampar. Gelombang laut bergerak seirama. Sebuah kapal bercat biru putih bergerak perlahan masuk ke dalam kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Di belakang kapal besi tersebut, belasan kapal lainnya ”terparkir” rapi. Mungkin, pemandangan seperti ini tidak jauh beda saat Sunda Kelapa menjadi satu-satunya pintu masuk ke Batavia. ”...jauh di belakang, ketika cuaca cerah, kita bisa melihat Gunung Priangan utamanya ketika pagi hari. Di Batavia sendiri, tidak ada yang terlihat kecuali sebuahMercusuar berwarna putih, lalu (semakin dekat) sebuah benteng kecil terletak di balik tembok...,” begitu tulisan seorang pelancong yang disadur dari Scott Merrillees dalam Batavia in Nineteenth Century Photographs. Menurut Merrillees, mercusuar ini dibangun sebelum 1862. Berada di lokasi strategis, di mulut pelabuhan lama Batavia, mercusuar ini adalah obyek yang pertama dilihat pengunjung yang datang dari laut. Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta menulis, mercusuar ini dibangun pada 1839 untuk memberi waktu tepat bagi kapal di pelabuhan. Tidak hanya itu, di dalam menara terdapat chronometer, pencatat waktu yang cukup tepat untuk dapat digunakan sebagai standar waktu portabel kala itu. Di lantai menara ada batu dengan tulisan berhuruf Tionghoa yang menyatakan longitude nol Batavia lewat titik tengah menara ini. Pada abad ke-19, longitude nol tersebut dipakai untuk memetakan seluruh daerah Hindia-Belanda. Akan tetapi, kini tulisan itu sudah raib. Heuken juga menulis, mercusuar ini jauh lebih dulu terbangun dibandingkan dengan Menara Syahbandar di dekat Museum Bahari.

Terus terdesak

Menjadi penanda kota hingga pertengahan abad ke-20, mercusuar ini adalah satu-satunya yang terlihat saat kapal-kapal da- tang dari banyak kota, bahkan benua lain. Sunda Kelapa saat itu adalah pelabuhan sibuk, sebelum Tanjung Priok siap. Kapal penumpang, juga barang, masuk ke perairan Batavia dengan memanfaatkan tanda dari mercusuar ini. Sebelumnya, ada mercusuar di Pulau Damar Besar atau Pulau Edam yang mengantar pelaut melewati teluk sebelum ke Sunda Kelapa. Lalu, ada sebuah mercusuar lainnya yang dibangun pada 1869 di Pulau Sebira. Pulau ini adalah pulau berpenghuni terluar di kawasan DKI Jakarta. Sekarang, Mercusuar Batavia hampir tak terlihat. Ketika berlayar dari lautan ke daratan Jakarta, yang terlihat hanya bangunan tinggi di sana-sini. Apartemen berbagai bentuk tersebar di pesisir Jakarta. Letaknya juga telah lebih maju. Padahal, dahulu, mercusuar ini adalah bangunan yang paling luar di pesisir Batavia. Seorang pelancong menulis, masih dari Merrillees, ”Malam berikutnya kami datang ke Batavia, teluk dangkal tempat kapal-kapal bersandar. Tepi teluk ini rendah, dengan rawa yang berlumpur. Pada akhir jalan kecil ini, berdiri sebuah mercusuar kecil, menunjukkan cara mendekati kota yang tidak dapat sepenuhnya dilihat dari pelabuhan tersebut”. Candrian Attahiyat, arkeolog dan anggota tim ahli cagar budaya Jakarta, menyampaikan, mercusuar ini dibangun di atas tanah yang terus tumbuh di muara Ciliwung. Dulu ada juga bangunan tempat penjaga tinggal. Akan tetapi, bangunan tersebut telah dirobohkan. Ketika itu, mercusuar ini adalah salah satu bangunan yang cukup tinggi di Batavia. Fungsinya mengatur alur pelayaran yang ketika itu mencapai masa jayanya. ”Kawasan mercusuar dulu, saat ini Muara Baru, adalah tanah tumbuh yang terus ada seiring pendangkalan muara. Kawasan ini juga dikenal karena banyak penyakit seperti malaria dan disentri,” kata Candrian. Pesisir Jakarta memang terus maju karena pendangkalan pesisir dan faktor alamiah. Bahkan, sisi paling luar Jakarta ribuan tahun lalu berada di Pasar Minggu. Candrian melanjutkan, ”Akan tetapi, seperti kita lihat sekarang, mercusuar hampir tidak lagi kelihatan karena tertutup bangunan.” Untuk mencapai mercusuar ini, pengunjung harus masuk ke dalam area Pelabuhan Nizam Zachman. Pengunjung awalnya rata-rata kesulitan menemukan lokasi mercusuar karena tidak ada petunjuk lokasi di dalam area pelabuhan. Wajar saja. Sebab, tinggi bangunan lain di area pelabuhan yang penuh pabrik hampir sama dengan mercusuar. Mercusuar sendiri dikelilingi kolam dengan batu gunung di fondasi. Hal ini dilakukan seiring penimbunan kawasan Muara Baru agar lebih tinggi dari muka laut akibat penurunan muka tanah. Di sekeliling mercusuar juga difungsikan sebagai kolam penampungan air sebelum dibuang ke laut memakai pompa. Di mercusuar ini, coretan nama anak-anak ”alay” dengan gampang terlihat, baik di bagian bawah, dinding, ataupun di bagian dalam. Tiga buah lubang angin terlihat di sejumlah sisi mercusuar. Sebuah pintu kecil berbentuk sepatu kuda berada di sisi timur bangunan. Menuju puncak harus melewati 56 anak tangga yang cukup melelahkan. Akan tetapi, ketika sampai di puncak, rasa penasaran terbayar tuntas. Kota ini ternyata memiliki mercusuar yang masih baik meski tidak lagi difungsikan. Prabowo (42), petugas rumah pompa Mercusuar Muara Baru, menuturkan, hampir setiap tahun ada wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat mercusuar. ”Mereka datang jalan kaki dari Kota Tua ke tempat ini. Kebayang jauhnya. Kalau orang lokal hampir tidak ada yang datang untuk wisata. Mungkin pada gak tau,” ujarnya. Untung (60), warga Muara Baru yang menetap di tempat ini sejak 1989, menyampaikan, mercusuar masih difungsikan hingga 1990-an. Lampu di atas menara selalu menyala sebagai penanda bagi pelaut. Setelahnya, kondisi mercusuar tidak diperhatikan lagi. Candrian menyampaikan, pihaknya sedang mencari literatur lengkap dan data terkait mercusuar ini. ”Kami sedang mengusulkan agar menjadi cagar budaya supaya lebih terjaga dan terpelihara,” katanya.

KOMPAS/ WAWAN H PRABOWO

Mercusuar pelabuhan Batavia yang dibangun pada abad ke-17 kini bagian dari pelabuhan pengelolaan ikan Muara Baru Jakarta, Rabu (26/10).

REPRO BUKU BATAVIA IN NINETEENTH CENTURY PHOTOGRAPHS SCOTT MERRILLEES PHOTOGRAPHER WOODBURY & PAGE

Menara Batavia pada 1870

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.