Pejalan Kaki Masih Rentan Gangguan dan Kecelakaan

Kompas - - METROPOLITAN - (DEA)

JAKARTA, KOMPAS — Lima tahun yang lalu, tepatnya pada 22 Januari 2012, sebanyak 13 pejalan kaki atau pedestrian diterjang mobil Daihatsu Xenia saat berjalan-jalan di atas trotoar dekat Tugu Tani, Jakarta Pusat. Lima tahun berlalu, pedestrian masih menjadi kelompok pengguna jalan yang rentan kecelakaan lalu lintas. Peningkatan infrastruktur trotoar pun masih jauh dari harapan. Keprihatinan itu disampaikan koordinator Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, saat peringatan 5 Tahun Tragedi Halte Tugu Tani di Jakarta Pusat, Minggu (22/1). Sejumlah pihak, seperti Komunitas Jarak Aman, Pramuka, Busmania, dan Car Free Day Indonesia, menaburkan bunga dan merenung di halte tempat tabrakan tersebut terjadi. Dari 13 orang yang tertabrak, 9 orang di antaranya tewas dan 4 lainnya menderita luka berat. Berdasarkan data Koalisi Pejalan Kaki, setiap enam hari sekali, satu pejalan kaki meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Di tingkat nasional, setiap hari ada 18 pejalan kaki yang meninggal dunia karena kecelakaan di jalan raya. Alfred memperkirakan, jumlah korban bahkan bisa lebih banyak. Selama ini, koalisi sulit meminta data dari Korps Lalu Lintas Polri. ”Pada hari peringatan tragedi Tugu Tani sekaligus Hari Pedestrian itu, kami meminta supaya pemerintah lebih meningkatkan komitmen untuk mewujudkan kota yang ramah bagi pejalan kaki,” ujar Alfred. Beberapa komitmen yang diminta koalisi adalah tersedianya trotoar yang lebar dan pelican crossing (tempat penyeberangan yang dilengkapi lampu pengatur lalu lintas) mengingat karakter pengendara di Indonesia yang masih suka saling serobot di jalan raya. Menurut Alfred, tombol lampu penyeberangan untuk pejalan kaki dinilai efektif untuk memberhentikan para pengendara. Namun, ketersediaan fasilitas itu di Ibu Kota dinilai masih minim. Jika ada, terkadang tak berfungsi, seperti di Jalan Kunir, Kota Tua, karena minimnya perawatan. Abbiyi Yahya Hakim (16), pelajar yang kerap berjalan kaki dari rumah ke sekolah, mengatakan, trotoar lebar saat ini masih kerap beralih fungsi menjadi tempat parkir dan lapak pedagang kaki lima. Ia juga mengeluhkan soal minimnya pelican crossing dan zebra cross yang terintegrasi dengan trotoar. ”Terkadang cat atau marka zebra cross sudah tidak jelas lagi. Kami, sih, kepenginnya setiap jalan bisa seperti di Sudirman dan Thamrin,” ujar Abi.

Terganggu utilitas

Menurut Alfred, pelebaran dan pembangunan trotoar di lima wilayah di Jakarta beberapa waktu terakhir masih berorientasi pada proyek dan serapan anggaran. Pelebaran trotoar di Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan, misalnya, tak diikuti penataan utilitas di sekitarnya. Akibatnya, meski trotoar sudah lebar dan bagus, akhirnya terganggu tumpukan kabel dan galian. Ke depan, Dinas Bina Marga diharapkan bisa mengoordinasi berbagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang memiliki kepentingan dengan trotoar. Sanksi bagi institusi yang tak mengembalikan trotoar seperti semula pun harus jelas dan mengikat. Koalisi juga mengkritik tentang pembangunan jembatan penyeberangan orang yang tidak memperhatikan kepentingan pejalan kaki ataupun penyandang disabilitas.

Terkadang cat atau marka ’zebra cross’ sudah tidak jelas lagi. Kami, sih, kepenginnya setiap jalan bisa seperti di Sudirman dan Thamrin. Abbiyi Yahya Hakim

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.