Bonus Demografi Si Doyan Pindah

Bonus demografi bisa jadi pisau bermata dua. Dominasi usia produktif yang konon akan dipanen Indonesia pada 2020 ini bisa untung bisa juga buntung. Jika tidak dikelola dengan baik, niscaya bonus itu akan mengundang bencana demografi. Generasi milenial yan

Kompas - - HALAMAN DAPAN - (FRANSISCA ROMANA NINIK/MAWAR KUSUMA)

Bayangkan, data Badan Pusat Statistik 2015 menyebut jumlah millennials di Indonesia telah mencapai 84 juta orang atau 50 persen dari penduduk usia produktif. Seiring waktu, peran 84 juta millennials yang saat ini berusia di rentang 17-37 tahun ini semakin signifikan. ”Ciri khas yang cukup menonjol adalah bebas memilih pekerjaan dan memilih usaha yang dijalankan serta sering kali pindah-pindah pekerjaan,” kata Yoris Sebastian, penulis buku Generasi Langgas: Millenials Indonesia. MHarahap (34), misalnya, sudah enam kali berganti pekerjaan sejak lulus kuliah. Salah satu pekerjaan impian yang pernah diraih tetapi kemudian ditinggalkannya adalah menjadi calon diplomat di Kementerian Luar Negeri. Sempat ditempatkan di Afrika Selatan, ia akhirnya tak tahan dengan birokrasi pemerintahan dan memilih keluar dengan rela membayar uang penalti puluhan juta rupiah. Padahal, sebagai lulusan jurusan hubungan internasional, profesi sebagai diplomat menjadi salah satu idamannya. Dia lalu menjajal pekerjaan di media massa. Sempat bekerja di majalah terbesar di Indonesia, koran terbesar di Indonesia, hingga televisi berita terbesar di Indonesia, ia kini memilih bekerja di konsultan public relation internasional. ”Memasuki umur 30-an, harus lebih realistis. Saya perlu uang dan butuh pemasukan. Harus mulai menggabungkan apa yang saya suka dan pendapatan. Enggak mau nyewa rumah seumur hidup. Uangnya sayang. Pekerjaan saya yang sekarang ini ada- lah pekerjaan terberat. Jalan tahun keempat, penuh air mata, tenaga, emosi, jauh lebih berat. Challenging iya, tetapi saya yakin saya bisa,” kata pria bersapaan Benny yang lulus S-2 dari Belgia ini. Agar tak stres karena beban pekerjaan, Benny tetap menjalankan hobi jalan-jalan yang, menurut dia, menjadi bagian terpenting dari hidup. Dalam setahun, Bennymenabung untuk target tiga kali perjalanan besar. Tahun lalu, ia mendaki Kinabalu, bepergian ke Laos, laluMyanmar. ”Masih ada impian lain, tetapi takut enggak kabul jika diceritakan. Pengin uang lebih banyak. Lebih realistis,” tambahnya.

Lebih merdeka

Tak hanya Benny, Editor In Chief Klikdokter.com Mochammad Fadjar Wibowo (30) juga beberapa kali menjajal pekerjaan dengan usia kerja yang hanya hitungan bulan. Fadjar, antara lain, sempat bergabung sebagai peneliti di MIT Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab– South East Asia dan Quit Tobacco Indonesia Project in Collaboration with University of Arizona. Kali ini dia bertahan cukup lama—hampir setahun—di Klikdokter.com. Ia betah karena merasa pekerjaannya mampu berdampak terhadap banyak orang. Berdiri sejak 2008, Klikdokter.com membangun jembatan layanan informasi kesehatan

yang disediakan dokter dengan masyarakat luas. Ada 30 dokter yang aktif menulis dan menjawab pertanyaan masyarakat. Dalam sehari ada ratusan pertanyaan terkait kesehatan dengan jumlah kunjungan sekitar satu juta per hari. Dalam setiap bulan, ada 1.500-2.000 artikel kesehatan. Mayoritas audiens berada di kota besar, termasuk beberapa kota di pelosok Kalimantan, termasuk TKW di Australia, Hongkong, Taiwan, dan Belanda. Ketika masih menyelesaikan kuliah S-1 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Fadjar sempat bekerja sama dengan Nokia untuk menyebarkan pesan kesehatan lewat ponsel Nokia. ”Lebih strategis kalau saya berkontribusi di bidang yang berkaitan dengan sistem kesehatan. Saya mulai dari edukasi. Ke depan, ingin menjadi advisor di institusi yang bergerak di upaya pengembangan sistem kesehatan,” kata Fadjar yang meraih gelar master of science in global health di Swedia. Jika Fadjar memilih melepas profesi dokter demi pekerjaan yang sulit dideskripsikan dengan hanya satu kalimat, Chandra Bientang (27) akhirnya memilih membuat bisnis rintisan. Ia termasuk yang tidak tahan jika harus bekerja ala kantoran dengan jadwal rutin nine to five. Bagi gadis ini, pekerjaan seperti itu terasa monoton dan membosankan. Sejak mulai bekerja pada usia 24 tahun, dia sudah mencoba dua kali bekerja kantoran. Yang pertama hanya tahan tak lebih dari enam bulan dan yang kedua sampai satu tahun. ”Sejak kuliah, saya sudah kepikiran untuk kerja yang tidak terikat jam kantor. Saya melihat brosur pekerjaan dengan model berpakaian blazer hitam dan kemeja putih, rasanya bukan saya banget. Cita-cita saya jadi penulis, ingin menerbitkan buku. Jadi, harus ada waktu untuk menulis buku setelah pekerjaan selesai. Dengan kerja kantoran, rasanya tidak mungkin,” ujar Chandra, lulusan Program Studi Filsafat Universitas Indonesia ini. Akhirnya, sejak September 2015, Chandra memilih bekerja freelance sebagai copywriter di sebuah agen pemasaran digital. Dia menangani promosi usaha rintisan ” start up), seperti mem- buat promosi di media sosial, membuat konten situs web, serta mengerjakan video dan storyline. Hanya berbekal laptop dan wi-fi, dia bisa bekerja di mana pun. Dia biasa mengadakan pertemuan dengan timnya dari kafe ke kafe. Meski nyaman dengan apa yang dikerjakan sekarang, Chandra tidak akan selamanya bekerja freelance. Setelah rencana menikah pada pertengahan tahun ini, dia dan calon suaminya akan membuka usaha sendiri. Menurut dia, usaha rintisan saat ini memiliki banyak peluang. ”Kami pilih usaha sendiri. Lebih merdeka,” tuturnya.

Pindah kerja

Kegemaran generasi millenials gonta-ganti pekerjaan tecermin dari hasil riset terkait generasi milenial pada kurun Agustus 2015 hingga Januari 2017 yang digelar platform komunitas daring untuk berbagi informasi seputar dunia kerja dan perusahaan, Jobplanet.com. Salah satu hasil riset dengan total lebih dari 90.000 responden memperkuat stigma negatif bahwa generasi Y doyan pindah kerja. Chief Product Officer Jobplanet Kemas Antonius dan Publict Relations Manager Restituta Ajeng A memaparkan hasil riset bahwa 76,8 persen dari generasi Y ternyata memilih keluar dari pekerjaan setelah bekerja 1-2 tahun. Dibandingkan dengan generasi X, generasi milenial memiliki tingkat engagement yang lebih rendah terhadap pekerjaan mereka. Kebanyakan dari mereka hanya bertahan 1-2 tahun di tempat kerja sebelum memutuskan berpindah kerja. Mereka terutama karyawan berusia 21-25 tahun. ”Dalam bekerja, mereka fokus mempelajari hal baru dan memperkaya pengalaman. Mereka pun tak segan berpindah kerja ketika merasa sudah tak mendapatkan tantangan atau pelajaran baru di tempat kerja mereka,” tambah Kemas. Psikolog Ajeng Raviando menambahkan, generasi milenial adalah generasi luar biasa, tetapi perlu disiapkan dengan berbagai keterampilan saat memasuki dunia kerja sehingga mampu memotivasi mereka untuk memanfaatkan potensi. Keunggulan generasi milenial antara lain sangat percaya diri, multitasking, dan terbuka pada perubahan.

KOMPAS/ DWI AS SETIANINGSIH

Lingkungan kerja ruang terbuka sengaja diciptakan sebagai salah satu cara untuk mengakomodasi cara kerja generasi langgas yang lebih bersifat egaliter. Pemandangan itu terlihat di Kantor Telkomsel Smart Office di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.