Jangan Batalkan Pembelian dari PT DI

Kompas - - POLITIK & HUKUM - (SEM)

BANDUNG, KOMPAS — Polemik pembelian helikopter Agusta Westland 101 diharapkan tak membuat pemerintah membatalka­n kontrak pembelian 16 helikopter EC 725 Cougar buatan PT Dirgantara Indonesia. Pembatalan akan merugikan dan mencoreng nama baik PT DI di dunia industri penerbanga­n internasio­nal. Permintaan ini mengemuka dalam kunjungan Tim Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ke PT DI di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/2). Kunjungan Tim KKIP itu ingin meninjau secara langsung kemampuan PT DI memproduks­i EC 725 Cougar. ”Jangan sampai karena polemik AW101 ini mengganggu proses bisnis PT DI. PT DI sudah belanja untuk produksi hingga pemelihara­an, jangan sampai dibuat rugi,” kata Ketua Pelaksana KKIP Laksamana (Purn) Sumardjono. Sebelumnya, pemerintah dan PT DI menyepakat­i pembelian 16 helikopter EC 725 Cougar. Dua unit sudah dikirim 25 November 2016. Empat unit lainnya sudah rampung meski belum ada ke- putusan kapan pengiriman akan dilakukan. Sementara 10 unit lagi masih dalam proses pembuatan. Sumardjono berpendapa­t, heli EC 725 Cougar buatan PT DI sebenarnya punya kemampuan setara dengan AgustaWest­land 101 (AW 101). Dengan demikian, apabila spesifikas­i di antara kedua heli itu tidak terlalu jauh, sebaiknya TNI AUtidak membeli AW 101. ”Kita perlu mendukung dan mengembang­kan industri pertahanan dalam negeri,” ujar Sumardjono. Kepala Bidang Transfer of Technology & Ofset KKIP Rachmad Lubis juga mengingatk­an Kementeria­n Pertahanan bahwa pembelian 16 helikopter EC 725 Cougar itu sesuai dengan rencana strategis pertahanan. EC 725 Cougar merupakan helikopter kapasitas dua mesin yang mampu mengangkut beban hingga 11 ton dengan kemampuan jelajah jarak jauh. Heli ini memiliki kapasitas ruang yang mampu mengakomod­asi berbagai pengaturan tempat duduk hingga 29 anggota pasukan ditambah 2 orang sebagai pilot dan kopilot. Kepala Divisi Rekayasa Ma- nufaktur Direktorat Produksi PT DI Mukhamad Robiawan mengemukak­an, EC 725 Cougar unggul dibandingk­an AW101 dalam beberapa spesifikas­i. Dalam hal pendaratan darurat di perairan, sistem pelampung Cougar dapat mengembang sebelum heli mendarat di air. Berbeda dengan AW 101 yang sistem pelampungn­ya baru akan terbuka setelah badan heli menghantam air. ”Selain itu, untuk kedap suara di dalam kabin, Cougar relatif lebih bagus,” lanjut Robiawan. Sebelumnya, Direktur Niaga dan Restruktur­isasi PT DI Budiman Saleh mengemukak­an, harga jual EC 725 Cougar sekitar 30 juta euro atau lebih kurang Rp 420 miliar. Harga tersebut relatif lebih murah dibandingk­an heli AW 101 yang diperkirak­an seharga 55 juta dollar AS atau Rp 761 miliar ( Kompas, 28/12/2016). Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembang­an PT DI Andi Alisjahban­a menyebutka­n, apabila PT DI diminta untuk memproduks­i helikopter AW101, hal itu memerlukan investasi besar, mulai dari sarana produksi hingga kemampuan sumber daya manusia.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Helikopter tempur EC 725 Cougar buatan PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, yang sudah lengkap dan siap diterbangk­an, Rabu (22/2). Selain kemampuan tempur, helikopter dengan spesifikas­i setara helikopter AgustaWest­land AW 101 ini juga memiliki...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.