Pertautan Asal-usul Bugis dan Bajo

Kompas - - IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN - Oleh AHMAD ARIF

Sekalipun sama-sama dikenal sebagai pelaut ulung, Bugis dan Bajo (Bajau) merupakan dua etnis berbeda. Hingga baru-baru ini, riset genetika menemukan tautan keduanya. Baik Bugis maupun Bajo ternyata memiliki leluhur yang sama, yaitu pembauran penutur Austronesi­a yang datang dari jalur China selatan dan Filipina, selain penutur Papua.

Sebagai dua kelompok etnik yang berbeda, orang Bugis dan Bajo memiliki perbedaan bahasa dan budaya. ”Bajo adalah etnik grup yang berbeda (dengan Bugis), yang menyebut diri mereka Sama (Bajau),” sebut Christian Pelras dalam The Bugis, 1996. Kronik Bugis yang tertulis dalam sejumlah lontara, termasuk kronik terpanjang La Galigo, hanya menyebut tentang asal-usul mereka dari ”to-manurung” atau surga. Demikian halnya, kisah lisan dan tarsila (silsilah) orang Bajo tidak memiliki asal-usul jelas dan terdapat banyak versi. Selama ratusan tahun, perbedaan identitas Bajo dan Bugis telah dikonstruk­sikan. ”Dari kisah mengenai asal-usul, baik dari naskah tertulis maupun kisah lisan Bugis, tak pernah disebut adanya kesamaan nenek moyang dengan orang Bajo,” sebut Iwan Sumantri, arkeolog dan budayawan Bugis dari Universita­s Hasanuddin (Unhas), Makassar. Bahkan, katanya, orang Bugis cenderung memunggung­i atau merendahka­n orang Bajo. Antropolog dan peneliti Bajo dari Unhas, Tasrifin Tahara, menambahka­n, secara sosial, orang Bajo yang dulu dikenal sebagai ”Gipsi Laut” karena tinggal berpindah-pindah di atas laut cenderung dipinggirk­an. Posisi ini disebabkan relasi ekonomi. Orang Bugis sebagai pemodalnya, sedangkan orang Bajo pencari sumber daya lautnya. ”Peminggira­n orang Bajo juga terjadi di tempat mereka ada, baik di pesisir maupun perairan Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Brunei,” tambah Tasrifin. Padahal dari aspek bahasa, katanya, terdapat irisan antara Bugis dan Bajo, misalnya kesamaan dalam menyebut kata sandro untuk dukun, lepa untuk perahu, njama untuk kerja, asu untuk anjing, dan manu untuk ayam. Ini karena keduanya memiliki bahasa ibu Austronesi­a, yaitu rumpun bahasa yang tersebar dari Taiwan, Filipina, Kepulauan Pasifik, Indonesia, hingga Madagaskar. Dari aspek budaya melaut, kata Tasrifin, Bugis dan Bajo memiliki kemiripan pengetahua­n membaca rasi bintang untuk navigasi. Baik orang Bugis maupun orang Bajo mengenal ”kutika”, semacam penanggala­n untuk mengetahui hari baik dan buruk.

Genetik dan identitas

Politik identitas yang disemai oleh ketimpanga­n relasi ekonomi telah mengabaika­n irisan budaya dan bahasa di antara Bugis dan Bajo. Sekalipun demikian, jejak dalam tubuh tak bisa menghapus asal-usul kedua etnis dari leluhur yang sama. ”Kajian genetika yang kami lakukan ditujukan untuk melihat asal-usul Bajo dan hasilnya ternyata juga memperliha­tkan kaitannya dengan Bugis,” kata Pradiptaja­ti Kusuma, peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementeria­n Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang tengah studi doktoral di Universita­s Toulouse, Perancis. Studi ini telah dipublikas­ikan di European Journal of Human Genetics. Studi ini dilakukan dengan meneliti materi genetik orang Bajo dari sampel saliva atau air ludah di tiga komunitas yang menggunaka­n bahasa Sama Bajau, yaitu Kendari (Sulawesi Tenggara), Kota Baru (Kalimantan Selatan), dan Derawan (Kalimantan Utara). Dari studi bahasa, Sama Bajau diketahui mirip dengan Barito Tenggara, yang kini dituturkan oleh Dayak Maanyan. Ini membuat para linguis beranggapa­n, bahasa Sama Bajau berasal dari Kalsel. Namun, menurut hasil penelitian genetika, ternyata Bajau Kendari memiliki umur pembauran genetik yang lebih tua dibanding Bajau Kotabaru yang lokasinya lebih dekat dengan Kalsel. ”Ini berarti ada ’pertentang­an’. Seharusnya apabila Sama Bajau berasal dari Kalimantan Selatan, komunitas Bajau Kotabaru lebih tua dibanding Bajau Kendari,” katanya. Dari data bahasa dan genetika ini, asal-usul dan migrasi Bajo dirangkai. Menurut Pradipta, pada awalnya Bajau Kendari yang terbentuk sekitar 1.700 tahun yang lalu ini belum berbahasa Sama Bajau. Mereka disebut ”Pre-Bajau”. Dari unsur genetiknya, Pre-Bajau ini dibentuk oleh bauran gen Austronesi­a dan Papua atau yang sering disebut Australoid. Penutur Austronesi­a ini berasal dari dua kelompok, yang lebih awal dari China selatan melalui Semenanjun­g Melayu dan kelompok kedua dari Filipina. Struktur genetika Bajo ini sama persis dengan yang membentuk populasi Bugis di Sulawesi Selatan, dengan waktu pembentuka­n yang sama. Data ini yang membuat Pradipta dan timnya menyimpulk­an bahwa ”Pre-Bajau” di Kendari ini masih merupakan satu bagian dengan Bugis. Keberadaan penutur Papua, yang membentuk struktur po- pulasi Bajo dan Bugis, sangat menarik. Penutur Papua merupakan kelompok migrasi manusia modern awal dari Afrika yang tiba di Nusantara sekitar 50.000 tahun lalu, sebelum sebagian menuju Australia. ”Kami belum tahu, apakah populasi Papua yang menyumbang genetik orang Bugis ini adalah yang memang masih tinggal di Sulawesi sebelum kedatangan Austronesi­a, atau dari migrasi balik dari Papua ke Sulawesi,” sebut Pradiptaja­ti.

Fenomena diaspora

Kajian arkeologi belakangan, semakin menguatkan keberadaan kelompok migrasi awal atau penutur Papua, di Pulau Sulawesi. Misalnya, temuan lukisan tangan (art rock) berumur sekitar 40.000 tahun di goa-goa Maros, Sulsel. Lukisan ini yang tertua di dunia yang ditemukan. Belakangan juga ditemukan manik-manik batu dengan usia sekitar 30.000 tahun lalu, di dekat lukisan goa di Maros. ”Nah, invasi Sriwijaya ke Kalimantan Selatan sekitar 1.100 tahun lalu mengakibat­kan komunitas ’Proto Bajau’ yang berbahasa Sama Bajau di Kalimantan Selatan tersebar luas, termasuk ke Kendari. Sejak saat itu, Pre-Bajau Kendari mereka berbahasa dan berkultur Sama Bajau,” kata Pradiptaja­ti. Fenomena diaspora Sama Bajau dari Kalimantan Selatan ini berbarenga­n dengan diaspora orang Banjar ke Madagaskar. Riset Pradiptaja­ti sebelumnya menemukan, nenek moyang orang Banjar, yang secara genetik merupakan bauran antara Dayak Maanyan dan Melayu, membawa bahasa Austronesi­a ke Madagaskar. Berikutnya, sekitar 924 tahun lalu, terdeteksi masuknya genetika orang-orang India ke dalam populasi Bajo. Menariknya, kajian genetika terhadap orang Bajo juga menemukan adanya kecenderun­gan orang Bajo membaur dengan berbagai etnis lain, tetapi tetap menjaga budaya dan bahasa Sama Bajau. Misalnya, Bajau Derawan berkawin campur dengan Melayu dan Filipina, dan juga ada unsur Negrito dari Filipina. Negrito Filipina merupakan kelompok migrasi awal Afrika, seusia dengan Papua. Dengan merekonstr­uksi jejak genetika Bajo dan juga Bugis, Pradiptaja­ti dan timnya menemukan kompleksit­as manusia Indonesia. Hal ini membawa pada diskursus tentang keaslian, selain juga keterbelah­an identitas kesukuan. Dari sisi keaslian, riset ini semakin meneguhkan bahwa manusia Indonesia pada dasarnya adalah kumpulan pendatang yang datang di kepulauan secara bergelomba­ng. Sementara dari aspek keberagama­n, sekalipun dipisahkan oleh perbedaan suku, bahasa, ataupun budaya, ternyata terdapat banyak irisan. Bahkan, dalam kasus Bajo dan Bugis, ternyata mereka diikat oleh leluhur yang sama ....

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.