Potensi Bocor Diperkirakan 200.000 Ton

Kompas - - EKONOMI - (FER)

JAKARTA, KOMPAS — Potensi perembesan gula rafinasi ke pasar atau konsumen langsung diperkirakan mencapai 200.000 ton dalam setahun. Untuk itu, Kementerian Perdagangan membuat regulasi perdagangan gula rafinasi melalui pasar lelang untuk mencegah perembesan. Regulasi itu dibuat juga untuk menciptakan keadilan bagi pelaku usaha kecil dan menengah dalam memperoleh gula rafinasi. Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Kamis (15/6). ”Potensi kebocoran gula rafinasi itu diperkirakan 200.000 ton sampai 300.000 ton per tahun,” kata Enggartiasto. Kebocoran dapat terjadi karena selama ini tidak diketahui secara transparan berapa volume produksi gula rafinasi dan kebutuhan industri pengguna gula rafinasi. Karena itu, pemerintah mengatur perdagangan gula rafinasi melalui pasar lelang. ”Jika dalam pelaksanaan ada kekurangan, nanti ada evaluasi dan perbaikan,” kata Enggartiasto. Ketua Umum Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) Arum Sabil menilai, regulasi perdagangan gula rafinasi melalui pasar lelang sudah tepat. ”Kalau ada rembesan gula rafinasi, jelas siapa penjual gula rafinasi dan siapa pembeli gula rafinasi. Tidak bisa lempar batu sembunyi tangan,” katanya. Arum mengatakan, keuntungan produsen gula rafinasi sangat tinggi sehingga ada kasus kebocoran gula rafinasi ke pasar. Biaya produksi gula rafinasi dari bahan baku gula mentah impor kurang dari Rp 8.000 per kilogram. Harga jual gula rafinasi di pasar mencapai Rp 11.000 per kilogram. Kebutuhan gula rafinasi untuk industri diperkirakan hanya mencapai 2,3 juta ton per tahun. Perkiraan itu didasarkan pada kebutuhan gula kristal putih atau gula konsumsi per kapita per tahun, yaitu 9 kilogram per kapita per tahun. Dengan asumsi jumlah penduduk 255 juta, kebutuhan gula konsumsi mencapai 2,3 juta ton.

Ciptakan keadilan

Enggartiasto menambahkan, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) selama ini membeli gula rafinasi di tingkat distributor atau subdistributor dengan harga lebih tinggi, yaitu Rp 13.500 per kilogram. Harga itu berbeda dengan harga gula rafinasi yang dibeli pelaku usaha industri besar dalam jumlah besar sekitar Rp 8.500 per kilogram. Melalui sistem lelang, lanjut Enggartiasto, pelaku UKM dapat mengikuti lelang dan mendapatkan harga lebih murah. ”Harga dan transaksi menjadi lebih transparan. Siapa penjual, siapa pembeli, berapa besar gula rafinasi yang diperjualbelikan,” katanya. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan, produsen gula rafinasi yang telah membuat kontrak penjualan jangka panjang dengan industri pengguna diminta mendaftarkan kontrak kepada lembaga lelang gula rafinasi. Saat ini sudah ditetapkan satu perusahaan penyelenggara lelang, yaitu PT Pasar Komoditas Jakarta. Pembeli di dalam pasar lelang saat ini mencapai 40 perusahaan. ”Nanti, tentu akan terus bertambah,” katanya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.