Koleksi Dikonservasi Sebelum Dipamerkan

Kompas - - PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN - (ABK)

JAKARTA, KOMPAS — Ahli konservasi dan restorasi lukisan asal Italia, Michaela Anselmini, mengonservasi sekaligus merestorasi 24 karya lukisan dan sketsa maestro S Sudjojono serta perempuan pelukis asal Indonesia, Emiria Sunassa, sebelum koleksi tersebut dibawa ke pameran seni internasional Europalia di Eropa. Proses konservasi dan restorasi sudah berlangsung sejak 15 Agustus di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Sebanyak 24 karya tersebut terdiri dari 20 sketsa, 2 lukisan cat air, dan 2 lukisan cat minyak. Beberapa lukisan tua yang menjalani perawatan itu antara lain lukisan ”Tjap Go Meh” karya Sudjojono tahun 1940 koleksi Galeri Nasional Indonesia dan lukisan ”Kembang Kemboja di Bali” karya Emiria tahun 1958 koleksi Oei Hong Djien. Jumat (8/9), Michaela membersihkan beberapa sketsa Sudjojono menggunakan cairan eter. Beberapa bagian sketsa yang mulai sobek, berjamur, dan kotor diperbaiki, kemudian dibersihkan. ”Sketsa-sketsa ini nantinya akan ditampilkan di vitrin-vitrin (kotak-kotak kaca) dengan suhu udara sekitar 20 derajat celsius, tingkat kelembaban sekitar 55 persen, dan pencahayaan maksimal 50 lux,” kata Michaela. Khusus sketsa-sketsa yang rusak karena faktor usia dan bukan karena ternoda kotoran atau jamur, Michaela membiarkannya. Agar tampil menarik saat dipamerkan di dalam vitrin, sketsa tersebut akan disusun dengan bingkai-bingkai khusus. Pada lukisan ”Kembang Kemboja di Bali”, Michaela melepas kanvas lukisan dari bingkai asli, kemudian menarik kanvas menggunakan kunci-kunci kayu, membersihkannya, serta membenahi beberapa kerusakan kecil pada goresan cat di bagian pinggir lukisan. ”Bingkai saya bersihkan, lalu saya beri antirayap,” katanya.

Peti khusus

Semua koleksi itu menurut rencana dikirim ke Eropa menggunakan climate crate, peti khusus dengan pengatur suhu, yang didatangkan dari Jerman. Minggu depan, peti pengangkut koleksi tersebut akan tiba di Jakarta untuk selanjutnya digunakan mengangkut semua karya menggunakan pesawat ke Eropa. Karya-karya itu merupakan bagian dari koleksi seni rupa yang akan dipamerkan dalam pameran bertema ”Power and Other Things” di Festival Seni Internasional Europalia, 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018, di 36 kota di delapan negara Eropa. Pameran ini akan menampilkan karya dari 21 perupa Indonesia dan perupa Barat, mulai dari periode tahun 1835 hingga sekarang. Charles Esche, salah satu kurator pameran ini, dalam keterangan resmi Europalia mengungkapkan, pameran diawali dengan karya tiga perupa abad ke-19, yakni Raden Saleh, Jan Toorop, dan Emiria Sunassa. ”Raden Saleh adalah pelukis pertama Indonesia yang meninggalkan negaranya dan menerima pendidikan Eropa di Belanda. Ia akhirnya kembali ke Indonesia untuk memahami identitas gandanya. Sementara itu, Jon Toorop adalah pelukis kelahiran Indonesia yang pindah dan menetap di Belanda, tetapi terus berhubungan dengan negaranya. Kemudian Emiria, setelah tinggal sebentar di Brussels, ia menghabiskan seluruh hidupnya di Indonesia, memimpikan pendidikan yang lebih maju di Belanda. Dengan cara berbeda, seniman-seniman itu hidup dalam ketegangan kolonialisme, baik di Indonesia maupun di luar negeri,” paparnya. Riksa Afiaty, kurator lain, menambahkan, dalam pameran ini, para perupa merefleksikan bagaimana pemikiran kolonial membentuk wajah modern dan pascamodern Indonesia sampai sekarang. ”Sangat menarik melihat bagaimana generasi saya mulai menyadari konsekuensi dari kolonialisme. Semua perupa yang kami pilih membuat karya dengan tema-tema kolonialisme dan menunjukkan bagaimana kebenaran brutalnya berpengaruh sampai sekarang,” ucapnya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Menjelang Europalia 2017, praktisi konservasi dan restorasi seni dari Italia, Michaela Anselmini, merestorasi sketsa karya S Sudjojono di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (8/9). Sketsa tersebut nantinya akan dipamerkan dalam Europalia Arts...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.