Jumlah Tersangka Berstatus Pelajar Meningkat

Kompas - - HALAMAN DAPAN - (WAD/WIN/ADY/ESA)

JAKARTA, KOMPAS — Jumlah tersangka narkoba di kalangan anak dan remaja berusia kurang dari 15 tahun serta 16-19 tahun meningkat dalam dua tahun terakhir. Berdasarka­n data Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri yang diolah dari kasus-kasus yang ditangani semua kepolisian daerah (polda) dan Direktorat Tindak Pidana Narkoba, pada 2015 jumlah tersangka narkoba berusia kurang dari 15 tahun hanya 69 orang. Namun, pada 2016 jumlah itu meningkat menjadi 114 orang dan sampai Juli 2017 sebanyak 67 orang. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Eko Daniyanto, Jumat (29/9), mengatakan, tersangka narkoba berusia 16-19 tahun pada 2015 sebanyak 2.117 orang, pada 2016 ada 2.047 orang, dan sampai Juli 2017 sebanyak 1.521 orang. Eko menambahka­n, berdasarka­n jenis pekerjaan, pada 2015 tercatat 855 pelajar dan 932 mahasiswa menjadi tersangka kasus narkoba dari total 50.178 kasus. Pada 2016 terdapat 1.075 mahasiswa dan 1.276 pelajar menjadi tersangka dari total 60.387 kasus. Sampai Juli 2017, terdapat 795 mahasiswa dan 656 pelajar menjadi tersangka dari total 36.913 kasus.

Surabaya awasi jajanan

Dari Surabaya, Jawa Timur, diwartakan, sejumlah upaya dilakukan pengurus SD Negeri Kaliasin 1 untuk mencegah masuknya narkoba ke lingkungan sekolah, di antaranya dengan mengawasi jajanan di sekolah. Koordinato­r Urusan Umum SD Negeri Kaliasin 1 Sudiono mengatakan, para siswa dan orangtua siswa dianjurkan membawa bekal sendiri. Imbauan ini terus disosialis­asikan sebagai salah satu upaya agar siswa tidak jajan di luar sekolah. ”Dengan membawa bekal sendiri, siswa terhindar dari jajanan yang isinya mungkin tidak bisa dipertangg­ungjawabka­n, seperti narkoba ,” ujar Sudiono, Jumat. Pihaknya memastikan kawasan di depan sekolah steril dari

pedagang. Setiap waktu istirahat, gerbang sekolah selalu ditutup agar siswa tidak mencari jajanan ke luar sekolah. Ada tujuh penjual makanan dan minuman di sekolah tersebut. Asal muasal bahan jajanan dan kebersihan­nya selalu diperiksa pengelola kantin. Sudiono mengatakan, promosi produk jajanan di sekolah tidak diperboleh­kan, baik merek terkenal maupun tidak terkenal, untuk menjaga keamanan dan kenyamanan siswa. Putri (46), orangtua siswa SDN Kaliasin 1, mengatakan, keluarga berperan dalam mengedukas­i anak agar terhindar dari narkoba. ”Saya selalu ingatkan anak saya untuk tidak menerima makanan dari orang tak dikenal,” tuturnya. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharin­i mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menertibka­n penjual jajanan agar tidak lagi berjualan di depan sekolah sebagai upaya pencegahan dini penjualan makanan yang mengandung bahan berbahaya ataupun narkoba. Pemkot Surabaya juga bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Surabaya dalam menyosiali­sasikan bahaya narkoba di tingkat SD dan SMP.

Sosialisas­i di Pontianak

Dari Pontianak dilaporkan, Polda Kalimantan Barat (Kalbar) berupaya mencegah regenerasi pencandu narkoba dengan menumbuhka­n kesadaran pelajar tentang bahaya penyalahgu­naan narkoba. Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Kalbar Ajun Komisaris Besar Nanang Purnomo mengatakan, Polda Kalbar intensif menyosiali­sasikan tentang bahaya narkoba ke sekolah-sekolah di Pontianak agar remaja tidak mudah dibujuk pengedar. ”Kami minta guru dan orangtua murid bersikap proaktif. Jika ada orang yang mencurigak­an, segera lapor ke polisi,” kata Nanang. Kepala Polda Kalbar Irjen Erwin Triwanto mengharapk­an para pemuka agama saat memberikan ceramah agar mengingatk­an generasi muda dan masyarakat tentang bahaya narkoba serta obat-obatan terlarang. Kepala BNN Provinsi Kalbar Brigjen (Pol) Nasrullah mengatakan, jumlah pencandu di Kalbar sekitar 65.000 orang. Untuk mencegah regenerasi pencandu, BNN Kalbar secara intensif memperkuat kelompok masyarakat yang mampu mengampany­ekan antinarkob­a.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.