200.000 Hektar Lahan di Jambi Dipetakan

Kompas - - IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN - (ICH)

JAKARTA, KOMPAS — Pemetaan berbasis laser atau Lidar untuk tujuan restorasi gambut mulai dikerjakan di Jambi. Kegiatan itu dikerjakan di Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur seluas 200.000 hektar. Proyek ini akan berjalan mulai Sabtu (25/11) hingga akhir Desember 2017. ”Kami menargetkan pengolahan data selesai akhir Januari (2018),” kata Achmad Adhitya, Partnership Manager Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-I), Kamis, di Jakarta. Pemetaan itu untuk mendukung kerja Badan Restorasi Gambut (BRG) yang mendapat amanat untuk merestorasi 2 juta ha hingga 2019. Selain MCA-I, pemetaan Lidar digarap BRG lewat World Resources Institute. Sejauh ini enam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dipetakan BRG. MCA-I juga menyelesaikan pemetaan Lidar di Kalimantan Barat 50.000 ha sejak awal November 2017. Kini sedang tahap pengolahan data. Pemetaan itu dilakukan PT Asi Pudjiastuti Geosurvey (APG) yang juga mengerjakan pemetaan serupa di Sumatera Selatan. Direksi APG Iwan Qodar mengatakan, hasil pemetaan Lidar bisa untuk menentukan titik konstruksi sekat kanal ataupun rencana vegetasi di lahan gambut. Peta Lidar bisa menghasilkan data peta berskala detail hingga 1 : 1.000 yang mendukung pekerjaan teknis, seperti penentuan lokasi pemasangan sekat kanal. Melalui peta Lidar, hutan gambut berupa dataran bisa diketahui beda ketinggian sehingga berguna untuk teknik pembasahan. Adhitya memaparkan, hasil pemetaan Lidar di Jambi dan Kalbar nantinya bisa dimanfaatkan institusi lain yang tertarik mengerjakan restorasi. Sebab, MCA-I hanya mengerjakan sebagian kecil area itu. Januari nanti, ia akan membuka data, termasuk peta Lidar, bagi pihak yang ingin membantu restorasi. ”MCA-Indonesia siap mendukung restorasi 2 juta ha lahan gambut terbakar sesuai target BRG,” ucapnya. Area revegetasi hanya seluas 250 ha dan kini baru selesai 130 ha di hutan lindung gambut Londerang dan Taman Hutan Raya Berbak di Jambi. Revegetasi memakai tanaman lokal, seperti jelutung, buah, durian, dan sagu. Untuk pembasahan gambut, MCA-I hanya bisa menjangkau 16.000 ha karena dana dan waktu terbatas. MCA-I juga mengenalkan restorasi terintegrasi. Artinya, proyek tak sekadar pemetaan, tapi juga pengerjaan sekat kanal dan pembasahan kembali. ”Sejak 2015 kami menyadarkan warga dan Agustus 2017 mulai pengerjaan fisik,” ujarnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.