Kadang Perlu Ditampar

Bersentuhan dengan buku dan dongeng horor sejak kecil membentuk Intan Paramaditha (38) menjadi penulis yang memilih sastra gotik sebagai bentuk perlawanan. Dia secara sadar menyebut dirinya sebagai feminis dan mengobarkan kesadaran lewat karya-karya fiksi

Kompas - - GAYA HIDUP - OLEH MOHAMMAD HILMI FAIQ

Intan sehari-hari berada di Sydney, Australia, mengajar kajian media dan film di Macquarie University. Akan tetapi, hari-hari ini hingga akhir Januari tahun depan, dia berada di Tanah Air karena kampusnya sedang libur. ”Libur cukup panjang, Desember sampai Februari. Jadi, saya pakai meluncurkan buku di Jakarta dan Yogyakarta,” kata perempuan kelahiran Bandung ini mengenai novel barunya, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (2016). Novel itu, antara lain, berisi renungan serta internalisasi nilai setelah Intan berinteraksi dengan banyak orang selama masa gentayangan. Intan meninggalkan Tanah Air sejak 12 tahun lalu dan melanglang buana. Dia pernah tinggal di San Diego, Amsterdam, New York, dan sekarang di Sydney. Di San Diego, dia me- ngejar gelar master of arts, literatures in English, di University of California (2005-2007), lalu geser ke New York University untuk menyelesaikan program doktoralnya di bidang cinema studies. Pada masa-masa itu, dia banyak bertemu dengan teman setanah air yang secara ilegal tinggal di Amerika. Mereka ini masih memegang gagasan dan narasi tentang Indonesia, tetapi gagasan itu nyangkut pada era 1990-an. Mereka kesulitan untuk bisa nyambung dengan orang lokal, sesulit nyambung dengan budaya Indonesia yang terus berubah menjadi seperti sekarang. Akhirnya, mereka hanya bergaul dengan sesama mereka. ”Posisinya in between terus. Banyak sekali subyek global seperti ini,” kata Intan. Dia juga mengamati bagaimana para pencari suaka dan pengungsi melintasi benua untuk memperoleh tempat baru. Mereka yang tidak bisa kembali ke negara asalnya karena berbagai alasan, tetapi juga tidak bisa masuk secara utuh ke dalam budaya di negara tujuan. Subyek-subyek itulah yang disebut Intan sebagai manusia gentayangan. Intan sendiri menyebut masa-masa meninggalkan Tanah Air dan berkenalan itu sebagai masa gentayangan. Akan tetapi, justru itu menjadi masa paling indah selama hidupnya. ”Saya merasa semakin tua semakin menikmati diri saya. Sebab, semakin tahu dan semakin tidak bisa ditolol-tololin. Semakin punya kesadaran.” Oleh karena itu, Intan tidak sependapat dengan anggapan bahwa masa indah itu masa SMA. Sebab, masa-masa SMA adalah masa tanpa kesadaran kritis. ”Itu masa goblok. Masa tolol. Penginnya berteman dengan teman-teman populer, peer pressure (tekanan teman sebaya), aduh gak mau deh balik ke masa-masa itu. Aspirasi-aspirasi tidak penting, pengin pacaran dengan cowok terkenal. Tidak penting banget. Saya suka bilang, waduh reuni, males, he-he-he.”

Cerita gelap

Gentayangan merupakan buku kedua yang ditulis seorang diri oleh Intan. Tahun 2005, dia menulis kumpulan cerpen Sihir Perempuan. Di antara itu, pada tahun 2010, bersama dengan Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad, Intan menulis buku Kumpulan Budak Setan, sebuah karya tafsir terhadap karya-karya Abdullah Harahap, penulis horor populer yang produktif pada era 1970-1980-an. Intan termasuk yang menyukai karya-karya Abdullah Harahap. Pada masa SMA, Intan sangat akrab dengan bacaan-bacaan horor karya Edgar Allan Poe, perintis karya detektif dan kriminal di Amerika, serta O Henry, penulis cerita pendek yang sering menampilkan ending mengejutkan. Bagi Intan, cerita-cerita yang ditulis mereka ini menarik. ”Gelap. Ada misterinya, dan saya jadi mikir.” Pengaruh bacaan-bacaan itu terbawa hingga saat dia kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Indonesia. Makanya, ketika menulis skripsi, dia menjadikan Frankenstein karya Mary Shelley sebagai obyek kajian. Novel gotik ini bercerita tentang seorang ilmuwan yang terobsesi menciptakan atau menghidupkan manusia dari potongan-potongan tubuh. Frankenstein menjadi karya agung yang menginspirasi sutradara teater, film, ataupun penulis. Isi novel ini digambarkan dengan bagus oleh grup metal Helloween dalam lagu ”Dr Stein”. Yang menarik bagi Intan, Mary Shelly menggunakan horor untuk mengkritik ideologi di zaman romantik. Horor punya potensinya. ”Selama ini, horor berada di ranah tidak penting dan buat senang-senang atau menakut-nakuti. Dari Mary Shelly, banyak yang bisa dilakukan. Horor punya potensi mengganggu. Horor itu menyajikan realitas yang normal dan nyaman, terus ada unsur lain. Unsur ini mengganggu. Lalu, unsur ini membuat kita bertanya-tanya, realitas yang saya percaya itu apakah memang benar begini,” kata Intan menjabarkan kerangka berpikirnya tentang horor. Nah, Intan menilai, gangguan di dalam horor itu justru menimbulkan potensi subversif. Seperti juga kritik feminis. Kritik feminis harus mengganggu kemapanan patriarkis. Jadi cocok. Ia mengajak orang untuk berpikir kritis, terutama para kelas menengah. Selama ini ada kesan bahwa kekerasan terhadap perempuan hanya terjadi di kelas bawah. Lewat Sihir Perempuan, Intan mengajak kelas menengah untuk merenung, apakah benar posisinya sudah nyaman. Mereka harus berpikir tentang batas-batas yang melingkupi. Mereka harus kritis. Cara Intan mengajak berpikir kritis itu lewat cerita-cerita gelap tersebut. Ia tak ingin menghasilkan karya yang sekadar untuk bersenang-senang, motivasional, atau kalimat-kalimat bijak. Sastra gotik menjadi pilihannya. ”Orang tidak perlu terus dimotivasi. Kadang-kadang perlu ditampar juga,” ungkap Intan soal karya-karyanya yang sendu dan gelap itu.

Fondasi dari ibu

Intan memosisikan diri sebagai feminis, sebuah sikap yang berani dan kukuh. Karya-karyanya selalu berisi pesan-pesan perlawanan terhadap patriarkis. Ini banyak dipengaruhi oleh sikap ibunya. Di mata Intan, ibunya seorang yang resisten, hidup di tengah kungkungan budaya patriarkis dan mencoba membebaskan diri. Dia sering mengungkapkan sikapnya dalam bentuk kemarahan yang tak dipahami Intan kecil. Baru belakangan Intan memahami itu sebagai frustrasi terhadap lingkungannya karena aspirasi yang tak sampai. Dari situlah Intan terdorong belajar feminisme. Intan juga melihat ibunya sebagai sosok yang cerdas. Dia selalu memberi Intan buku-buku dongeng yang kelak turut memengaruhi sikap Intan. Intan kecil membaca dengan lahap dongeng-dongeng karangan Grimm bersaudara, seperti Snow White, Hansel and Gretel, dan Cinderella. Intan juga membaca karya-karya Hans Christian Andersen, seperti The Little Mermaid, Thumbelina, The Princess and the Pea, dan Frozen. ”Saya juga membaca Agatha Christie.” Dia dan ibunya kerap membaca bersama, bertukar buku, dilanjutkan dengan diskusi. Kelas IV SD, Intan mulai tertarik menulis dan diberi hadiah mesin tik oleh ibunya. ”Sebenarnya sih biar saya diam, tidak cerewet,” kata Intan, yang setahun kemudian mulai ngetik dengan komputer dan karangannya dimuat di majalah Bobo. Kegemaran membaca itu semakin mendorongnya untuk menjadi penulis. Meskipun pernah bercita-cita menjadi perancang busana, obsesi itu terkubur ketika dia kuliah dan berinteraksi dengan Melani Budianta, seorang akademisi, intelektual, dan aktivis yang cerdas dan vokal. Di mata Intan, Melani adalah sosok yang berbeda dibandingkan akademisi kebanyakan. ”Kalau akademisi kayak gitu (Melani), saya mau kayak dia. Kalau tidak kenal dia, saya mungkin enggak akan ambil Phd.” Dari dua perempuan itu dan bacaan-bacaannya, Intan belajar ”menampar”. Bacalah Sihir Perempuan atau Gentayangan, barangkali tamparan Intan juga mengenai Anda.

FOTO-FOTO: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.