Partisipasi Publik Topang Pembangunan

Kompas - - PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN - (VDL)

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia secara kultural memiliki modal sosial berupa jiwa gotong royong. Hal itu terbukti dengan partisipasi aktif masyarakat sipil dalam membantu pemerintah mengatasi berbagai masalah, termasuk di bidang pendidikan dan kesehatan. ”Di sisi lain, negara juga jangan justru terlena dengan gerakan sosial itu. Sebab, gerakan sosial tak berarti menghapus peran negara terhadap hak-hak publik,” ujar pengajar sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, Christian Tindjabate, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (26/12). Christian dimintai pendapat terkait tren aksi penggalangan dana oleh beragam komunitas untuk membangun fasilitas pelayanan publik di pelosok. Salah satunya, Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) yang membangun gedung baru SMP Negeri Sekon, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Gedung lama sekolah dibangun darurat (Kompas, 26/12). ”Di era reformasi, ruang bagi berkembangnya modal sosial terbuka lebar berkat iklim demokrasi yang menumbuhkan kesadaran masyarakat sipil. Ini iklim positif agar masyarakat berpartisipasi secara nyata dalam

Modal sosial makin penting di tengah masih banyaknya masalah yang belum bisa diatasi.

pembangunan,” kata Christian. Menurut dia, sebelum era reformasi, terutama Orde Baru, modal sosial tidak berkembang. Pada era itu negara terlalu dominan. Negara mengambil alih semua peran sehingga menutup berkembangnya modal sosial dalam bentuk partisipasi aktif sipil.

Sebagai subyek

Modal sosial makin penting di tengah masih banyaknya masalah yang belum bisa diatasi. Penyelesaian masalah itu tidak hanya diserahkan kepada pemerintah karena punya keterbatasan, termasuk soal anggaran. ”Kelompok-kelompok sipil bisa mengambil peran karena masyarakat bukan lagi sebagai obyek, melainkan subyek pembangunan. Uang negara sangat terbatas, tetapi modal sosial bangsa ini tidak pernah habis,” ujarnya. Ikastara membangun gedung baru SMP Negeri Sekon, Insana, dengan donasi dari anggota dan mitra. Gedung yang dibangun dengan dana Rp 600 juta itu menggantikan tiga ruang kelas lama yang dibangun warga setempat. Ruang kelas lama dibangun dengan atap dari daun lontar, dinding dari pelepah lontar, dan hanya berlantaikan tanah. Selain membangun gedung sekolah, Ikastara juga menggelar kegiatan lain, seperti pelatihan guru bekerja sama dengan Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, operasi dan pengobatan massal bekerja sama dengan sejumlah yayasan dan rumah sakit setempat. Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat Ikastara Aryo Saloko menyatakan, total Rp 1,1 miliar disalurkan untuk aksi sosial di Kabupaten Timor Tengah Utara. Separuh di antaranya disumbang oleh alumni, sisanya dihimpun dari mitra baik dalam bentuk uang maupun barang. ”Kami ingin lebih banyak lagi orang mengambil inisiatif baik bergabung bersama kami maupun dengan forum mereka sendiri. Sebagai warga negara, kita perlu mengambil peran karena pemerintah tak bisa mengatasi semua masalah, terutama di daerah pelosok,” katanya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.