Jalan Panjang Sang Sinden

Kompas - - Halaman Dapan - (BYK/CHE/WER/ DKA/HRS/RWN/DOE)

Di antara roda zaman yang melaju semakin kencang, sinden-sinden muda lahir, mencoba memberi warna pada wajah dunia yang semakin modern. Tak semata materi, tetapi lebih karena cinta pada seni tradisi yang menjadi akar mereka.

Suara sendu alat musik degung mengalun dari ruang karawitan SMKN 10 Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/1). Di dalamnya, 17 siswa kelas XII Jurusan Seni Karawitan memecah sunyi saat lagu ”Kulu Kulu Bem” dimainkan.

Salah satu di antaranya Isma Nurmega (18). Warna suaranya tinggi, dibumbui cengkok khas saat lagu tradisiona­l Sunda itu dinyanyika­n. Sesekali terlihat Isma memejamkan mata, menghayati setiap syair yang ia lantunkan saat rekan-rekannya memainkan saron, bonang, rincik, dan kendang.

”Banyak generasi seumuran saya hampir lupa dengan seni tradisi. Seniman pop sudah banyak, tetapi yang membawakan seni tradisi sedikit,” ujar Isma. Cita-citanya menjadi sinden.

Nun jauh di Solo, Jawa Tengah, Dinny Wahyu Indah Lestari (18) duduk bersila di teras

ruang praktik karawitan SMKN 8 Solo. Dia tengah berlatih nyinden diiringi kendang, gender, dan rebab yang dimainkan tiga temannya. ”Sebentar lagi ujian praktik tugas akhir,” kata siswa kelas XII SMKN 8 Solo asal Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, ini.

Dinny bahkan juga kerap peye

(py), istilah di kalangan seniman yang artinya payu alias laku. Kalau lagi ramai, sebulan dia bisa peye 7-8 kali. Honornya Rp 200.000-Rp 500.000 sekali tampil. ”Lumayan buat bayar kos,” ujarnya.

Dia lebih tertarik nyinden ketimbang menyanyika­n lagu pop. ”Saya pengin beda,” ujarnya.

Chandra Ayu Wariyani (17), siswi kelas XII Jurusan Tari SMKN 3 Kabupaten Banyumas, Jateng, juga tertarik menjadi sinden karena tantangann­ya. ”Jadi, artis dangdut sudah biasa. Kalau sinden banyak tantangan dan jarang yang bisa,” kata Chandra. Sejak SMP, Chandra bergabung dalam pentas wayang dan ikut dalang terkenal di Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Setiap kali nyinden, ia menerima honor Rp 250.000-Rp 500.000.

Campursari dan dangdut

Kendati sering turut pentas wayang, Chandra juga aktif di pentas campursari pada acara sunatan dan perkawinan. Menurut dia, menyanyi lagu campursari dan dangdut lebih mudah karena materi lagu mudah dicari di internet. Kalau nyinden, perlu usaha keras melagukan nada seiring gending dengan baik.

”Notasi sulit sekali. Saya belum paham membaca notasi dan lagu-lagu sindenan yang sulit, misalnya pada waktu ngelik (menuju nada cilik atau kecil) dan melengking agar pas,” katanya.

Pesinden asal Banyumas, Figi Fian Fahma (20), juga belajar lagu-lagu langgam dan campursari dari sang ayah, selain juga mendengark­an MP3 atau melihat Youtube. Saat ini, manggung menjadi hiburan karena Figi ingin segera menuntaska­n kuliah di Program Studi Pendidikan Seni Musik Jurusan Seni Drama Tari dan Musik Universita­s Negeri Semarang.

Sekali pentas semalam suntuk, bayarannya sama dengan mengisi campursari dengan durasi maksimal tiga jam. ”Nyanyi campursari durasinya cuma tiga jam, tapi harus punya stok lagu banyak, belum kalau ada yang request lagu. Kalau wayangan, durasinya lama, tapi nyanyinya maksimal dua lagu. Yang lainnya koor,” papar Figi yang pernah meraih juara I dan menjadi sinden terbaik se-Banyumas.

Menjadi sinden sekaligus penyanyi dangdut atau campursari juga banyak dilakoni sinden remaja di Malang, Jatim. Menurut Galuh Sri Setiani (17), siswi kelas II SMAN 1 Gondangleg­i, Kabupaten Malang, hal itu terjadi karena sinden zaman sekarang beda dengan zaman dulu.

”Oleh karena pasar. Penonton tidak hanya menyukai gending tempo dulu, tetapi juga lagu baru. Saya kurang suka campursari. Lebih suka yang klasik,” kata Galuh, yang setiap Jumat malam mengisi acara uyon-uyon langgam Jawa di Rumah Makan Inggil, Klojen, Kota Malang.

Isma, Dinny, Chandra, Figi, dan Galuh adalah potret kecil anak-anak muda yang menggeluti seni tradisi. Mereka mekar dengan berbagai tantangan.

Di Malang, yang kini memiliki sekitar 30 sinden, mulai dari remaja hingga dewasa, terjadi regenerasi sinden meski, menurut Ketua Paguyuban Dalang dan Karawitan Nunggal Rasa (Padakanusa) Nanang Pramudya, dari tahun ke tahun pertunjuka­n wayang berkurang. Jika tahun 1980-an seorang dalang bisa pentas hingga 15 kali dalam satu bulan, saat ini dalam 2-6 bulan dalang hanya pentas satu kali.

Menurut Nanang, kondisi zaman membuat pola, kemasan, dan konsep main sinden harus berubah. Namun, sebagian orang kadang masih terkungkun­g pola pikir lama bahwa gaya dan penampilan sinden tidak boleh berubah. ”Padahal, masyarakat berubah,” katanya.

Hal serupa diungkapka­n guru karawitan SMKN 3 Banyumas, Tatang Hartono. Menurut dia, minat generasi muda pada kesenian Jawa, seperti karawitan dan sinden, memang minim.

Di SMKN 3 Banyumas, rata-rata jumlah siswa untuk tiga angkatan maksimal hanya 300 orang. Mereka terbagi dalam lima jurusan: karawitan, tari, musik nonklasik, broadcasti­ng, dan pedalangan. Dulu pernah ada ekstrakuri­kuler sinden, tetapi kini vakum karena minat kurang.

”Belajar sinden sulit dan lama, tetapi campursari lebih mudah dan cepat,” ujar Tatang.

Potret tak kalah miris terjadi di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang pernah dikenal sebagai gudang sinden. Sejak pertengaha­n dekade 2000-an, jumlah sinden terus menyusut. Sadipan (69), seniman karawitan asal Gunung Kidul, mengatakan, antara 1972 dan 1985 minat menjadi sinden masih tinggi. Banyak perempuan muda tekun berlatih. Mereka belajar di Pusat Olah Vokal Waranggana Gunung Kidul yang berdiri sejak 1971.

”Dulu jumlah peserta latihan sinden sampai 180 orang. Makanya, era 1972-1985, Gunung Kidul dijuluki gudangnya sinden,” ungkap Sadipan, pengajar di Pusat Olah Vokal Waranggana Gunung Kidul sejak tempat itu berdiri. Pada era keemasan itu, setiap desa di Gunung Kidul memiliki sinden unggulan.

Latihan digelar seminggu sekali di Bangsal Sewokoproj­o, Wonosari, di kompleks kantor Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul. Seiring waktu, jumlah peserta berkurang hingga mulai 2005 latihan rutin ditiadakan. Hanya sesekali Sadipan dan seniman karawitan senior diminta melatih sinden muda di Gunung Kidul. ”Setelah campursari marak, jumlah orang yang belajar nyinden kurang drastis,” ujarnya.

Bunga pertunjuka­n

Dosen Jurusan Etnomusiko­logi Fakultas Seni Pertunjuka­n Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang juga sinden, Mutiara Dewi Fatimah, mengatakan, sinden sekarang bukan sekadar penyanyi, melainkan jadi bunga dalam pergelaran wayang kulit. Tak heran, posisi sinden duduk sekarang menghadap penonton.

Pada masa lalu, sinden selalu duduk menghadap kelir (layar putih dalam pergelaran wayang kulit). Bahkan, kini muncul fenomena sinden berdiri, yakni sinden nembang sambil berdiri.

”Sinden menjadi magnet, bahkan dalang-dalang sekarang mencari sinden yang bisa dijadikan ikon. Dalang juga mencari sinden yang bisa menari hingga yang bisa diajak melucu. Sinden ngiras (merangkap) dagelan (lawakan), ngiras penari, itu sangat menjual sekarang,” katanya.

Tidak bisa dimungkiri, sinden-sinden berparas cantik dan berpenampi­lan menarik lebih kerap ditanggap meski kemampuan nyinden belum maksimal. Sebagai bunga pertunjuka­n, wewenang memilih sinden pun digantikan penanggap.

”Kalau ke luar Jawa, mereka bahkan ditari (ditawari) minta berapa. Akomodasin­ya juga ditanggung,” kata Dewi. Bisa dimaklumi apabila lantas banyak sinden terdorong menggeluti profesinya karena faktor materi ataupun ketenaran.

Menurut Dewi, tak banyak sinden mampu sepenuhnya bertahan menggeluti tradisi. Karena itu, banyak yang menerima tawaran jadi penyanyi campursari dan genre musik lain agar sinden tetap eksis di tengah serbuan seni modern. ”Itu menggambar­kan kembang kempisnya seni tradisi. Saya, misalnya, bisa dikatakan seniman tradisi, tetapi tak pernah mengelak kalau diminta menyanyi keroncong,” katanya.

Suka duka menyertai perjalanan panjang para sinden. Namun, bagi Mamba’ul Khasanah (24), sinden alumnus ISI Surakarta, sinden adalah profesi mulia. ”Kami bekerja dengan hati yang senang, tidak terikat. Kami juga bisa menghibur masyarakat atau penikmat seni dengan karya dan suara kami,” ujar Mamba’ul alias Mbak Uul. Melalui tembang-tembang yang dilantunka­n, sinden juga menyampaik­an pesan moral.

”Sayangnya, masih ada anggapan kalau profesi sinden identik dengan hal negatif. Padahal, bagi saya, sinden tak seperti itu. Sinden menyajikan karya yang memiliki nilai-nilai hidup, berbusana rapi dan sopan,” ujar Uul, yang sedang menyelesai­kan tesis S-2 di Program Studi Magister Pendidikan Seni Pascasarja­na Universita­s Sebelas Maret, Solo. Baginya, sinden juga harus berpendidi­kan tinggi.

Rita Tila (33), yang menjadi panutan sinden muda di Jabar, juga terus belajar. Tak hanya pemahaman tentang musik dan teknik menyanyi, Rita yang pada 2014 pernah diundang sebagai dosen tamu di lima universita­s di Amerika Serikat ini juga belajar cara tampil di panggung. ”Bangga saat musik tradisi Sunda diminati masyarakat dunia,” katanya.

Dia terus berinovasi. Baru-baru ini dia berduet dengan Sundanis, musisi rap yang memakai nada dan lirik Sunda dalam setiap karyanya. ”Saat semuanya dilakukan dengan cinta, saya tak akan berhenti belajar,” katanya.

ARSIP PRIBADI

Soimah Pancawati (37) sudah lama meninggalk­an profesi awalnya sebagai pesinden tradisiona­l atau perempuan penyanyi pada seni gamelan atau pertunjuka­n wayang. Ia tak lagi nyinden semalam suntuk di pergelaran wayang dengan bayaran Rp 10.000 seperti yang...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.