Pusat Keragaman Genetika Sagu Terancam

Kompas - - Sains, Lingkungan&kesehatan -

JAYAPURA, KOMPAS — Daerah sekitar Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, merupakan pusat keragaman genetika sagu di dunia. Namun, konversi hutan sagu menjadi fungsi lain marak sehingga dikhawatirkan merusak pusat asal dan keragaman hayati tanaman pangan itu.

”Dari kajian para peneliti, ditemukan 32 jenis tanaman sagu di sekitar Danau Sentani dan yang kerap dimanfaatkan ada 16 jenis,” kata John Herman Mampioer, peneliti sagu dari Dinas Kehutanan Papua yang juga dosen Universitas Ottow Geissler Papua, di Jayapura, Kamis (6/12/2018).

Sagu (Metroxylon sagu Rottb) adalah tanaman asli Nusantara dengan cadangan terbesar dunia ada di Papua. Berdasarkan survei oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor Bintoro dengan citra satelit pada 2013, luas hutan sagu di Papua 4.749.325 hektar dan di Papua Barat 510.213 hektar.

Keragaman jenis tanaman sagu di sekitar Danau Sentani itu tertinggi karena lebih dari separuh jenis sagu yang berjumlah dari 60 jenis berada di Papua. Riset Yunus Monim dari Fakultas Pertanian Universitas Papua dan tim yang dipublikasikan di jurnal Agrotek (2017) menyebut, sebaran jenis sagu di Sentani terbanyak ditemukan di Kampung Ifale dan Yoboi, yakni 24 jenis.

Masyarakat lokal membedakan jenis sagu dari duri, bentuk daun, batang, dan warna pati sagunya. Kepala Kampung Yoboi Sefanya Wally mengatakan, beberapa jenis sagu unggul itu harus ada dalam ritual adat. Contohnya, hasil produksi sagu phara banyak dan lebih enak.

Untuk mempertahankan sagu, selain melarang konversi, aturan adat di Kampung Yoboi mewajibkan warga menanam dua anakan dari satu pohon sagu yang ditebang.

Menurut Kepala Penelitian dan Pengembangan Jayapura Haryanto, dari kajian lembaganya bersama Fakultas Kehutanan Universitas Papua pada 2018, luas hutan sagu di enam distrik di Jayapura 3.302,9 hektar dan 2.000 hektar di antaranya ada di Distrik Sentani.

Hutan sagu di Sentani berdekatan dengan pusat pembangunan dan permukiman sehingga ada tekanan pembangunan infrastruktur di Jayapura. Berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Jayapura, mayoritas areal sagu berada di area budidaya, permukiman, industri, pariwisata, pendidikan, dan pertahanan. Menurut RTRW, luas hamparan sagu di Jayapura akan hilang 2.832 hektar. Jika RTRW dipertahankan, hutan sagu yang tersisa di Jayapura 470,5 hektar.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw menyatakan, sagu penting bagi warga adat Papua. Namun, pembangunan membuat sagu terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jayapura Hana Hikoyabi menambahkan, Pemkab Jayapura memiliki Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2000 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Sagu. Hal itu perlu diperinci.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.