KUR Produksi Diperbesar

Kredit usaha rakyat sektor produktif terus ditingkatkan. Ini sebagai upaya mendorong petani, peternak, dan perajin untuk meningkatkan produktivitas usaha dan pendapatannya.

Kompas - - Nusantara -

SOLO, KOMPAS — Pemerintah meluncurkan kredit usaha rakyat atau KUR khusus peternakan di Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (6/12/2018). Proporsi penyaluran KUR untuk sektor produksi akan terus diperbesar hingga mencapai 70 persen.

Penyaluran KUR khusus peternakan di Wonogiri diberikan kepada 69 anggota kelompok peternakan rakyat dengan nilai total Rp 8,9 miliar. KUR ini disalurkan oleh Bank BRI, Bank Mandiri, BNI, Bank Jateng, dan Bank Sinarmas. ”Pemerintah ingin KUR itu diperbesar untuk sektor produksi,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution saat peluncuran KUR Khusus Peternakan Rakyat di Wonogiri.

Darmin mengatakan, proporsi penyaluran KUR untuk sektor produksi akan terus diperbesar sebagai upaya mendorong usaha produksi, seperti peternakan, pertanian, jasa, perkebunan, dan lainnya. Selama ini KUR sebagian besar tersalurkan ke sektor perdagangan. ”Tahun ini 50 persen untuk produksi, tahun depan 60 persen untuk produksi, sampai tahun berikutnya kita ingin 70 persen untuk produksi dan 30 persen perdagangan,” katanya.

Dijelaskan, realisasi penyaluran KUR Januari-Oktober 2018 mencapai Rp 113 triliun dari target 2018 sebesar Rp 120 triliun. Dari jumlah ini, 43 persen telah disalurkan untuk sektor produksi. Dia optimistis hingga akhir 2018 target penyaluran KUR Rp 120 triliun dengan proporsi penyaluran 50 persen untuk sektor produksi dapat tercapai.

”Sekarang mulai musim tanam padi, sampai tanaman padi sudah cukup tinggi, perkiraan saya seminggu lagi mulai tanam. Pasti petani perlu KUR sehingga akan banyak kenaikannya (penyaluran KUR) untuk produksi menjelang akhir tahun ini,” ujarnya.

Menurut Darmin, setelah pemerintah menurunkan bunga

sapi dipelihara di kandang komunal organik badan usaha milik petani, PT Pengayom Tani Sejagat, di Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (6/12/2018). Pemerintah terus memperbesar proporsi penyaluran KUR untuk sektor produksi, di antaranya peternakan.

hingga 7 persen per tahun, saat ini KUR sangat diminati. Karena itu, hingga akhir 2018, penyaluran KUR akan dapat menyentuh Rp 120 triliun. Pada 2019, KUR diperkirakan bisa mencapai Rp 140 triliun seiring perluasan penyaluran KUR untuk sektor produksi. ”Tadinya, kan, peternakan enggak ikut, perkebunan enggak ikut, dulu hampir semua padi dan hortikultura,” katanya.

Darmin mengatakan, pada saat awal diluncurkan KUR kurang diminati karena bunganya tinggi. Pada 2015, pemerintah merumuskan KUR model baru dengan menurunkan bunga jadi 12 persen per tahun. Selanjutnya buka

KUR kembali diturunkan menjadi 7 persen per tahun. ”Dahulu, sebelum-sebelumnya, KUR itu bunganya mahal. Jadi, tidak terjangkau oleh masyarakat. Akhirnya realisasinya di bawah Rp 10 triliun setahun,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kemenko Perekonomian yang juga Sekretaris Komite Kebijakan Pembiayaan Bagi UMKM/Kredit Usaha Rakyat Iskandar Simorangkir menilai, Jateng merupakan provinsi dengan jumlah realisasi penyaluran KUR terbesar. Pada Januari-Oktober 2018, realisasinya mencapai Rp 20,4 triliun atau 17,5 persen dari total

KUR nasional yang telah disalurkan selama periode itu sebesar Rp 113,6 triliun. Karena itu, Jateng dipilih untuk peluncuran KUR khusus peternakan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, penyaluran KUR khusus peternakan sudah lama ditunggu. Penyaluran ini akan mendorong upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui usaha produksi. Selama ini masyarakat mengeluhkan sulitnya mengakses kredit usaha di perbankan. Kalaupun bisa mendapatkan pinjaman modal usaha, pembayaran angsuran dirasakan berat karena bunga relatif tinggi. Untuk itu, Pemprov Jateng melalui

Bank Jateng mengawali menyalurkan KUR dengan bunga 7 persen per tahun.

Sutarman, salah seorang penerima KUR khusus peternakan, mengatakan mendapatkan pinjaman Rp 124 juta. Dana tersebut digunakan untuk usaha penggemukan sapi dengan membeli lima sapi limosin. ”Saya beli empat sapi dengan umur berkisar 7 bulan-1 tahun dan seekor sapi dewasa bunting. Penggemukan selama empat bulan lalu dijual, kemudian beli sapi untuk digemukkan, begitu seterusnya. Untuk sapi bunting, saya tunggu sampai lahir kemudian digemukkan,” katanya.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA

Sejumlah

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.