Melawan HIV Bersama Warga Desa

Seorang anak yatim piatu dengan HIV bisa hidup normal. Ia bersekolah dan bermain bersama teman-temannya. Guru dan para tetangga bisa menerima kondisinya. Suasana ideal ini terjadi di sebuah desa di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kompas - - Nusantara - (HARIS FIRDAUS)

Sekilas tak ada yang membedakan Bayu (7) dengan anak seumuran dia. Murid kelas I sekolah dasar di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu periang dan suka bermain bersama teman-temannya. Namun, di balik keriangan itu, Bayu harus berjuang melawan human immunodeficiency virus (HIV) di tubuhnya.

Jumat (30/11/2018) siang, Bayu bermain kejar-kejaran dengan teman-teman di halaman sekolah. Tak lama kemudian, ia naik turun perosotan. Tak tampak sama sekali tanda kelelahan di wajahnya.

”Bayu dinyatakan positif HIV awal 2017,” kata konselor HIV di Puskesmas Galur I, Erna Prajanti, yang mendampingi Bayu.

Erna mengatakan, awalnya Bayu tinggal bersama orangtuanya di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Namun, saat ia berusia beberapa bulan, ayahnya meninggal. Tak lama berselang lama, ibunya juga meninggal. ”Bayu yatim piatu sejak umur sembilan bulan,” ujarnya.

Setelah orangtuanya meninggal, Bayu tinggal bersama kakeknya di Galur. Semula Bayu tumbuh sehat dan tidak ada tanda kelainan tumbuh kembang atau masalah kesehatan. Menginjak usia 4 tahun, Bayu mulai sakit-sakitan sehingga harus berkali-kali dirawat di rumah sakit. Virus HIV menyerang kekebalan tubuh, sehingga pengidapnya tidak memiliki senjata melawan kuman.

Saat itu Bayu kerap batuk dan pilek dalam jangka waktu lama. Bahkan, ia sempat batuk yang mengeluarkan darah.

Erna baru mengetahui kondisi Bayu sekitar setahun lalu setelah dihubungi kepala dusun tempat Bayu tinggal. Saat itu kepala dusun mengaku mendapat informasi bahwa Bayu dinyatakan terinfeksi HIV setelah diperiksa di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Erna lalu mengecek

anak yang dinyatakan positif terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV), naik perosotan di halaman sebuah sekolah dasar di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (30/11/2018). Anak yatim piatu itu kini tinggal bersama kakeknya. Ia diduga tertular HIV dari ibunya. Saat ini Bayu bisa beraktivitas biasa seperti anak-anak lain, tetapi dia harus meminum obat antiretroviral setiap hari untuk menaklukkan virus yang bisa menghancurkan kekebalan tubuhnya.

kebenaran informasi itu ke rumah sakit bersangkutan.

”Ternyata benar, Bayu dinyatakan positif HIV sekaligus positif tuberkulosis,” kata Erna. Bayu diduga tertular HIV dari ibunya.

Erna langsung melakukan pendampingan. Beserta seorang dokter dari Puskesmas Galur I, Erna melakukan sosialisasi kepada para tetangga Bayu mengenai HIV/AIDS dan penyakit tuberkulosis yang menyerang anak-anak. Sosialisasi itu dilakukan agar masyarakat sekitar tidak menjauhi dan mengucilkan Bayu.

Dalam sosialisasi, Erna dan dokter menjelaskan, HIV tidak

ditularkan melalui interaksi sosial, seperti bersalaman dan menggunakan alat makan dan minum yang sama. HIV hanya ditularkan melalui cairan tertentu, misalnya darah, sperma, cairan vagina, dan air susu ibu.

”Akhirnya warga semua menerima dan tidak mempermasalahkan kondisi Bayu,” kata Erna. Sampai saat ini, Bayu diperlakukan dengan baik oleh para tetangganya. Sehari-hari, ia bermain bersama anak-anak seumuran yang tinggal di sekitar rumahnya tanpa ada masalah.

Dukungan

Masyarakat dan aparatur pemerintahan setempat memberi

dukungan kepada Bayu melalui berbagai upaya. Erna mengatakan, awalnya Bayu tidak terdaftar sebagai peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) karena dokumen kependudukan yang dimiliki tak lengkap. ”Saat pindah dari Sukoharjo, Bayu tidak punya dokumen apa-apa kecuali akta kelahiran,” katanya.

Saat mengetahui masalah itu, aparatur pemerintahan setempat dengan cepat membantu mengurus berbagai dokumen yang dibutuhkan agar Bayu bisa terdaftar sebagai peserta JKN. Dengan demikian, Bayu bisa mendapatkan perawatan dan obat-obatan tanpa biaya.

Sejumlah pihak yang bersimpati dengan Bayu juga memberikan bantuan berupa uang. Bantuan itu dibutuhkan untuk menjamin Bayu bisa melanjutkan sekolah. Sebab, kakek yang merawat Bayu hanya buruh pabrik tahu yang penghasilannya pas-pasan.

Erna mengatakan, setiap bulan, para pegawai Kantor Urusan Agama di Galur menyisihkan gaji untuk membantu Bayu. Beberapa waktu lalu, sebuah bank swasta juga memberikan bantuan untuk Bayu. Bantuan dana juga datang dari para donatur pribadi. Untuk menampung dana hasil sumbangan, Erna dan beberapa pihak lain membuatkan

rekening tabungan atas nama Bayu di lembaga keuangan mikro milik desa setempat.

Berkat berbagai dukungan itu, Bayu bisa mendapatkan obat antiretroviral (ARV) secara rutin. Obat ARV harus diminum setiap hari untuk memperlambat perkembangan virus HIV di tubuh Bayu. Sejak beberapa bulan lalu, kondisi Bayu membaik. Bahkan, tahun ini ia mulai bersekolah.

Sekolah

Guru wali kelas Bayu, Sri Wardayaningsih, mengatakan, saat awal bersekolah, Bayu sering tampak kelelahan ketika mengikuti pelajaran. Namun, belakangan ini kondisi Bayu terus membaik sehingga bisa lebih fokus belajar. ”Dalam pelajaran olahraga, Bayu juga bisa mengikuti dan bahkan lebih bagus daripada anak yang usianya lebih tua,” ujarnya.

Sri menambahkan, para guru di sekolah mengetahui kondisi Bayu. Mereka tidak merasa khawatir atau takut. Sehari-hari, Bayu aktif bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Apalagi karena sekolah dekat rumahnya, teman-teman Bayu juga kebanyakan tetangganya.

”Para guru tidak keberatan karena sudah ada pengertian dan pemahaman. Kami semua tidak khawatir,” katanya.

Direktur Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Gama Triono menyatakan, dukungan sosial merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pengobatan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hal itu membuat ODHA bisa menjalani pengobatan dengan baik sehingga kondisi mereka membaik.

Dukungan sosial juga membuat ODHA bisa diterima oleh masyarakat sehingga mereka tak merasa dikucilkan atau menerima perlakuan diskriminatif.

Gama menambahkan, agar dukungan sosial bisa tumbuh, sosialisasi mengenai HIV/AIDS harus digalakkan. Dengan begitu, stigma negatif terhadap ODHA bisa dihapuskan.

Orang-orang dekat yang di sekitar ODHA, seperti keluarga, tetangga, guru, dan teman sekolah, harus menjadi sasaran sosialisasi. ”Memberikan penyadaran kepada guru, lingkungan sekolah, dan orangtua siswa yang lain menjadi sangat penting,” katanya.

Berkaca pada kasus Bayu, sudah saatnya dukungan sosial kepada ODHA di Indonesia terus ditumbuhkan, termasuk melalui momentum Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS

Bayu (7),

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.