Kesetaraan dan Inklusi untuk Perkuat Demokrasi

Kompas - - Politik & Hukum -

BADUNG, KOMPAS — Demokrasi yang inklusi membutuhkan peran serta semua pihak, termasuk kalangan swasta, media, perempuan, dan generasi muda. Keterlibatan semua pihak secara setara menjadi penggerak yang memperkuat demokrasi mencapai kesejahteraan bagi semua orang.

”Demokrasi adalah sebuah proses yang akan terus bergulir dan tidak berhenti,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir saat menutup Bali Democracy Forum (BDF) Ke-11 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (7/12/2018).

Harapannya, tambah Fachir, semua pihak bisa terlibat membahas demokrasi. Terkait hal itu pula, kata Fachir kepada media seusai penutupan BDF, BDF sebagai forum dialog dan interaksi global tentang demokrasi akan terus diselenggarakan setiap tahun.

BDF diselenggarakan sejak 2008. Tahun ini merupakan tahun ke-11, atau tahun pertama dari dasawarsa kedua, penyelenggaraan BDF. BDF 2018 diikuti delegasi dari 92 negara dan 7 organisasi internasional, di antaranya Uni Eropa, ASEAN, International Committee of the Red Cross (ICRC), dan The International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA). Dalam BDF kali ini diselenggarakan dua kegiatan secara paralel, yakni Bali Civil Society and Media Forum (BCSMF) dan Bali Democracy Student Conference (BDSC), dengan tujuan membahas demokrasi secara inklusi dan komprehensif.

Keterlibatan semua pihak

Lebih lanjut Fachir mengatakan, demokrasi yang inklusi dengan keterlibatan semua pihak secara setara dan dengan prinsip tak ada yang tertinggal menjadi penting serta akan menguatkan

Meskipun terbukti tangguh dan mampu pulih dari krisis di masyarakat, demokrasi juga rapuh dan dapat mengalami kemunduran.

Leena Rikkila Tamang

demokrasi menghadapi tantangan masa depan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi serta inovasi teknologi pada era digital dapat meningkatkan akses dan hubungan yang memberdayakan demokrasi untuk mencapai kesejahteraan.

Direktur IDEA untuk Regional Asia dan Pasifik Leena Rikkila Tamang mengemukakan, demokrasi perlu dirawat terus-menerus. Meskipun terbukti tangguh dan mampu pulih dari krisis di masyarakat, demokrasi juga rapuh dan dapat mengalami kemunduran. Untuk itu, forum semacam BDF dibutuhkan untuk mendukung perkembangan dinamis demokrasi lewat proses belajar dan berbagi pengalaman.

Adapun suara kalangan pemuda dari BDSC, yang dibacakan Faith Fore dari Zimbabwe, antara lain, menyatakan potensi energi dan kreativitas generasi muda dapat disalurkan positif. Generasi muda harus menjalankan peranannya secara aktif sebagai agen perubahan dan menumbuhkan pemahaman mengenai demokrasi sebagai kunci menuju kesejahteraan. Kedekatan generasi muda dengan teknologi harus dimanfaatkan guna mendorong demokrasi untuk kesejahteraan.

Peserta BCSMF merekomendasikan, antara lain, pengembangan kapasitas dan pembelajaran narasi demokrasi agar dapat lebih dipahami seluruh kelompok yang berbeda, terutama kalangan generasi muda.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.