Program Lada di Bangka Belitung

Kompas - - Opini - AWAKID MUHAMMAD Jalan Kejaksaan, Pangkal Pinang

Ada beberapa hal yang dilakukan untuk mengembalikan kejayaan lada di Bangka Belitung. Pemerintah sedang membuat laboratorium penelitian lada dan program sistem resi gudang (SRG) dalam upaya menciptakan stabilisasi harga lada di tingkat petani.

Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman dan para eksportir lada menggelar diskusi grup terfokus untuk menggeliatkan kembali lada sebagai produk ekspor unggulan Bangka Belitung. Ia memilih mengambil sikap mempersatukan Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada dengan SRG.

Fenomena ini perlu dipertanyakan. Bicara lada, kita perlu membudidayakan tanaman lada secara baik dan betul, dari mulai bibit, junjung, hingga pemupukannya. Ketersediaan bibit unggul berkualitas akan membuat petani bisa menanam lada dengan aman. Satu di antara sekian masalah dalam pertanian lada kita adalah bibit unggul yang berkualitas tahan hama dan hasilnya banyak.

Pada 2017, ratusan ribu bibit lada disalurkan kepada petani, tetapi kelanjutan program ini—misalnya mutu lada harus ditingkatkan—perlu dipertanyakan sebab banyak bibit lada yang mati. Petani susah.

Bibit lada yang diberikan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung melalui penangkar, meskipun memiliki sertifikat, diragukan mutunya. Terlalu banyak manipulasi atas kualitas bibit.

Tahun 2018 ini, dengan dana APBN sebesar Rp 31,5 miliar, sebagian dari sekitar 3,5 juta bibit lada sudah disalurkan kepada petani secara bertahap per kelompok. Sejauh mana keberhasilan program ini? Kita lihat saja. Semoga uang rakyat yang puluhan miliar itu tak sia-sia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.