Ornamen Pengingat Generasi

Kompas - - Internasional - (PRADIPTA PANDU MUSTIKA/ PINGKAN ELITA DUNDU)

Kelenteng-kelenteng tua di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, tidak hanya menjadi tempat ibadah agama Tri Dharma (Khonghucu, Tao, dan Buddha). Bangunan tersebut juga menjadi cerminan kebudayaan masa lalu. Ini ditunjukkan dari arsitektur, ukiran, dan ornamen di kelenteng. Kini, pesan ornamen menjadi buah tangan para diaspora peranakan Tionghoa dan delegasi Konferensi Peranakan Internasional Ke-31 untuk disampaikan kepada generasi selanjutnya.

Kelenteng telah menjadi jejak peradaban dan kebudayaan Tionghoa di Nusantara, bahkan sebelum nama Indonesia terbentuk. Claudine Salmon dalam buku Klenteng-klenteng Masyarakat Tionghoa di Jakarta mencatat, kelenteng bukan hanya tempat kehidupan keagamaan. Kelenteng juga merupakan bentuk ungkapan lahiriah masyarakat. Mengenali kelenteng dari arsitektur, ukiran, ataupun ornamennya juga memberi bekal pengetahuan jejak peradaban Tionghoa pada masa lampau. Salah satu kelenteng yang mempunyai arsitektur dan ornamen yang khas dan penuh makna yaitu Kelenteng Cu An Kiong di Lasem, yang dibangun pada 1477.

Menurut Irawan (52), penjaga Kelenteng Cu An Kiong, meski pernah direnovasi pada 1869, ukiran dan ornamen tetap terjaga keasliannya. Ukiran dan ornamen itu memiliki arti dan makna mendalam yang menceritakan kehidupan manusia di Bumi.

Adapun pada bagian atap kelenteng di ruang utama terdapat ornamen dua manusia memanggul beban berat. Ornamen itu mengisahkan orang zaman dahulu yang dihukum berat karena melakukan kejahatan seperti korupsi. ”Zaman dulu, orang sudah korupsi. Ornamen dibuat agar anak cucunya tahu hukuman korupsi itu berat, tidak seperti sekarang,” ujar Irawan yang sudah 32 tahun merawat kelenteng itu.

Dinding kelenteng bagian dalam juga dihiasi goresan mural hitam dan putih berupa 100 panel komik Fengshen Yanyi atau dikenal dengan nama Fengshenbang yang mengisahkan Mitologi Dewa-Dewa Taois karya Xu Zhonglin.

Dalam buku Lasem: Kota Tua Bernuansa Cina di Jawa Tengah karya Handinoto, arsitektur orang China di Lasem merupakan perpaduan arsitektur Tiongkok Selatan, Jawa (Pesisiran dan Mataraman), dan kolonial Belanda yang berkembang dari waktu ke waktu.

Arsitektur Tiongkok mempresentasikan kesan kesatuan yang harmoni dengan alam. Orang China di masa lalu mempunyai penafsiran dalam berarsitektur, yaitu manusia tidak bisa dipisahkan dari alam atau manusia secara individual tidak bisa dipisahkan dari masyarakat sosialnya.

Wakil Presiden Diaspora Indonesia-Australia, Rudolf Wirawan, mengatakan, kunjungan ke tempat bersejarah memberi pemahaman tentang keragaman dan budaya Indonesia. Meski tinggal di luar negeri, diaspora juga dapat berkontribusi dalam pelestarian sejarah, khususnya peranakan Tionghoa di Indonesia, dengan memperkenalkan ke negara tempat diaspora menetap.

Akulturasi budaya

Selain kelenteng, akulturasi budaya juga dapat dilihat dari keragaman kue dan makanan peranakan Tionghoa, salah satunya di Tangerang, yang berbaur dengan kuliner Jawa dan Betawi. Kuliner yang berakulturasi itu seperti laksa, lumpia Semarang, dan pempek Palembang.

Wali Kota Tangerang, Banten, Arief R Wismansyah mengakui, budaya peranakan menjadi bagian tidak terpisahkan dari keanekaragaman budaya yang ada di Kota Tangerang. Budaya peranakan menyumbang andil besar bagi sektor pariwisata di Kota Tangerang. ”Yang terkenal di sini kawasan Pasar Lama yang menjadi magnet wisatawan,” kata Arief.

Di kawasan pecinan Tangerang terdapat Museum Benteng Heritage, Kelenteng Boen Tek Bio, dan Museum Kuliner Roemboer.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.