Euforia Sambut ”Raja” Perserikatan

(Bersambung ke hlm 15 kol 1-3)

Kompas - - Halaman Dapan -

JAKARTA, KOMPAS — Satu pekan terakhir, Jakarta dan Makassar dilanda euforia sepak bola. Warga di dua kota besar itu kompak berharap dan tidak sabar menanti gelar juara nasional sepak bola yang belasan tahun lamanya tidak pernah lagi singgah.

Persija Jakarta dan PSM Makassar tengah bersaing sengit memperebutkan gelar juara Go-Jek Liga 1. Menjelang pekan terakhir di Liga 1 musim 2018, Minggu (9/12/2018) ini, Persija unggul tipis satu poin dari PSM di puncak klasemen.

Persija hanya butuh selangkah, yaitu mengalahkan Mitra Kukar, Minggu, untuk mengunci gelar juara liga yang kali terakhir diraih pada 2001. Kerinduan warga Jakarta akan gelar juara terlihat dari banyaknya spanduk terkait Persija di berbagai sudut Ibu Kota.

Spanduk-spanduk buatan kelompok suporter Persija, Jakmania, itu bersanding dengan poster-poster dan baliho para calon anggota legislatif. ”Kota ini (Jakarta) mau juara 2018”, bunyi salah satu spanduk yang terpasang di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Spanduk lain menyerukan ajakan bagi Persija agar pantang menyerah di laga pamungkas, sore ini. ”Jangan loyo. Semangat 2001”, bunyi spanduk lain di Jakarta.

Menurut Hendri Hendriawan, salah seorang pengurus Jakmania di Cipinang, Jakarta Timur, pihaknya memasang spanduk-spanduk itu untuk memberi motivasi tambahan kepada para pemain Persija. ”Kami juga mengajak seluruh warga Jakarta mendoakan Persija agar juara besok,” ujarnya di sela-sela melihat latihan Persija di Senayan, kemarin sore.

Sisihkan uang saku

Abdiansyah (18), remaja asal Cengkareng, sampai menyisihan uang sakunya beberapa pekan terakhir guna menyaksikan langsung laga pamungkas tim ”Macan Kemayoran” di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Ia menebus selembar tiket kategori I laga itu seharga Rp 200.000.

”Agak lebih mahal memang. Biasanya hanya Rp 150.000 untuk kategori itu. Saya membeli tiket ini karena tiket-tiket lain yang lebih murah (kategori II dan III) ludes dalam sekejap. Kapan lagi melihat Persija juara liga,” katanya.

Terakhir kali Persija menjadi juara Liga Indonesia adalah 17 tahun silam. Ketika itu, Abdiansyah masih anak balita dan hanya mendengar era kejayaan Persija dari cerita para seniornya di Jakmania. Pada era Perserikatan (1931-1994), Persija merupakan ”raja” sepak bola di Indonesia. Mereka memborong sembilan gelar juara pada masa tersebut.

Bagi Abdiansyah, gelar juara Persija di Liga 1 musim ini akan menghapus dahaga prestasi sekaligus luka Jakmania. Pada September lalu, Jakmania, khususnya wilayah Cengkareng, kehilangan salah satu anggotanya, yaitu Haringga Sirla. Ia tewas mengenaskan dikeroyok sejumlah oknum pendukung Persib Bandung menjelang laga tim Jawa Barat itu kontra Persija.

”Di stadion, kami akan membawa replika trofi juara Liga 1. Itu bukan hanya simbol menghormati mereka yang telah pergi, melainkan juga pengingat kepada suporter lain bahwa

nyawa tidak bisa dibayar dengan apa pun,” tutur Hendri.

Jakmania juga menyiapkan spanduk khusus di GBK untuk menghormati almarhum Haringga. Minggu sore, GBK bakal dibanjiri lautan oranye suporter Persija sehingga diperkirakan duel nanti akan mencatat rekor baru jumlah penonton di Liga 1 musim ini. Eko Romeo Yudiono dari Humas Persija menyebutkan, 69.000 tiket laga telah terjual hingga kemarin. Rekor penonton sebelumnya adalah 62.273 orang dalam laga Persija kontra Arema FC di GBK, Maret lalu.

Guna menghibur fans Persija yang tidak memiliki tiket, Peme- rintah Provinsi DKI Jakarta akan memasang sejumlah layar lebar untuk nonton bareng laga di sejumlah kantor kelurahan dan kecamatan. ”Kami menyediakan layar besar dan camilan untuk warga yang tidak mendapatkan tiket di GBK,” ujar Camat Kemayoran Heri Purnama saat ditemui terpisah.

Kerinduan gelar juara juga terasa di Makassar. PSM, salah satu dari empat tim langganan juara pada masa Perserikatan, selama 18 tahun berpuasa trofi. Stadion Mattoangin di Makassar bakal menjadi lautan merah fans PSM ketika tim itu menjamu PSMS Medan, kesebelasan tersukses lain di era Perserikatan.

Uki Nugraha, panglima laskar Ayam Jantan (salah satu kelompok fans PSM), bercerita, banyak anggotanya dari luar Makassar, seperti Papua, Kalimantan, dan Sulawesi Barat, yang berdatangan untuk menyaksikan laga itu. Mereka menyiapkan lagu, koreografi, dan peralatan untuk memeriahkan laga penutup yang dianggap sebagai ”pesta” tersebut.

Mereka berharap laga di pekan terakhir Liga 1 tidak dicoreng kecurangan. ”Kami siap menerima apa pun hasil pertandingan besok sepanjang dilakukan dengan bersih. Bagi kami, PSM sudah lama menjadi juara di hati,” ujar Uki yang turut menyoroti sejumlah masalah dugaan kecurangan di Liga 1 musim ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.