Cendekiawan Diharapkan Ikut Makmurkan Rakyat

(Bersambung ke hlm 15 kol 1-3)

Kompas - - Halaman Dapan -

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia perlu mendukung para ilmuwan dan wirausaha untuk berkarya serta mendorong kemakmuran rakyat. Dalam konteks itu, penguasaan teknologi dan kewirausahaan menjadi sangat penting.

”Tanpa penguasaan teknologi dan kewirausahaan, kita akan ketinggalan terus. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen teknologi dan lebih banyak mengimpor daripada mengekspor,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam penutupan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) sekaligus peringatan Milad Ke-28 Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI), Sabtu (8/12/2018), di Lampung. Hadir pula dalam acara ini Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie.

Kalla menekankan pentingnya penguasaan teknologi karena teknologi berperan krusial dalam mewujudkan cita-cita swasembada pangan ataupun rumah murah yang sudah diinginkan Bung Karno sejak 70 tahun lalu.

Menurut Kalla, selain tugas pemerintah, mewujudkan swasembada pangan juga menjadi tugas mereka yang menguasai teknologi karena lahan tanaman pangan tak bisa diperluas terus-menerus. Yang jadi masalah, saat ini terdapat kesenjangan kemajuan di Indonesia. Ada sebagian yang sudah memasuki revolusi industri keempat, tetapi ada yang masih berkutat di revolusi industri ketiga, kedua, kesatu, bahkan sebelumnya.

Karena itu, Kalla mendorong ICMI agar tak hanya menggelar berbagai konferensi, tetapi juga gigih mendukung para ilmuwan dan wirausaha untuk berkarya. ”Kalau konferensi bisa memakmurkan rakyat, Indonesia sudah sangat makmur karena Indonesia adalah negara dengan jumlah konferensi paling banyak. Namun, yang bisa memakmurkan rakyat adalah teknologi dan kewirausahaan,” tutur Wapres.

Para anggota ICMI juga diharapkan menjadi cendekiawan Muslim yang menghasilkan kemakmuran, bukan menghasilkan

jabatan semata. Ke depan, lanjutnya, peran ICMI dalam memakmurkan rakyat Indonesia perlu menjadi tujuan dari organisasi cendekiawan yang sudah berusia 28 tahun ini.

BJ Habibie

Kalla yang juga Ketua Dewan Penasihat ICMI mengingatkan pula tentang sejarah pendirian organisasi itu oleh BJ Habibie. ICMI dibentuk atas desakan gigih para mahasiswa pada 1990. Saat itu, keberadaan ICMI menepis dugaan islamisasi dari organisasi Islam dan membuat Presiden Soeharto lebih dekat dengan kelompok Muslim.

Pada masa mendatang, ujar Kalla, ICMI perlu lebih berperan. Namun, peran ini tak lepas dari cita-cita awal pembentukannya, yakni menjaga keseimbangan antara kecendekiawanan dan keimanan.

Seusai acara penutupan, Wapres Kalla menjawab pertanyaan wartawan terkait dengan peran ICMI dalam mengatasi radikalisme. ”ICMI tentu berada dalam posisi bagaimana mengajak masyarakat, khususnya cendekiawan, untuk berbuat yang lebih baik. Itu sejak awal cita-citanya,” kata Kalla kepada wartawan.

Sementara itu, Jimly dalam pidatonya mengatakan, ICMI akan menyebarkan semangat hidup rukun antarumat beragama, berbangsa, dan bernegara. Semangat ini bahkan disebarluaskan ke negara-negara sahabat.

Ia mengungkapkan, ada antusiasme baru untuk kembali menggerakkan kegiatan ICMI dan mengembalikan basis ICMI ke kampus-kampus serta masjid-masjid. Semangat ICMI saat berdiri pada 1990 diharapkan terus menyebar dan menyumbang kemajuan bangsa.

Silaknas ICMI berlangsung pada 6-8 Desember di Universitas Bandar Lampung. Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 800 peserta ini, ujar Jimly, pada 6 Desember dideklarasikan pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Asia Tenggara (ICMA).

Silaknas ICMI dihadiri pula oleh perwakilan cendekiawan Muslim dari negara-negara Asia Tenggara. Semuanya sepakat untuk menunjukkan Islam yang berbeda di Asia Tenggara.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.