Eks Penyiar Televisi Jadi Dubes di PBB

Kompas - - Internasional -

Heather Nauert, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, menjadi calon kuat Duta Besar AS di Perserikatan Bangsa-Bangsa, menggantikan Nikki Haley yang mundur pada akhir tahun ini. Nauert memiliki cukup banyak pengalaman di bidang media, tetapi baru mencicipi pengalaman diplomatik tahun lalu.

Penunjukan Nauert (48) diumumkan Presiden Donald Trump, Jumat (7/12/2018). Trump mengaku terkesan dengan Nauert, yang dulu menjadi pembawa acara Fox & Friends, salah satu acara favorit Trump. ”Dia sangat berbakat, sangat cerdas, sangat cepat, dan saya pikir dia akan mendapat respek dari semua orang,” kata Trump kepada wartawan.

Nama Nauert sudah disebut-sebut Trump sejak November setelah Haley menyatakan akan mundur akhir tahun. ”Dia dalam pertimbangan sangat serius,” kata Trump ketika itu. ”Dia (Nauert) sangat hebat, dia sudah lama dengan kami, dia sudah menjadi pendukung sejak lama, sangat luar biasa.”

Nauert sudah dua kali menjadi pejabat di Deplu AS, yakni saat di bawah Rex Tillerson dan juga di bawah Mike Pompeo. Karena tak cocok dengan Tillerson, dia sempat akan mengundurkan diri sebagai juru bicara, tetapi batal setelah ditawari promosi. Dia diangkat sebagai penjabat wakil menlu yang membidangi diplomasi dan urusan publik.

Di lingkungan Deplu AS, ia pejabat tertinggi keempat. Setiap malam, ia bertanggung jawab memantau saluran komunikasi dari perwakilan luar negeri AS di seluruh dunia. Ia juga harus menangkis propaganda dari berbagai kalangan, mulai dari kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) hingga lawan-lawan politik AS di panggung internasional.

Seperti halnya Haley, Nauert juga minim pengalaman kebijakan luar negeri. Namun, nama Haley sudah lebih dikenal secara nasional sebagai Gubernur South Carolina. Sebagai Dubes AS untuk PBB, dia nantinya akan menyuarakan kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.

Master jurnalisme lulusan

Columbia University ini memulai karier sebagai reporter sindikasi televisi untuk program bisnis pada tahun 1996.

Namanya melambung saat dia menjadi pembawa acara di televisi ABC News. Dari ABC

News, Nauert pindah bergabung dengan Fox News dan membawakan acara Fox &

Friends. Pengangkatan Nauert diperkirakan akan memperkuat hubungan antara Fox

News dan Trump. Fox News dianggap semakin condong sebagai kanal konservatif.

Tidak seperti Jubir Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders, yang debat kusirnya dengan wartawan kerap ditayangkan televisi secara langsung, Nauert menikmati hubungan kerja yang tidak terlalu menekan dengan korps wartawan Deplu yang jumlahnya lebih sedikit dibanding wartawan Gedung Putih. Juni lalu, Nauert menjadi bahan sindiran ketika menyatakan peristiwa pendaratan Normandy—peristiwa AS, Inggris, dan para sekutunya menyerbu Perancis yang diduduki Nazi pada 1944—sebagai bukti ”hubungan kuat” yang berlangsung lama antara AS dan Jerman.

Dipertanyakan

Brett Bruen, yang menjabat Direktur Pelibatan Global Gedung Putih pada era Presiden Barack Obama, mempertanyakan apakah Nauert sudah menjadi pilihan terbaik saat ”pengaruh Amerika di panggung dunia rendah dalam sejarah”.

”Kita butuh dari sekadar seorang jubir yang lancar. Kami butuh suara orang berpengalaman, tenang, dan kuat yang memahami seluk-beluk diplomasi multinasional,” ujar Bruen.

Eliot Engel, anggota DPR dari Demokrat yang bakal menjadi Ketua Komisi Luar Negeri, juga menyoroti kurangnya pengalaman Nauert. Tugas di PBB ”butuh negosiasi tatap muka dengan para mitra penting maupun lawan-lawan yang keras”. Senat, yang masih dikuasai Republik, akan mengonfirmasi penunjukan Nauert sebagai Dubes AS untuk PBB.

Bagi Indonesia, yang tahun depan akan memulai tugas sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Nauert bakal menjadi mitra—dan sekaligus juga lawan diplomasi—terutama pada isu-isu utama dalam sidang-sidang Dewan Keamanan PBB. Dalam isu-isu yang menjadi perhatian dan agenda utama Indonesia, seperti isu Palestina, dia bisa menjadi salah ”rival” jika melihat posisi AS yang saat ini sangat pro-Israel.

AP PHOTO

Heather Nauert

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.