Servis Jadi Kunci Kemenangan

Memanfaatkan servis menekan dan penerimaan bola pertama untuk membangun serangan, tim putra Jakarta BNI 46 mengalahkan tim Sidoarjo Aneka Gas Industri.

Kompas - - Olahraga -

YOGYAKARTA, KOMPAS — Servis dan penerimaan bola pertama yang baik menjadi faktor penting untuk memenangi sebuah laga bola voli. Hal itu kembali terbukti pada seri pertama Proliga 2019 di GOR Amongrogo, Yogyakarta, saat tim putra Jakarta BNI 46 mengalahkan tim debutan, Sidoarjo Aneka Gas Industri, 3-0 (25-22, 25-17, 25-15), pada hari kedua, Sabtu (8/12/2018).

Dalam laga itu, tingkat kesuksesan servis dan bola pertama Jakarta BNI 46 untuk membuahkan poin lebih dari 80 persen, sedangkan Aneka Gas hanya sekitar 50 persen. Kesempatan mereka melakukan servis justru kerap menjadi kesempatan BNI untuk mendulang angka.

Pelatih Jakarta BNI 46 Samsul Jais mengatakan, dalam voli modern tim yang menguasai servis dan bola pertama akan memenangi permainan. Dua hal itu pula yang menjadi fokus persiapan tim jelang Proliga.

Di samping itu, materi pemain BNI juga lebih baik daripada lawan. BNI diperkuat pemain cukup berpengalaman sehingga bisa bermain lebih tenang dan menikmati permainan. ”Pada pertandingan tadi, lawan jarang menekan. Servis mereka sering gagal dan tidak agresif,” katanya.

Pelatih Aneka Gas Joni Sugiyatno mengakui, permainan anak asuh tidak berkembang. Selain tidak melakukan servis dan bola pertama dengan baik, blok dan pertahanan mereka juga buruk.

Selain mental bertanding pemain muda belum terbentuk, mantan pemain nasional itu mengatakan, persiapan tim minim. ”Kami hanya bersiap satu bulan menghadapi Proliga 2019. Bahkan, pemain asing kami, Arua De Faria Guimares asal Brasil dan Juan Andres Leon Gonzalez asal Kuba, baru bergabung dengan tim satu hari sebelum laga ini,” ujarnya.

Aneka Gas berpeluang memperbaiki penampilan mereka pada laga kedua, Minggu ini. Namun, mereka akan menghadapi lawan cukup kuat, yakni juara Proliga 2017, Jakarta Pertamina Energi.

Pertamina tampil belum maksimal. Pada penampilan pertama, mereka dipaksa bermain lima set oleh tim debutan Jakarta Garuda. Tim yang dibentuk PBVSI untuk regenerasi pemain ini mampu mengimbangi Pertamina yang diasuh pelatih senior Putut Marhaento. Namun, Garuda akhirnya menyerah 2-3 (20-25, 25-23, 25-20, 12-25, 14-16).

Putut mengapresiasi permainan para pemain Garuda. Selain unggul tenaga, permainan cepat dan berenergi mereka membuat timnya tidak bermain dengan irama sendiri. ”Di tiga set awal, kami terbawa permainan itu. Namun, di dua set berikutnya kami bisa bermain dengan cara sendiri,” katanya.

Putut menargetkan tim menjadi juara sehingga mereka harus selalu merebut kemenangan di setiap pertandingan, lebih-lebih saat menjadi tuan rumah seperti pada seri pertama. ”Tadi, kami berusaha menganalisis permainan mereka. Akhirnya, kami bisa membaca permainan mereka dan menang,” katanya.

Tanpa ”time out”

Di bagian putri, tim kuat Jakarta PGN Popsivo Polwan menang meyakinkan atas juara Proliga 2014-2016, Jakarta Elektrik PLN, 3-0 (25-16, 25-22, 25-20). Dominasi Popsivo membuat pelatih asal Thailand Chamnan Dokmai mencoba tidak melakukan time out sepanjang laga.

Setiap tim mendapat jatah dua kali time out setiap set, selain dua technical time out yang dilakukan tim mencapai angka 8 dan 16 lebih dulu. Chamnan mengatakan, dirinya sengaja tidak meminta time out untuk membiasakan pemain melawan tekanan dengan cara sendiri. Ia menilai, kekurangan utama pemain Indonesia adalah tidak mampu mengatasi tekanan mental. ”Lewat cara ini, saya coba benahi kelemahan itu,” ujarnya.

Selain itu, materi pemain Popsivo lebih kuat dari Elektrik. Di barisan pemain terdapat nama spiker nasional Aprilia Manganan, Amalia Fajrina, Wilda SN Sugandi, dan libero Berllian Marsheilla. ”Di atas kertas, kami sudah unggul. Untuk itu, saya berani tidak ambil time out,” katanya.

Pelatih Elektrik Octavian mengatakan, pemain tidak bermain sebaik latihan karena minim pengalaman bertanding. ”Dari delapan pemain berumur di bawah 20 tahun, hanya Ratri Wulandari (16) dan Alya Anastasya (18) yang mental bertandingnya cukup baik. Namun, mereka juga masih melakukan kesalahan sendiri,”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.