Gajah di Subulussalam Direlokasi

Kompas - - Nusantara -

SUBULUSSALAM, KOMPAS — Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh masih berjibaku merelokasi seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar dari hutan Kota Subulussalam ke hutan lindung di kawasan Bengkung, Kabupaten Aceh Selatan. Relokasi dilakukan karena habitat awal rusak dan gajah rawan jadi sasaran perburuan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Sapto Aji Prabowo mengatakan, sejak Kamis (6/12/2018) hingga Sabtu (8/12), tim gabungan masih berada di hutan Subulussalam mengikuti pergerakan gajah itu dan menunggu saat yang tepat untuk menembakkan alat bius.

”Kesulitan tim karena gajah sangat fit jadi sangat aktif. Di lokasi, semak belukarnya cukup tinggi sehingga agak menyulitkan tim mendapatkan posisi menembak yang tepat,” kata Sapto.

Sabtu siang, tim berhasil menembakkan peluru bius ke gajah betina berusia 20 tahun itu. Selanjutnya gajah diangkut dengan truk ke hutan sampai lokasi yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Kemudian, gajah itu ditarik gajah jinak ke tengah hutan.

Sebanyak 30 anggota gabungan dari BKSDA Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, USAID Lestari, dan lembaga swadaya masyarakat lingkungan turun ke lokasi. Proses relokasi melibatkan lima gajah jinak.

Sapto mengatakan, relokasi adalah pilihan terbaik. Di Subulussalam, gajah tersisa satu ekor dari sebelumnya delapan ekor pada 2010. Beberapa gajah diketahui mati dan sebagian tidak diketahui keberadaannya.

”Gajah liar yang direlokasi itu dipasangi kalung deteksi agar dapat dipantau jalur jelajahnya,” kata Sapto.

Kepala Pusat Kajian Satwa Liar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Wahdi Azmi mengatakan, pembukaan lahan secara masif untuk perkebunan memicu konflik gajah dengan manusia. Perdagangan organ satwa di pasar gelap juga memicu perburuan.

Menurut Wahdi, pembangunan parit pembatas untuk habitat gajah menjadi salah satu solusi menekan konflik. Selain itu, perlu pendidikan kepada warga di kawasan hutan agar bertanam tanaman yang tidak disukai gajah.

Koordinator pemantauan Forum Konservasi Leuser (FKL), Tezar Fahlevi, mengatakan, gajah termasuk satwa lindung yang paling diburu. Selama Januari-Juni 2018, tim patroli FKL menemukan 497 jerat yang diduga dipasang pemburu untuk menjerat satwa lindung di kawasan ekosistem Leuser. Jerat berupa baja sling ukuran besar dan kecil. Perangkap burung dan papan yang ditancapi paku untuk menjebak gajah juga ditemukan.

”Selama enam bulan kami menemukan 61 bangkai berbagai satwa lindung. Tulang belulang gajah kami serahkan ke BKSDA,” kata Tezar.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.