Laga di Kota Mesin

Mortal

Kompas - - Hiburan | Film - FRANSISCA ROMANA NINIK

Kota besar yang lapar akan segala bentuk sumber daya untuk bertahan hidup menjadi potret besar dalam film fantasi Kerakusan manusia demi menjadi yang paling berkuasa berhadapan dengan para pemberani yang menentangnya.

Film Mortal Engines diadaptasi dari novel karya Philip Reeve berjudul sama yang diterbitkan tahun 2001. Novel ini merupakan yang pertama dari empat rangkaian, yakni Predator’s Gold (2003), Infernal Devices (2005), dan A Darkling Plain (2006). Diangkat ke layar lebar, kisah ini dibalut dengan efek visual yang menawan, menyuguhkan petualangan yang menarik diikuti.

Sutradara, penulis, dan produser Peter Jackson yang dikenal lewat trilogi The Lord of the Rings dan The Hobbit membeli hak atas buku Mortal Engines tahun 2009. Namun, pembuatannya baru dimulai tahun 2016. Jackson membawa serta sejumlah kru dari The Lord of the Rings dan The Hobbit untuk menggarap Mortal Engines, di antaranya Fran Walsh dan Philippa Boyens sebagai penulis skenario.

Christian Rivers dipercaya menjadi sutradara. Film ini menjadi debut penyutradaraan Rivers yang menangani efek visual trilogi The Hobbit. Tak heran jika efek visual menjadi salah satu kekuatan film Mortal Engines.

Mortal Engines berlatar di Bumi ratusan tahun setelah peradaban sekarang ini musnah oleh Perang 60 Menit. Kota-kota bertahan hidup dengan berebut sumber daya, mengais-ngais teknologi lama, dan mencaplok kota-kota kecil yang tak berdaya karena kondisi geologis Bumi yang berubah drastis.

London, yang digambarkan sebagai salah satu kota terbesar yang dibangun bagaikan tumpukan rongsokan raksasa, melaju dan terus memangsa siapa pun di hadapannya untuk merebut sumber dayanya. Jika berhasil menelan sebuah kota kecil, segala teknologi yang dimiliki dirampas, penghuninya menjadi pekerja kelas terbawah, sisa kota yang tak berguna dimusnahkan.

Kelompok arkeolog dan sejarawan menyandang jabatan penting, dipimpin Thaddeus Valentine (Hugo Weaving), yang berambisi membawa kehidupan lebih baik bagi London dan warganya. Dalam sebuah pengejaran, London yang dipimpin Wali Kota Magnus Crome (Peter Malahide) berhasil memangsa Salthook dengan seorang gadis misterius di dalamnya.

Saat pengejaran berlangsung, di sisi lain London, yakni di Museum London, Tom Natsworthy (Robert Sheehan), seorang pegawai museum, tengah menjelaskan tentang Perang 60 Menit dan berbagai teknologi lama yang dimiliki Bumi sebelum perang kepada Katherine (Leila George),

Adegan Film ”Mortal Engines”

putri Thaddeus, yang berminat mempelajarinya.

Tom ditugasi ikut menyortir barang milik Salthook ketika dia bertemu Thaddeus yang ternyata sangat berminat pada teknologi lama. Ketika itulah, si gadis misterius yang kemudian dikenal sebagai Hester Shaw (Hera Hilmar) menyerang Thaddeus dengan maksud balas dendam kematian ibunya.

Hester melarikan diri. Tom mengejar. Thaddeus mengejar. Hester lolos lewat lubang sampah setelah menyampaikan rahasia kepada Tom. Thaddeus menganggap Tom berbahaya, lalu mendorong Tom keluar dari London.

Tak ingin bersusah-payah, Thaddeus melepaskan tahanan bengis dari golongan mati yang dibangkitkan bernama Shrike (Stephen Lang), yang berbentuk setengah robot. Dia memiliki dendam tersendiri kepada Hester. Dia melanjutkan proyek misterius di dalam katedral St Paul, di puncak London.

Hester dan Tom lalu bersama-sama menyelamatkan diri dari dunia luar yang berbahaya. Keduanya ditemukan Anna Fang (Jihae), pilot dari kelompok anti-traksi di kota Shan Guo di balik tembok kokoh, yang menentang London. Dari dialah, misteri kematian ibunda Hester terkuak, membawa kunci untuk menghentikan proyek Thaddeus.

Mortal Engines dengan perlahan memperkenalkan setiap karakter berikut kisah mereka. Beberapa plot kilas balik dimanfaatkan untuk memberikan jalan bagi cerita untuk menggelinding.

Bagi penonton yang belum pernah membaca novel Reeve, pengenalan cerita dan karakter ini sangat penting untuk menjamin mereka tetap berada di tempat duduk dan mengikuti film sampai selesai.

Aktor Hugo Weaving, yang dikenal sebagai raja peri Elrond dalam seri The Lord of the Rings, tampil dominan sebagai karakter antagonis. Aktris dan penyanyi Korea Selatan, Jihae, juga mencuri perhatian lewat aktingnya sebagai Anna Fang dengan penampilan keren dan ekspresi nyaris sama sepanjang film. Dia mengenakan jubah merah, senada dengan warna pesawatnya, Jeny Haniver.

Dewa Amerika

Dalam film ini digambarkan betapa ponsel pintar terbaru saat ini hanya jadi artefak di Museum London. Mereka juga menyimpan dewa Amerika berbentuk dua patung Minions bersama dengan peta dunia dan pemanggang roti.

Film fiksi ilmiah ini memang sangat mengandalkan efek visual untuk memberikan nyawa pada keseluruhan cerita. Gambaran rangkaian mesin rumit yang menjalankan London, misalnya, terlihat rumit meskipun berupa rongsokan. Kota para pilot anti-traksi mirip ubur-ubur raksasa mengapung di udara dengan ratusan pesawat model kuno, tetapi peralatan canggih menyesakinya.

Kota Shan Guo digambarkan sangat cantik sebagai sebuah permukiman yang diam di lereng bukit hijau berlatar pegunungan berpucuk salju. Kota cantik inilah yang menjadi salah satu incaran Thaddeus.

Tak sekadar menampilkan efek visual menawan, Mortal Engines juga menyajikan laga yang cukup intens. Aksi kejar-kejaran Hester dan Tom di antara deru mesin besar yang ganas dan memercikkan api mampu membuat penonton menahan napas. Begitu pula aksi para penerbang anti-traksi yang menerobos pertahanan London dan melumpuhkan meriam-meriam pelindung kota predator itu juga cukup menegangkan.

Terasa ada nuansa konstelasi politik global antara Timur dan Barat, dengan London merepresentasikan Barat dan Shan Guo mewakili Timur. Penghuni Shan Guo digambarkan beretnis Asia dipimpin Gubernur Kwan (Kee Chan).

Meskipun hidup terasa rumit seperti mesin-mesin penyokong kota, Mortal Engines dengan sederhana memperlihatkan bahwa keinginan manusia untuk berkuasa tak lekang zaman.

FOTO-FOTO: IMDB/UNIVERSAL PICTURES

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.