Pertahankan Keutuhan Bangsa

Kompas - - Pendidikan & Kebudayaan -

JAKARTA, KOMPAS — Belasan tokoh, budayawan, dan aktivis yang bergabung dalam Mufakat Budaya Indonesia mengimbau masyarakat menghentikan praktik-praktik yang bisa memicu perpecahan selama Pemilu 2019. Perpecahan akan melemahkan bahkan menghancurkan bangsa Indonesia yang telah dibangun oleh para leluhur sejak ribuan tahun lalu.

Budayawan Radhar Panca Dahana, di Jakarta, Selasa (12/3/2019), mengatakan, kontestasi politik telah meningkatkan perpecahan antarkelompok masyarakat yang didasari oleh perbedaan suku, bangsa, agama, dan keyakinan, bahkan pilihan politik. Perpecahan itu berujung pada konflik horizontal dan vertikal di tengah masyarakat.

”Kita dengar langsung di kalangan bawah. Pascapilpres siapa pun yang menang, katanya akan ribut. Jika sampai terjadi, akan banyak pihak yang mengambil keuntungan,” kata Radhar, yang membacakan pernyataan dan imbauan Mufakat Budaya Indonesia. Sejumlah tokoh hadir pada kesempatan ini, antara lain Niniek L Karim, Adi Kurdi, Renny Djajoesman, Donny Gahral Ardian, dan Suhadi Sendjaja.

Menurut Radhar, kondisi ini akan terus memburuk jika tidak segera dihentikan. Untuk bisa menangkalnya, kebudayaan harus bergerak dan bersuara. Nilai-nilai kemanusiaan universal harus dijunjung kembali.

Akademisi Donny Gahral Ardian mengatakan, segregasi sosial dan kultural yang dipicu oleh kontestasi politik ini sedang menggiring bangsa Indonesia ke ambang kehancuran. Jika dibiarkan, dia khawatir konflik seperti di Libya, Suriah, dan Sudan juga akan menimpa Indonesia.

Untuk mengatasi persoalan ini, kata Donny, butuh katalis yang bisa menciptakan kembali kondisi bangsa Indonesia yang penuh persaudaraan. Menjunjung kembali nilai-nilai kebudayaan bisa menjadi solusi untuk mengatasi persoalan yang ditinggalkan aktivitas politik praktis ini.

Mufakat Budaya Indonesia menyampaikan sembilan imbauan kepada masyarakat. Inti dari imbauan itu, antara lain, menekankan kembali karakter bangsa Indonesia yang komunalistik, bahwa kepentingan orang banyak jauh lebih utama daripada kepentingan personal.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.