Kerap diremehkan kala menjajaki dunia perfilman, kini namanya justru menjadi buah bibir tentunya dengan membawa karya sebagai hasil perjalanan panjangnya hingga menjadi seorang sutradara yang disegani. Perbincangan santai yang patut disimak mulai dari awa

Maxim (Indonesia) - - Sex Life -

Seorang pria kurus berkacamata dengan balutan topi fedora di kepala akhirnya muncul untuk menjalani sesi foto dan wawancara hari itu. Kecintaannya pada sang anak yang sedang sakit saat itu berimbas mundurnya jadwal pertemuan yang telah disepakati. Segelas air putih dingin menjadi solusi yang menenangkan untuk memulai percakapan. Memulai karier sebagai sutradara di usia yang terbilang cukup muda, 19 tahun, Angga Dwimas Sasongko nama lengkapnya, menjadi salah satu orang yang memiliki determinasi tinggi terhadap keinginan yang ia capai. “Jadi dari SMA itu gue udah suka bikin film-film pendek, dan ada yang diikutsertakan masuk festival,” ujar Angga, begitu ia disapa. Dari situlah kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam pembuatan film Catatan Akhir Sekolah garapan Hanung Bramantyo sebagai sutradara dan Erwin Arnada sebagai produser. “Gue baru lulus SMA saat itu, terus ditawarin sama mas Erwin (Arnada) ikut di film Catatan Akhir Sekolah. Sejak saat itu gue mulai garap banyak kerjaan video klip atau iklan,” kenang Angga yang kini telah berusia 31 tahun. Film Foto, Kotak dan Jendela, adalah debut film panjangnya sebagai sutradara. Walaupun film ini dibuat tidak untuk diputar di bioskop secara komersil, namun film ini mendapatkan respons yang sangat baik di kalangan dunia perfilman. “Dengan segala sumber daya yang ada, dan di usia yang baru 21 tahun saat itu, gue puas dan enggak malu dengan hasil filmnya,” katanya menanggapi hasil dari film pertamanya itu. Apa yang ia raih bukan tanpa hambatan. Cibiran serta diremehkan banyak orang menjadi makanannya sehari-hari kala ia mengawali kariernya. Apalagi jejak rekam pendidikan yang bukan dari perfilman seolah menjadikan dirinya sebagai bahan cemoohan saat ia menjalani suatu produksi. Namun, dengan sikap yang gigih, ia tidak ingin larut dalam emosi sesaat, pembuktian dengan karya menjadi senjatanya. “Percaya atau enggak, mereka yang dulu meremehkan gue itu sekarang enggak jadi apa-apa, bahkan namanya aja enggak kedengaran sama sekali,” uajrnya berapi-api. Dengan teori ‘tak peduli omongan orang’ nyatanya membawa kesuksesan tinggi bagi dirinya. Film Hari Untuk Amanda (2009), Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2013) dan terakhir Filosofi Kopi (2015) yang disutradarainya menuai kesuksesan, baik dari kualitas maupun kuantitas terutama untuk Filosofi Kopi. Di bawah perusahaan film yang ia dirikan Visinema Pictures, penyuka film The Dark Night, Chungking Ekspress dan We Bought A Zoo ini semakin diperhitungkan dalam kancah industri perfilman Tanah Air. Tak berhenti di situ, Angga juga melihat peluang bisnis di sektor lain seperti firma strategic consultant yang juga ia jalankan sebagai creative communication partner baik itu politik atau apapun. “Gue juga lagi coba bikin beberapa start up, tapi lagi proses,” ujar Angga yang menjadikan ibunya sebagai tokoh utama yang menginspirasinya. Berbicara investasi, yang terbesar saat ini menurutnya adalah human resources, dimana ia telah memulainya kepada talentatalenta muda yang potensial untuk diberikan kesempatan tanggung jawab yang besar. Jangan terkejut bila kita berkunjung ke kantor Visinema akan didapatkan anak-anak muda potensial berusia di bawah 30 tahun yang telah diberikan kesempatan serta tanggung jawab yang besar dalam pekerjaannya. “Apa yang gue dapat sekarang bukan karena skill dan determinasi doang, tapi karena ada orang yang berani kasih gue tanggung jawab di usia gue yang masih sangat muda. Jadi, investasi terbesar gue itu ya di human resource,” katanya menjelaskan. Kembali ke dunia perfilman, Angga melihat perkembangannya di Indonesia secara bisnis masih dalam tahap struggle namun di jalur yang mulai tepat. Ditambah lagi, banyaknya ajang apresiasi film yang mulai kompetitif, dalam arti mulai terbuka, tidak tebang pilih, sehingga film yang memang bagus dapat menang. Tentunya hal ini memicu para pekerja film untuk berlomba-lomba membuat film bagus dan berkualitas. Lalu bagaimana suatu film itu dikatakan berkualitas? Angga menjelaskan, naskah yang bagus dan kuat menjadi salah satu faktor suatu film dikatakan berkualitas. “Gue jadi ingat satu film judulnya Tangerine, syutingnya hanya pakai iPhone, kualitas gambarnya enggak bagus, tapi naskahnya kuat dan keren. Gue sampai level iri ngelihatnya,” ungkap Angga. Dengan berbagai kesuksesan yang ia raih, sedikit tersembunyi obsesi dari dirinya untuk membuat suatu film action yang memang menjadi keinginannya yang belum tercapai. “Gue dari dulu ingin banget bikin film action, tentang spionase gitu,” ucapnya. Mengakhiri pembicaraan sore itu, Angga tidak lupa memberikan suatu masukan bagi mereka yang baru ingin mencoba menjajaki dunia perfilman, entah itu sebagai sutradara atau apapun, bahwa percaya dengan jalan yang dipilih akan berujung kesuksesan besar. “Don’t give a f**k sama apa yang orang omongin, percaya aja sama apa yang kalian jalankan,” pungkas sang sutradara mengakhiri pembicaraan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.