Jelita Pulau Muna

Maxim (Indonesia) - - Table of Contents -

Pulau Muna memiliki keragaman alam dan budaya yang sangat kaya, mulai dari gua purba penuh lukisan, mata air jernih, sampai pasir pantai berwarna keemasan.

Ketika menyusuri jalan berliku-liku dari Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara, dan akhirnya tiba di Pelabuhan Nusantara Kendari, saya menepuk kedua tangan dan bersemangat mengatakan, “And the journey begin!” Saya mau ke mana, sih? Buton? Bukan. Wakatobi? Bukan. Patut diakui, keduanya memang destinasi paling populer kalau bicara tentang Sulawesi Tenggara. Tapi, tidak. Saya bukan mengarahkan kapal ke dua pulau tersebut. Saya sedang berlayar menuju Muna. Pulau Muna, yang beribukota Raha, adalah sebuah pulau di ujung Sulawesi Tenggara. Feri cepat dari Kendari membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk tiba di Muna. Pulau ini dulu terkenal karena jatinya yang melimpah dan jadi komoditas ekspor. Sekarang, pulau yang dulunya disebut dengan Wuna—yang artinya “bunga”—ini bersiap-siap memperkenalkan pariwisata mereka ke khalayak lebih luas. Ketika turun dari feri cepat, saya pertama kali menginjakkan kaki di Raha. Ibukota Muna bernama Raha. Tepatnya, Pelabuhan Raha. Selayaknya pelabuhan kebanyakan, Pelabuhan Raha di tepi pantainya ramai-takpadat oleh pedagang. Lahan parkir tampak sering kosong. Lalu lintas di jalan raya sangat sepi. Udara begitu panas, tapi tidak berpolusi. Kesibukan Raha hanya terlihat di beberapa titik saja. Seperti pasar, beberapa jalan utama tempat berjajar toko kelontong dan warung makan, atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di tepi pantai—yang juga jadi tempat sarapan terbaik dengan pemandangan pagi yang indah dan ikan-ikan serta seafood bakar yang segar baru ditangkap. Yum! Tapi, belum ke Muna kalau hanya ke Raha. Muna memiliki potensi wisata yang bikin saya sendiri berdecak kagum, tapi tidak bakal tahu kalau tidak bertualang ke penjuru pulau ini.

Layang-layang Tertua di Dunia

Tentang destinasi di Muna, dari sekian banyak hal, saya terlalu penasaran pada dua hal. Yang pertama, layang-layang tertua di dunia ( yes, Muna memegang predikat tersebut, bukan Tiongkok). Dan kedua, tentang gua karst yang di dalamnya terdapat lukisan berusia ribuan tahun. Muna memiliki tradisi membuat layanglayang sejak sangat lama. Di Muna, ia disebut

kaghati kolope, atau artinya “layang-layang yang terbuat dari daun kolope” dalam bahasa Muna. Saya bisa mendengar kebanggaan masyarakat Muna ketika bercerita tentang negerinya yang masuk dalam sejarah sebagai tempat layanglayang tertua berada. Saya sendiri terkesima begitu sempat melihat langsung kaghati menempel di dinding kantor Dinas Pariwisata Muna. Cantik betul. Kaghati kolope adalah layang-layang yang ‘disahkan’ oleh peneliti Jerman bernama Wolfgang Beck sebagai yang tertua di dunia. Kaghati ini tidak seperti layang-layang biasa. Penampakannya pun menarik karena tubuhnya yang berbentuk segiempat terbuat dari daun kolope— sejenis umbi-umbian hutan. Sementara, tulang rangkanya tersebut dari batang dari bambu. Bagi warga Jakarta yang ingin melihat seperti apa bentuk layang-layang asal Muna ini, bisa langsung datang ke Museum Layang-layang, Jakarta Selatan. Lalu, kenapa Beck bisa dengan yakin menyebutkan bahwa kaghati kolope adalah tertua di dunia? Karena Beck datang ke Muna dan melihat lukisan purba bergambar layanglayang dan orang yang menerbangkan layanglayang yang ditemukan di Gua Sugi Patani di Kecamatan Lohia. Layang-layang asal Tiongkok disebut-sebut berusia sekitar 2.000-an tahun. Sementara, usia lukisan purba di gua-gua karst di Muna diteliti berusia sekitar 4.000 tahun. Dari kenyataan ini bisa diketahui Kaghati kolope jauh lebih tua.

Gua Karst Penuh Lukisan Purba

Sudah bisa ditebak, destinasi selanjutnya yang bisa menuntaskan penasaran saya adalah mengunjungi gua karst. Tapi, sayang, tempo hari saya tidak sempat ke Sugi Patani, melihat langsung lukisan layang-layang di dinding gua. Sekadar informasi, Pulau Muna memiliki banyak sekali gua karst. Sejak ribuan tahun lalu, gua karst di Muna telah menjadi tempat tinggal bagi manusia purba. Tepat memang, karena gua karst biasanya luas, teduh, dan memiliki sumber air di dalam gua. Tapi, bukan berarti semua gua dapat ditinggali. Sekitar 30-45 menit dari Raha, saya akhirnya tiba di kawasan karst di Kecamatan Lohia yang berbukit-bukit, penuh pepohonan, dan penuh gua. Di area ini, semua tampak lebih teduh dan tenang. Dari jauh, saya sudah melihat mulut gua yang besar. Saya menaiki tangga batu yang sudah agak berlumut (tangga ini dibuat oleh

masyarakat, bukan berasal dari masa lalu), dan lalu beku. Saya memandangi dindingdinding gua yang penuh dengan lukisan purba yang berwarna cokelat tua dan saya terpana. Kabarnya, lukisan itu dibuat dari utamanya tanah liat, darah hewan buruan, dan getah kayu. Hal yang mengagumkan adalah lukisanlukisan itu masih tercetak jelas hingga ribuan bahkan puluhan ribu tahun kemudian. Kawan-kawan dari Dinas Pariwisata Muna dan komunitas di Muna nyengir lebar ke arah saya. Sementara mulut saya hanya bisa membentuk kata “wow” tapi tak bersuara. Gua ini bernama Gua Metanduno. Setelah freezing-moment usai, saya mulai memasuki mulut gua setinggi 2,8 m dan lebar 21,9 m. Lukisan di dinding begitu ramai, mulai dari gambar hewan bertanduk yang besar-besar, kuda yang ditunggangi, ksatria dengan pedang, perahu berisi banyak orang, hingga matahari. Lukisan dinding dalam gua selalu menjadi bukti nyata bahwa gua tersebut digunakan sebagai tempat tinggal, termasuk Metanduno. Saya bisa memahami alasan manusia prasejarah memilih gua ini sebagai tempat tinggal. Metanduno dengan tinggi gua sekitar 7 meter, lebar perut gua 17,2 m, dan panjang rongga gua 23 m, merupakan gua yang bisa dikatakan luas dan terang. Sirkulasi udara baik, sehingga hawa di dalam gua tidak apek atau tetap segar. Beberapa bagian gua ditutupi oleh lumut. Pertanda tidak ada yang menjejakkan kaki di sana sekian lama. Di beberapa sudut terdapat stalakmit dan stalaktit yang basah. Di bagian atas gua malah terdapat cerukan batu yang menampung tetesan air. Bukti kalau gua tersebut menyimpan air. Mungkin saja, dulu ada sumber air berlimpah di dalam gua ini. Saya kemudian mendekat—tidak menyentuh—ke dinding-dinding gua. Mengagumkan sekali mengetahui bahwa gambar-gambar di dinding ini sudah ada sejak 4.000-an tahun lalu. Saya melihat tiap lukisan sudah ditandai nomor-nomor. Rupanya, ini adalah upaya para arkeolog yang meneliti gua, untuk menandai sekaligus menghitung lukisan tersebut. Total ada 310 lukisan di sini. Lalu saya tersadar, nama metanduno memang sesuai dengan gua ini—tandu artinya “tanduk” karena sangat banyak gambar hewan bertanduk di dinding gua. Feri Latief, seorang kawan yang juga fotografer, mengatakan, “Kalau sekarang kita update status lewat media sosial, manusia zaman dulu update statusnya ya ngelukis di gua.” Ia terkekeh, tapi masuk akal. Melukis di dinding gua tempat tinggal, menurut para peneliti pun, juga merupakan upaya manusia prasejarah untuk bercerita, untuk menetapkan eksistensi mereka di dunia ini. Oleh sebab itu, semua lukisan ini adalah tentang apa yang mereka temui atau lakukan sehari-hari. Mulai dari berlayar, berperang, bermain layang-layang, beternak, dan lain-lain. Tepat di belakang Gua Metanduno terdapat satu lagi gua karst yang namanya sudah cukup dikenal masyarakat. Namanya, Liang Kabori. Tidak berbeda dengan Metanduno, Liang Kabori memiliki tangga batu rapi di depan mulut gua. Tangga ini baru dibuat pada 1992. Liang Kabori yang artinya “gua bertulis” ini juga memiliki lukisan di dindingnya, seperti pohon kelapa, gajah, hewan ternak seperti sapi dan kuda, serta gambar matahari. Kabarnya, ada 130 lukisan di gua ini. Hanya saja, lukisan di Kabori warnanya cenderung lebih pudar. Bebatuan besar-besar terlihat megah di dalam Kabori. Sebagian besar warnanya kehijauan karena lumut. Stalaktit dan stalakmit juga ada di gua karst ini. Ambience yang saya rasakan ketika memasuki Kabori sama seperti Metanduno: nyaman, teduh, dan tidak apek. Sebetulnya, masih banyak lagi gua karst yang ada di Muna. Bahkan, masih di kawasan yang sama; Kecamatan Lohia. Tapi, sekarang kita beranjak dulu ke destinasi yang biru-biru.

Pulau Pasir Keemasan

Mari kita menyeberang lautan sebentar, lalu tiba di sebuah pulau dengan pasir pantai yang berwarna keemasan. Nama pulau ini adalah Towea. Ketika baru tiba di pulau ini, saya disambut oleh Masling, lelaki asli Towea kelahiran 1981. Sejak dari dermaga, tempat kapal cepat yang saya tumpangi bersandar, saya sudah terkesima pada pulau ini. Selain pasirnya tadi, dari atas dermaga, saya bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni di laut—saking jernihnya air laut di pulau ini. Kabarnya, snorkeling di sekitar pulau ini juga menyenangkan. Saya melihat gapura kedatangan bertuliskan Bungin Pinungan. Masling yang seperti membaca kebingungan saya mengatakan, “Itu karena di pulau ini ada bungin, atau daratan pasir memanjang yang baru kelihatan kalau air laut surut. Kalau pinungan, nama pohon berbuah kuning yang nanti, deh, saya kasih tahu. Pohonnya banyak tumbuh di sini.” Saat itu air laut belum surut dan bungin belum kelihatan. Oleh karena itu, Masling mengajak saya berkeliling pulau terlebih dulu. Saya bersama Masling menyusuri pantai yang semakin terik matahari, semakin keemasan warna pasirnya. Dari kejauhan, saya melihat pohon-pohon mangrove yang masih setinggi orang dewasa tumbuh di tepi pantai. Mangrove ini luasnya 125 hektar, katanya. Di dekatnya, ada rumah kayu dicat warna-warni. Saya menunjuk ke arah itu. Masling menjawab singkat, “Nanti mau dijadikan homestay.” Saya mengangguk saja. Lalu, tiba-tiba Masling melompat ke arah rerimbunan pohon, dan memetik buah kuning sebesar zaitun. “Ini pinungan. Coba, deh.” Saya

manut saja, dan langsung merasakan sensasi asam, manis, segar di mulut. Wah, menarik. “Ini biasanya jadi oleh-oleh nelayan yang baru pulang melaut, Mbak. Saya sendiri suka nunggu bapak saya pulang melaut, biasanya bawa pinungan.” Tiba-tiba di kejauhan, saya mendengar suara ciutan burung. Ada segerombolan burung berwarna putih yang tiba-tiba terbang rendah. Mereka bernyanyi, tapi lalu terbang lagi. “Wah, selamat, Mbak. Mereka itu burungburung selamat datang. Mereka biasanya keluar dari sarang buat menyambut orang-orang yang datang ke Towea. Nggak semua orang Mbak disambut kayak begitu,” kata Masling. Masyarakat setempat menamai burung ini dengan burung selamat datang yang bentuknya seperti camar. Pada dasarnya, Towea memang habitat bagi banyak jenis burung, di antaranya maleo gosong, bangau putih, dan camar. Hari sudah sore. Air laut sudah surut. Saya dan Masling kemudian kembali ke dermaga, sembari menyusuri pantai dengan pasir keemasan yang halus sekali. Benar saja, bungin yang diceritakan tadi sudah melela. Mengingatkan saya pada Pulau Dodola di Maluku Utara. Yang tadinya pantai, kini menjadi daratan yang membentang sepanjang mungkin sekitar 3 km. Tepat ketika senja tiba, Bungin Pinungan di Pulau Towea ini sedang cantikcantiknya. Sayang, waktu saya di Pulau Muna begitu sempit. Begitu banyak tempat, begitu sedikit waktu. Semoga suatu hari akan kembali lagi ke Muna, karena masih banyak tempat indah yang belum sempat dijelajahi. Mai te wuna!

teks & fotografi ASTRI APRIYANI

Sebuah pulau di Sulawesi Tenggara menyimpan keragaman alam dan budaya yang sangat kaya. Ada gua purba penuh lukisan gua, mata air jernih, danau penuh uburubur tak berpenyengat, hingga pantai dengan pasir berwarna keemasan. Perkenalkan, Pulau Muna.

1. Towea yang menjadi habitat bagi banyak burung; 2. Liang Kobori yang berarti "Gua Bertulis"; 3. Layang-layang Kaghati kolope; 4. Pantai Napabale dengan airnya yang kehijauan; 5. Mata air Danau Motonuno; 6. TPI Raha yang menggoyang lidah dengan...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.