Great Expectation: Fitra Netti

Tak hanya satu, tapi tiga anak hadir setelah 19 tahun. Kehamilan ini menjadi kejutan membahagiakan bagi Fitra Netti yang memiliki kelainan jantung, dan A. Hakim.

Mother & Baby (Indonesia) - - Contents -

BULAN KE-1

Saya punya masalah jantung, sehingga harus memakai alat pacu jantung (pace maker) yang ditanam, seumur hidup. Usia saya sudah 41 tahun saat itu, sehingga tidak terpikir akan hamil lagi. Saya mulai merasa aneh saat haid tidak kunjung tiba. Lewat 3 hari dari jadwal haid, saya penasaran dan mengecek dengan test pack. Hasilnya positif. Saya kaget, sekaligus bingung, mengingat usia saya yang tidak lagi muda. Saya tes dengan test pack hingga 5 kali, karena tidak percaya. Masih belum yakin, saya menanyakan kondisi ini ke dokter saat kontrol kondisi jantung. Saya lalu dirujuk ke dokter kandungan. Ingat sekali, saat itu 23 Januari 2017, dokter menyatakan saya hamil. Saya senang banget! Tes USG menyatakan bahwa sudah terbentuk 3 kantung di rahim. Saya makin bahagia, tapi juga makin bingung.

BULAN KE-2

Kalau umumnya wanita hamil kontrol sebulan sekali, saya dua minggu sekali. Selain karena jantung dan kondisi rahim saya yang tidak muda lagi, juga karena suami lebih protektif. Suami yang saya beritahu tepat saat ulang tahunnya, 7 Februari, jadi sering melarang saya pergi sendirian dan rajin mengingatkan untuk kontrol kehamilan. Suami sempat kaget dan bingung saat saya tunjukkan hasil test pack, tapi saking bahagianya, ia sampai menangis. Kami sudah lama ingin menambah momongan dan sempat berkonsultasi ke beberapa dokter, tapi hasilnya nihil. Kabar kehamilan ini tentu sangat membahagiakan. Meskipun begitu, saya sempat pusing dan stres memikirkan cara memberi tahu kehamilan ini pada anak pertama kami, Shafira, 20.

BULAN KE-3

Di bulan ketiga ini, saya mulai mual-mual dan tidak nafsu makan. Rasanya susah sekali untuk makan.

Akhirnya saya harus dirawat di rumah sakit selama 5 hari karena kekurangan gizi. Sepertinya, stres memikirkan cara memberitahukan kehamilan pada Shafira memengaruhi suasana hati untuk makan. Setelah masuk rumah sakit, saya baru berani memberitahunya. Ia kaget. Tapi ia dapat menerima dan mendukung kehamilan ini. Bahkan ia sempat bilang, “Lelah juga jadi anak tunggal, sendirian”. Saya pun mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan si triplet.

BULAN KE-4

Saya masih susah makan. Asupan gizi pun kembali menurun. Akibatnya, saya kembali dirawat di rumah sakit. Saya tidak tahu kenapa nafsu makan hilang. Saya mulai melakukan kontrol kehamilan seminggu sekali. Bila biasanya saya kontrol daya pace maker setiap 6 bulan, sejak hamil jadi setiap 3 bulan. BULAN KE-5

Saya sudah bisa memaksakan diri untuk makan. Karena rutin melakukan kontrol kehamilan, dokter semakin memahami kondisi saya. Sesuai prediksi dokter kandungan, saya sudah tidak bisa berjalan lama. Selain itu, tulang selangka sudah mulai terbuka. Ini karena rahim yang sudah mulai mengecil setelah usia 40 tahun. Sempat ingin menjalani pengikatan mulut rahim, tapi tidak jadi. Alhasil, ke manamana harus menggunakan kursi roda. Untung tidak banyak aktivitas yang harus dikerjakan di luar rumah.

BULAN KE-6

Walaupun harus menggunakan kursi roda, semangat saya untuk beraktivitas tidak pernah luntur. Terlebih lagi untuk traveling yang merupakan hobi saya dan suami. Jadi, selama hamil, saya masih rutin berlibur ke luar kota. Hampir sebulan sekali kami berlibur, bahkan setelah saya memakai kursi roda. Saya tidak sempat olahraga pre-natal, karena muncul berbagai masalah sejak awal kehamilan hingga sekarang. Terlebih lagi sejak saya tidak bisa aktif berjalan. Tapi, hal tersebut tidak terlalu memengaruhi kesehatan si triplet.

BULAN KE-7

Walaupun agak repot karena harus menggunakan kursi roda, saya merasa sangat senang karena bisa bertamasya bersama keluarga. Pengalaman berlibur yang paling berkesan adalah saat kami ke Bogor. Waktu itu kami mengunjungi tempat wisata dengan miniatur berbagai lokasi film. Senang rasanya ke tempat yang masih asri dan bisa menghirup udara segar di sana. Di saat bersamaan, saya sedang bersiap untuk menyambut persalinan. Saya sempat disarankan untuk melahirkan secara normal. Namun, seiring perkembangan janin dan kondisi tubuh, dokter menyarankan untuk melahirkan secara caesar.

BULAN KE-8

Hari persalinan telah dipilih, yaitu pada usia 34 minggu dengan metode caesar. Keputusan ini diambil karena mempertimbangkan kondisi dinding rahim dan keselamatan si triplet. Tapi, tepat sehari sebelum persalinan, saya sempat mengalami kecelakaan saat hendak ke rumah sakit. Jalan di lingkungan sekitar rumah saya sangat kecil, sehingga mobil harus diparkir di garasi bersama. Saya dan suami pun harus mengendarai motor untuk menuju garasi. Entah bagaimana, kami oleng hingga terjatuh. Saya yang duduk menyamping, jatuh ke belakang sehingga kepala terantuk ke aspal. Semua orang panik. Setibanya di rumah sakit, saya langsung mendapatkan perawatan. Sampaisampai dokter ahli saraf turut memeriksa keadaan saya. Syukur sekali janin dinyatakan sehat dan aman, hanya saja saya merasa sangat pusing. Setelah sepenuhnya sadar, saya langsung menjalani persiapan. Dan saya harus menjalani transfusi darah, pemeriksaan jantung, dan penambahan daya pace maker. Persalinan dipimpin oleh dr. Ali Sungkar, SPOG. Tensi darah saya sempat naik menjadi 200, dan mengalami kesulitan melahirkan anak terakhir, Shareefa. Menurut dokter, itu karena Shareefa sempat berada di belakang, daerah punggung saya. Tapi, bersyukur sekali, persalinan selesai hanya sekitar 30 menit. Anakanak juga lahir tanpa ada kekurangan. Bahagia banget! M&B

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.