Rotavirus, Penyebab Diare Si Kecil!

Rotavirus menjadi salah satu penyebab diare yang dialami oleh anak-anak. Dampak terburuknya adalah kematian. Bagaimana menghadapi virus ini?

Mother & Baby (Indonesia) - - M&bbaby -

Moms, pernahkah Si Kecil mengalami diare? Penyakit ini memang umum dialami oleh anak-anak. Penyebab penyakit ini biasanya adalah infeksi pada usus yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, Rotavirus merupakan salah satu virus yang sering menjadi penyebab diare pada bayi dan anak di seluruh dunia. Diare yang disebabkan oleh rotavirus sulit dibedakan dengan diare pada umumnya. Untuk mewaspadainya, yuk, ikuti ulasan M&B mengenai diare rotavirus berikut ini.

Apa itu Rotavirus?

Rotavirus adalah virus yang menyebabkan gastroenteritis, yaitu infeksi usus dengan gejala muntah, diare, hingga demam. Biasanya menyerang anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Menurut Medicinenet.com, penyakit ini menyebabkan kematian sekitar 500 ribu anak di seluruh dunia setiap tahun. Kekurangan cairan dalam tubuh atau dehidrasi merupakan risiko utama dari diare rotavirus, bahkan bisa menyebabkan kematian. Karena itu, diare rotavirus harus diwaspadai serta perlu ditangani dengan cepat dan benar. Rotavirus juga dapat menyerang orang dewasa, namun tidak separah pada anak-anak.

Apa gejalanya?

Menurut Mayo Clinic, gejalanya dapat muncul dalam 2 hari setelah terkena rotavirus. Awalnya ditandai dengan demam dan muntah, diikuti dengan diare selama 3-7 hari. Si Kecil juga menunjukkan gejala seperti kelelahan, rewel, sakit perut, hingga dehidrasi. Dehidrasi merupakan hal yang harus diperhatikan saat Si Kecil mengalami diare rotavirus karena mengakibatkannya lebih rentan kehilangan elektrolit melalui muntah dan diare. Risiko dehidrasi lebih besar karena tubuhnya yang relatif kecil. Jadi, Moms harus memantau terus kondisi Si Kecil. Terutama memperhatikan gejalagejala dehidrasi, seperti mulut kering, kulit terasa dingin saat diraba, kurang air mata saat menangis, jarang buang air kecil, dan mata cekung.

Berapa lama?

Menurut Healthline, diare bisa berlangsung 3-7 hari. Perlu diingat, selama 10 hari setelah gejala rotavirus hilang, feses masih mungkin terkontaminasi virus rotavirus. Jika gejala tidak membaik dalam satu hari, Moms harus menghubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan rotavirus melalui sampel feses Si Kecil di laboratorium medis.

Bagaimana penularannya?

Rotavirus sangat menular. Virus rotavirus bisa menyebar melalui fecal-oral. Perjalanan virus dimulai dari feses, lalu masuk ke mulut Si Kecil melalui berbagai cara. Virus ini bisa masuk ke mulut Si Kecil ketika ia lupa mencuci tangan sebelum makan atau setelah menggunakan toilet. Penularan juga bisa terjadi ketika ia menyentuh benda yang terkontaminasi rotavirus, kemudian menyentuh area mulutnya, hingga dapat menyebabkan infeksi.

Bagaimana mengatasinya?

Antibiotik dan antivirus tidak dapat menyembuhkan infeksi rotavirus. Biasanya, infeksi ini akan hilang dengan sendirinya dalam 3-7 hari. Perawatan difokuskan pada peningkatan asupan cairan ke dalam tubuh Si Kecil untuk mengurangi risiko dehidrasi. Menurut Mayo Clinic, Moms bisa menggunakan cairan rehidrasi untuk Si Kecil. Cairan ini lebih efektif untuk menggantikan mineral yang hilang dibandingkan dengan air atau cairan lainnya. Jika Si Kecil mengalami dehidrasi berat, bawa ia ke rumah sakit untuk mendapatkan cairan intravena. Rotavirus biasanya bekerja dalam sistem tubuh anak selama seminggu. Selama itu, hindari risiko dehidrasi dengan cara: • Berikan banyak cairan. Tambahkan Pedialyte atau cairan elektrolit. • Berikan makanan berkuah. • Hindari memberikan makanan bergula atau berlemak karena dapat memperburuk diare.

Bagaimana pencegahannya?

Mengutamakan kebersihan adalah hal utama dalam mencegah penyebaran rotavirus. Biasakan Si Kecil untuk selalu mencuci tangan sehabis menggunakan toilet, sebelum menyiapkan atau menyentuh makan maupun minum, dan sebelum makan, atau aktivitas lain yang memungkinkan ia terpapar rotavirus. Dengan mencuci tangan secara teratur dan benar, dapat memberikan perbedaan besar dalam mengurangi berkembangnya rotavirus dan infeksi usus lainnya.

Apakah vaksin rotavirus efektif?

Vaksinasi merupakan cara terbaik untuk mencegah rotavirus, terutama pada anak-anak dan bayi. Hal ini juga ditegaskan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Di Indonesia, angka kematian akibat diare masih tinggi dan pencegahan diare rotavirus dilakukan dengan memberikan vaksin rotavirus. Menurut Patientuk, di negara berkembang, vaksinasi berpotensi mengurangi jumlah kematian akibat rotavirus sebesar 75%. Di Indonesia beredar 2 jenis vaksin rotavirus. Vaksin Rotateq diberikan 3 dosis. Pertama, di usia 6-14 minggu, pemberian ke-2 setelah 4-8 minggu kemudian, dan dosis ke-3 maksimal pada usia 8 bulan. Vaksin Rotarix diberikan 2 dosis. Pertama, saat Si Kecil berusia 10 minggu, dan dosis kedua saat usianya14 minggu (maksimal diberikan pada usia 6 bulan). Perlu diingat bahwa tidak ada vaksin yang 100 persen efektif dalam mencegah infeksi di kemudian hari. Namun, jika sudah divaksin dan terkena infeksi rotavirus, gejalanya tidak akan separah anak yang tidak divaksin.

Kondisi yang harus diwaspadai?

Menurut Healthline, ada beberapa kondisi yang mengharuskan Si Kecil dibawa ke rumah sakit. Untuk itu, waspadai kondisi berikut ini: • Muntah terus-menerus. • Intensitas buang air besar atau diare sangat sering selama 24 jam. • Demam hingga 40ºc atau lebih. • Rewel dan terlihat lesu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.