True Life Story

“Tangan Robot untuk Haykal”

Mother & Baby (Indonesia) - - Contents - kitabisa.com adalah website untuk menggalang dana dan berdonasi secara online dan transparan. Salurkan donasi Anda melalui www.kitabisa.com

Akara Haykal, anak kedua dari Febfi Setyawati dan Rakyan Bramasto Asmara Yuniarto, didiagnosis terkena Moebius Syndrome dan Poland Syndrome. Haykal terlahir dengan kaki dan tangan yang tak sempurna. Kini Haykal tengah berjuang untuk mendapatkan tangan robot.

Menginjak usia kandungan tiga bulan saat mengandung anak kedua kami, Akara Haykal, saya, Febfi Setyawati, memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dokter mengatakan ada masalah. Janin saya memiliki berat di bawah standar. Saat itu tidak ada tindakan apapun dari pihak dokter terhadap kondisi janin saya. Setelah memasuki usia kandungan tujuh bulan, dokter kembali menemukan masalah pada janin saya. Menurut diagnosis dokter, ada akumulasi cairan yang berlebih di dalam kepalanya atau dalam istilah medis biasa disebut hidrosefalus. Dokter juga mengatakan bahwa kepala Haykal seperti bayi yang berumur 39 minggu, namun badannya masih terlihat seperti bayi berumur 28 minggu. Pada usia kandungan 37 minggu, Haykal lahir melalui operasi caesar. Haykal lahir dengan kondisi yang spesial, tangan kanannya tidak terbentuk sempurna serta memiliki kaki yang tidak normal. Haykal juga lahir dengan tangisan yang berbeda. Tangisannya bersuara, tapi tak ada kerut ekspresi di wajahnya. Menurut dokter saat itu, keadaan Haykal ini disebut dengan Poland Syndrome. Poland syndrome adalah suatu sindrom yang menyerang otot dada, atau dalam bahasa medis otot pectoralis, pada salah satu sisi tubuh bayi yang dilahirkan. Hal ini menyebabkan otot tidak terbentuk dengan sempurna atau bahkan tidak terbentuk sama sekali. Kaki kiri Haykal juga mengalami Clubfoot atau CTEV. Tendontendon, jaringan yang menghubungkan otot dan tulang, terbentuk lebih pendek dari seharusnya. Sehingga, kaki kiri Haykal tertekuk dari keadaan normalnya. Dokter telah memberikan gips pada kaki kirinya dan kini Haykal harus mengenakan sepatu khusus. Setelah melakukan observasi lebih lanjut, dan saya mencari tahu mengenai kondisi Haykal, diketahui fakta baru bahwa ia juga

terkena Moebius syndrome. Awalnya saya merasa janggal dengan ekspresi wajah Haykal yang tak pernah menunjukkan senyum atau kerutan-kerutan saat menangis. Setelah saya cari tahu, ternyata itu merupakan tanda-tanda kondisi Moebius syndrome. Artinya, saraf nomor 6 dan 7 Haykal rusak. Itu sebabnya, mata dan wajah Haykal tidak dapat menunjukkan ekspresi apapun. Dokter pun membenarkan. Menurut dokter, kedua sindrom tersebut memang bisa dialami bersamaan. Di Indonesia, anak yang mengidap kedua sindrom ini sekaligus baru dialami oleh Haykal. Karena belum pernah ada kasus serupa, dokter harus melakukan observasi lebih lanjut untuk penanganan kondisinya. Sejauh ini kami telah mengupayakan sejumlah langkah medis seperti, pemeriksaan seluruh anggota tubuh Haykal. Saat ini telinganya juga belum berfungsi sehingga harus dilakukan terapi. Melihat keadaan Haykal sekarang ini, dokter belum berani melakukan operasi apapun. Kondisi hidrosefalus juga mengharuskan operasi pemasangan pipa untuk menghilangkan cairan berlebih di kepalanya. Namun, mengingat keadaan Haykal yang belum stabil, hal ini juga belum bisa dilakukan. Kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan, Haykal sering kali lupa untuk bernapas atau berhenti bernapas. Karena itu, di rumah kami menyediakan oxymeter untuk mengukur kadar dan saturasi oksigen. Karena Haykal juga mengalami kesulitan mengisap dan menelan, ia juga harus menggunakan selang Orogastric (OGT) yang masuk dari mulut hingga ke lambungnya. Untuk itu, ia

harus menjalani fisioterapi setiap dua kali seminggu agar jagoanku ini kelak bisa minum tanpa selang OGT tersebut dan membantunya untuk belajar bergerak.

TANGAN ROBOT UNTUK HAYKAL

Saat ini Haykal melalui kitabisa.com telah berhasil mengumpulkan dana untuk pembuatan tangan robotnya. Sejumlah mahasiswa dan dosen di Universitas Diponegoro yang selama lima tahun terakhir telah melakukan penelitian mengenai tangan robot (bionic), menginisiasi pembuatan tangan robot untuk Haykal. Tangan robot ini dibuat untuk membantunya leluasa bergerak. Lengan robot untuk Haykal ini memang belum akan digunakan sekarang, mengingat usianya yang masih terlalu kecil. Diperkirakan

Haykal akan siap menggunakan lengan robotnya nanti setelah ia berusia tiga atau empat tahun. Pembuatan tangan robot ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Biaya yang dibutuhkan untuk membuatnya juga terbilang cukup mahal. Melalui donasi yang terkumpul, proyek tangan robot ini akhirnya bisa berjalan. Harapan kami, tangan robot ini akan membantunya untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan dunia luar kelak. Banyak hal yang harus ditempuh demi kesembuhan putra kesayangan saya ini. Banyak bagian yang rusak pada tubuhnya akibat sindromsindrom yang ia alami sejak ia masih dalam kandungan. Fokus saya hanya satu, menyembuhkannya. Dan saya juga terus berharap, bahwa Haykal nantinya bisa menjadi anak yang mandiri dan dapat memiliki kehidupan sosial seperti orang lain pada umumnya.

Kondisi fisik Akara Haykal. Setelah lahir ia didiagnosis mengalami Poland Syndrome.

Kebahagiaan keluarga menyambut kelahiran Akara Haykal di rumah sakit.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.