Kid

Ayo Sekolah!

Mother & Baby (Indonesia) - - Contents -

Pendidikan merupakan salah satu hak dasar yang dimiliki oleh anak-anak. Adalah kewajiban orang tua untuk memenuhi hak ini. Dimulai dengan menyekolahkan Si Kecil di sekolah yang tepat. Memilih sekolah menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan Si Kecil menjalani kehidupannya di masa depan. Tak heran jika tak sedikit orang tua yang memberikan upaya lebih dalam memilih sekolah yang tepat bagi Si Kecil. Keresahan dalam memilih sekolah yang tepat bagi Si Kecil pun dirasakan oleh Bukik Setiawan, pegiat pendidikan dan penulis beberapa buku tentang pendidikan anak; Andrie Firdaus, pemerhati sumber daya manusia di Indonesia; dan Imelda Hutapea, guru dan pakar pendidikan anak usia dini. Melalui buku “Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now”, mereka menjelaskan apa yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah untuk Si Kecil. Dimulai dari tiga langkah berikut:

★ Observasi karakter dan kebutuhan anak

★ Observasi perkembangan karier dan metode belajar terkini

★ Observasi karakter sekolah

Karakter dan kebutuhan Si Kecil

Setiap anak memiliki kepribadian yang unik. Hal ini sangat berpengaruh pada pola belajar dan bermainnya. Ada anak yang sangat aktif dan tidak bisa duduk tenang. Maka, kegiatan belajar yang mengharuskan ia duduk tenang dalam waktu yang lama tidak akan cocok baginya. Ada pula anak yang tidak suka keramaian, sehingga kegiatan belajar dengan jumlah siswa yang banyak tidak akan nyaman bagi Si Kecil. Selain itu, karakter Si Kecil sebagai anak yang lahir di era yang sudah serba maju ini sangatlah berbeda dan khas. Moms dan Dads tidak bisa menjadikan pengalaman pribadi Anda berdua sebagai tolok ukur pemilihan sekolah, karena karakter dan kebutuhan Si Kecil sangatlah berbeda dengan Moms dan Dads yang lahir 20 hingga 40 tahun terdahulu. Maka, memahami karakter Si Kecil adalah penting. Bukik, Andrie, dan Imelda menjabarkan 4 karakteristik anak-anak yang lahir dalam kurun 10 tahun terakhir dan pengaruhnya terhadap cara belajar Si Kecil.

4 Karakteristik Anak “Zaman Now”:

1 Si Kecil cenderung tumbuh sebagai pribadi yang lebih fokus pada kebebasan untuk mengelola diri sendiri dibanding dengan kepemilikan barang atau jabatan. Hal ini membuatnya lebih menyukai pekerjaan dan proses belajar yang dapat memaksimalkan potensi tanpa ikatan yang terlalu mengekang.

2 Si Kecil merupakan pribadi yang menyukai tantangan dan perubahan. Dengan segala fasilitas yang sudah jauh berkembang dan lebih mapan, Si Kecil tidak ambil pusing untuk menjaga kemapanan.

3 Dengan berbagai hal di sekitarnya yang terus berkembang dan berubah, ia menjadi pribadi yang mudah mengalihkan fokus dan lebih mahir multitasking.

4 Kemajuan teknologi membuat komunikasi di zaman sekarang tidak dibatasi waktu dan ruang. Kondisi ini membuat kehadiran sosok teman atau lawan bicara yang siap sedia kapan saja adalah penting bagi Si Kecil.

Karakter-karakter di atas tersebut memengaruhi pola maupun cara belajar yang cocok bagi Si Kecil. Berikut ini kondisi belajar berdasarkan riset cara kerja otak:

1 Si Kecil lebih mudah belajar bila secara fisik aktif terlibat dalam proses belajar. Contohnya, berdiskusi, melakukan percobaan, bergerak, dan berganti posisi. 2 Bukan menghafal, melainkan ditantang untuk memecahkan masalah dan menganalisisnya, kemudian mempresentasikan solusinya. 3 Setiap anak mempunyai susunan otak yang berbeda. Berikan tantangan sesuai dengan kemampuannya dan beri kesempatan untuk mencoba beragam cara belajar. 4 Ajak Si Kecil untuk memahami makna pelajaran. Beri jeda saat belajar dengan variasi kegiatan. Hal yang diulang-ulang akan membosankan hingga sulit diterima. 5 Belajar harus bertahap dengan penjelasan yang mudah dicerna, seperti memberikan kisah yang memikat sebagai pengantar belajar. Semakin kompleks dalam mencerna informasi, maka otak semakin terpicu untuk mengingatnya. 6 Otak akan melupakan informasi yang jarang digunakan. Dekatkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari sehingga berkesan dan diingat dalam jangka panjang. 7 Sediakan istirahat yang cukup agar Si Kecil bisa belajar lebih optimal. Tanpa istirahat, otak akan kelelahan dan tegang hingga memengaruhi kemampuan belajar. 8 Suasana belajar yang tidak nyaman dan aman dapat membuat Si Kecil stres. Stres kronis melumpuhkan kemampuan belajar otak. 9 Pengalaman yang penuh rangsangan atau stimulasi indra membantunya belajar lebih cepat dan baik. Semakin beragam stimulan, otak jadi semakin belajar. 10 Tampilan atau informasi visual yang menarik sangat memengaruhi kemampuannya menyerap pelajaran. Hak ini karena informasi visual lebih banyak mendapat perhatian otak. 11 Hal-hal dan tantangan baru yang memancing rasa penasaran dapat membantu Si Kecil belajar lebih baik. Sikap belajar berdasarkan rasa ingin tahu merupakan cara kerja alami otak.

Lalu, kapan saat yang tepat bagi Si Kecil untuk sekolah? Berikut ini beberapa tanda Si Kecil siap sekolah:

★ Sudah meminta atau merengek untuk sekolah.

★ Sering meminta kertas dan pensil.

★ Dapat merespons aktif saat dibacakan cerita.

★ Cukup mandiri dalam hal-hal kecil, seperti memakai baju atau makan.

★ Sudah selesai dan lulus toilet training.

★ Bisa mengikuti beberapa instruksi sederhana, seperti membereskan mainan.

Sekolah terbaik untuk Si Kecil

Berikut ini 3 faktor penting untuk memahami karakter sekolah:

1 Artefak

Tampilan fisik serta barang-barang yang terlihat. Umumnya berupa sarana dan prasana sekolah serta dekorasi.

2 Praktik

Perilaku anggota sekolah yang terlihat; cara memperlakukan seseorang, cara berkomunikasi, cara penilaian terhadap murid, dan sebagainya.

3 Prinsip nilai

Berupa kesimpulan kombinasi dari elemen artefak dan praktik. Elemen ini bersifat implisit. Dapat diketahui dengan mempelajari secara saksama kedua elemen sebelumnya.

Dari elemen-elemen tersebut, dapat ditemukan sekolah dengan karakter yang mengenali dan memahami potensi anak. Sehingga, proses belajar dikelola sesuai kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan murid. Bukik, Andrie, dan Imelda menyebutnya sebagai karakter yang “menumbuhkan”.

Ciri-ciri sekolah yang menumbuhkan, antara lain:

1 Visi sekolah menunjukkan pusat perhatian utama sekolah adalah anak.

2 Ukuran keberhasilan yang digunakan adalah penguasaan keterampilan hidup seperti perilaku dan karya anak.

3 Tantangan belajar berupa perpaduan kurikulum dengan kebutuhan dan kemampuan anak.

4 Sistem penilaian tidak mengutamakan hasil ujian tertulis, tapi juga karya dan pergelaran atraksi anak.

5 Suasana sekolah cenderung stabil dan ramai dalam batasan yang tidak mengganggu antar anggota sekolah.

6 Terdapat program pengembangan bagi guru baru. Ada mekanisme rutin untuk berbagi pengalaman mengajar.

7 orang tua terlibat melalui beragam peran dalam aktivitas sekolah.

8 Berbagai sarana yang dimiliki menunjukkan proses belajar yang sangat didukung sekolah.

9 Banyak dinding yang diisi karya anak, tertata, dengan sedikit piala atau penghargaan yang dipamerkan, dan terdapat petunjuk penggunaan fasilitas.

10 Sarana pendukung seperti kantin dan toilet dirawat dengan baik. Karena, kesehatan dan kebersihan dianggap turut menentukan kualitas pendidikan.

Pendidikan Usia Dini

Di Indonesia, periode emas proses belajar adalah saat Si Kecil di bawah usia 6 tahun. Pada periode ini, otak dan saraf-saraf sedang berkembang dengan cepat sehingga sangat efektif untuk membangun dasar kemampuan berpikir Si Kecil. Bukan berarti Si Kecil yang masih balita sudah diberikan pekerjaan rumah berhitung atau menulis tegak bersambung. Melainkan, melalui stimulasi berupa latihan dan kegiatan untuk membantu perkembangan anak. Inilah yang disebut pendidikan anak usia dini (PAUD). PAUD bertujuan membangun keterampilan pendahulu (underlying skills). Menurut buku “Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now”, keterampilan ini harus dikuasai anak agar kelak kemampuan akademiknya optimal. Berikut ini langkah-langkah memilih lembaga prasekolah:

1 Buat daftar kandidat lembaga prasekolah yang diminati, jarak yang tidak begitu jauh, serta sesuai dengan anggaran.

2 Buat profil Si Kecil. Isi dengan jenis makanan, permainan, dan kegiatan yang ia sukai. Cantumkan juga hal-hal yang paling sulit ditoleransi, seperti suara keras atau lainnya.

3 Buat janji temu dan kunjungilah lembaga prasekolah dari daftar Anda.

4 Amati bila terdapat hal-hal yang Si Kecil sukai di lembaga prasekolah tersebut.

5 Refleksikan pola komunikasi lembaga prasekolah tersebut, karena Anda akan mengandalkannya untuk mengawasi perkembangan Si Kecil.

6 Diskusikan dengan Dads atau anggota keluarga lain apakah lembaga tersebut sesuai untuk Si Kecil.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.