Pola Makan 'Ekstrem' untuk Si Kecil

Gaya hidup sehat kini sudah jadi kebutuhan. Bahkan hingga mengubah pola makan konvensional menjadi pola makan berpantangan yang terhitung ‘ekstrem’. Bagaimana jika diterapkan pada Si Kecil?

Mother & Baby (Indonesia) - - M&B Kid -

Berbagai pola makan yang tidak biasa kini semakin populer seiring dengan semakin tingginya keinginan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Mungkin Moms termasuk yang menerapkannya atau berniat untuk menerapkannya. Tapi, apakah pola makan tersebut cocok bagi Si Kecil? Sejauh mana pola makan tersebut tetap dapat mendukung tumbuh kembangnya? Berikut ini pembahasannya.

Vegetarian

1 Hanya mengonsumsi makanan dari tumbuh-tumbuhan, seperti sayur, buah-buahan, dan kacang-kacangan. 2 Metode pengolahan dapat dimasak, dipanggang, dikukus, direbus, hingga digoreng. 3 Variasinya antara lain mengonsumsi produk susu dan telur (lacto-ovo-vegetarian), mengonsumsi produk susu tapi menghindari telur (lacto-vegetarian), mengonsumsi telur tapi tidak produk susu (ovo-vegetarian), dan tidak mengonsumsi telur serta berbagai produk susu (vegan).

Apa Kata Ahli?

Menurut Jansen Ongko, Ahli Gizi dan Olahraga, diet ini dapat memperbaiki mood Si Kecil. Max Mandias, aktivis vegetarian dan Founder restoran vegetarian Burgreens juga menegaskan bahwa konsumsi buah dan sayur dapat membuat emosi lebih stabil dan merasa bahagia. Jansen tidak menganjurkan diet vegetarian pada anak, terutama balita. Karena, berisiko mengalami defisiensi protein, lemak, kalsium, zat besi, folat, vitamin B12, dan seng. Kekurangan ini dapat mengakibatkan anemia, lemas, gangguan keseimbangan, terhambatnya perkembangan kognitif, rentan terhadap infeksi, dan tulang mudah rapuh. Bila ingin menerapkan diet vegetarian pada Si Kecil, ia menyarankan lacto-vegetarian atau lacto-ovo-vegetarian.

Raw Food

1 Hanya mengonsumsi makanan 'mentah'. Proses memasak dianggap merusak enzim alami makanan. 2 Tidak mengonsumsi makanan yang digoreng, direbus, dikukus, atau dipanggang dengan suhu di atas 48º C. 3 Tidak mengonsumsi makanan yang telah dipasteurisasi, homogenisasi, ataupun diproduksi dengan pestisida sintetis, pupuk kimia, ataupun zat tambahan kimiawi. 4 Tidak menganjurkan suplemen makanan karena pola makan ini dapat memenuhi kebutuhan zat gizi.

Apa Kata Ahli?

Manfaat raw diet adalah meningkatkan fungsi pencernaan karena tingginya konsumsi serat. Selain itu, diet ini juga bisa mencegah kelebihan berat badan, sehingga mengurangi risiko munculnya berbagai penyakit akibat obesitas. Namun, Jansen mengungkapkan bahwa diet ini dapat berbahaya bagi Si Kecil. Karena, tidak semua makanan aman dikonsumsi dalam keadaan mentah, seperti singkong, daging, dan susu. Makanan mentah dapat mengandung racun dan parasit yang berbahaya bagi tubuh. Terutama bagi balita yang sistem pencernaannya belum sempurna. Si Kecil juga berpotensi mengalami defisiensi vitamin B12 yang menjaga fungsi otak, memproduksi sel darah merah, dan membantu sintesis DNA.

Clean Eating

1 Mengonsumsi makanan sehat yang diproses seminim mungkin, dan utuh. 2 Menghindari makanan berpengawet, pemanis buatan, biji-bijian olahan, lemak jenuh, garam dan gula. 3 Menghindari makanan yang telah diproses menjadi produk baru, seperti roti. 4 Makanan bisa diolah dengan cara dikukus, direbus, ditumis, dipepes, atau dipanggang. Tidak menggoreng bahan makanan.

Apa Kata Ahli?

Jansen menyatakan bahwa prinsip umum clean-eating mirip dengan prinsip gizi seimbang. Jika dilakukan dengan tepat dapat mendukung tumbuh kembang serta berdampak positif bagi kesehatan. Tapi, beberapa asas diet ini, seperti pemberian suplemen dan konsumsi 'makanan super', bisa memberikan dampak negatif bagi Si Kecil. Lebih baik asupan gizi untuk Si Kecil diperoleh dari makanan segar. Selain itu, pemberian “makanan super” seperti kubis, ubi bit, dan biji chia juga belum tentu cocok bagi Si Kecil. Karena, kubis dan ubi bit mengandung nitrat yang tinggi, sehingga dapat bersifat racun bagi Si Kecil. Sementara biji chia berpotensi menyebabkan sakit perut pada anak.

Gluten Free

1 Menghindari protein gluten yang umum ditemukan pada padi-padian seperti gandum, rye, barley, atau persilangan gandum dengan rye (tritikal). 2 Untuk mengurangi gejala penyakit akibat mengonsumsi gluten, seperti penyakit auto imun ataupun alergi. 3 Menghilangkan gluten dari daftar menu sangat memengaruhi jumlah asupan vitamin, serat, dan nutrisi lain yang harus dikonsumsi.

Apa Kata Ahli?

“Faktanya, sampai saat ini tidak ada keuntungan yang sudah dibuktikan dengan menerapkan pola makan gluten free,” jelas Jansen. “Kecuali, jika anak itu mengidap celiac disease atau intoleransi gluten,” tambahnya. Bila Si Kecil tidak mengidap celiac disease, Jansen menyarankan untuk tidak mengadopsi pola makan ini. Karena, pilihan makan jadi terbatas dan tidak lengkap, sehingga Si Kecil rentan kekurangan vitamin, mineral, dan serat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.