Stop Momshaming!

Setiap ibu memiliki caranya sendiri dalam mengungkapkan rasa sayang. Tapi tak jarang, perbedaan cara ini dianggap tidak pantas hingga berujung pada perundungan atau biasa disebut sebagai Mom-shaming.

Mother & Baby (Indonesia) - - M&b Baby -

Mari awali dengan sebuah kesepakatan, menjadi seorang ibu adalah salah satu pekerjaan terberat di bumi. Maka, tiap ibu tentu melakukan hal hebat dan tidak ada alasan untuk menjatuhkan sesama ibu lainnya. Tapi, dengan pesatnya laju informasi, kasus Mom-shaming makin merebak, mengancam selebritas papan atas hingga (mungkin) Anda sendiri. C.S. Mott Children’s Hospital mengadakan survei nasional terhadap 475 ibu yang memiliki anak balita. Sebanyak 61% responden mengaku bahwa mereka pernah mengalami kritik terhadap gaya parenting mereka. Walaupun umumnya kritik ditujukan untuk membangun, 62% ibu yakin bahwa mereka menerima saran yang tidak membantu, dan 56% ibu merasa menerima terlalu banyak celaan dan kurangnya apresiasi terhadap mereka.

Menurut hasil penelitian C.S. Mott Children’s Hospital topik yang paling sering dikritik antara lain: Ibu Juga Manusia

Sebagai ibu, Moms pasti setuju bahwa semua ibu ingin yang terbaik bagi Si Kecil. Mulai dari gizi, pendidikan, fasilitas, dan sebagainya. Cara merawat anak pun harus yang terbaik. Tapi, tidak seperti mamalia lain, kemampuan merawat anak berkembang lambat pada manusia. Seekor ibu anjing tahu betul bagaimana menjilat bayinya agar bersih sejak lahir. Sedangkan manusia kadang masih kesulitan memandikan bayinya yang berumur 2 bulan. Seiring berjalannya waktu dan ditambah dengan pengetahuan, insting ibu merawat anak akan makin terasah. Adalah keinginan yang wajar untuk bisa memenuhi semua tuntutan agar bisa menjadi ibu yang sempurna. Namun, ingatlah bahwa #ibujugamanusia.

dengan segala keterbatasannya. Anda pasti pernah lupa jam berapa Si Kecil terakhir makan dan kapan jadwal imunisasi Si Kecil. Tidak apa-apa Moms, wajar. Tidak pernah ada kata berhenti belajar untuk menjadi ibu yang baik. Masing-masing Mom memiliki gaya parenting-nya sendiri. Umumnya dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan, pengalaman pribadi, serta kondisi orang tua dan Si Kecil. Tidak ada jaminan satu gaya parenting bisa diterapkan oleh semua Moms. Tapi, walaupun berbeda pastilah masingmasing gaya parenting diadopsi demi memberikan yang terbaik untuk Si Kecil.

Tidak mutlak benar

Sebenarnya kasus Mom-shaming sudah ada sejak dahulu. Tapi, dengan makin mudahnya berbagi opini dan informasi di media sosial, perdebatan tentang cara merawat anak yang benar pun makin mudah terekspos. Mulai dari penerapan ASI eksklusif atau susu formula, hingga waktu tidur Si Kecil, bisa menjadi perdebatan sengit dan memicu sikap pro dan kontra yang ekstrem. Padahal, apa yang diyakini tidak mutlak benar. Kadang ada kondisi yang mengharuskan ibu untuk mengambil pilihan terbaik di antara yang (dianggap) kurang baik. Perbedaan pilihan tersebut sering kali memicu tindakan mom-shaming. Padahal, pilihan tersebut bukan sesuatu yang mutlak salah. Hal yang dihujat pun sering kali sederhana seperti, usia mengenalkan makanan padat atau menyusui dengan botol.

Mom shaming juga menyerang selebritas!

- Tahun 2016 Mariah Carey dikritik setelah mengunggah foto anaknya yang menggunakan empeng di usia 4 tahun. - Tahun 2018 Beyonce dihujat karena meminum wine tak lama setelah melahirkan anak kembarnya. - Tahun 2015 Reese Witherspoon dikritik habis-habisan setelah mengunggah foto sarapan anaknya, yaitu cinnamon rolls dan apel. - Tahun 2015 Coco Rocha dirundung oleh warganet karena memberikan bayinya susu formula.

“Saya menyelesaikan studi S2 dan sempat bekerja. Saya memutuskan berhenti bekerja sejak hamil hingga kini untuk merawat Si Kecil sendiri, tanpa pengasuh. Awalnya karena takut risiko keguguran. Tapi, banyak komentar tidak enak. Contohnya, ‘sudah sekolah lama sekarang di rumah saja, nih, mengurus anak?’” Dhita Pertiwi, ibu dari Sibylla Azkayra Attaminu, 9 bulan.

Bila Mengalami Mom-shaming

Menghadapi orang-orang yang merasa paling benar memang tidak mudah. Berikut trik menghadapi mom-shaming: • Pahami bahwa hampir semua orang tua pernah dihakimi. • Ingat, kritik bisa membawa kebaikan. • Jangan pedulikan celaan. Selain menguras waktu dan tenaga, memusingkan celaan hanya membuat Anda merasa buruk. Mom-shaming sering kali merupakan kompensasi seseorang terhadap rasa bersalahnya sendiri. Kurangi waktu bersama pengkritik. Terima kemungkinan bila Anda melakukan kesalahan. Jangan terpengaruh dengan gaya parenting yang terlihat mudah dan minim masalah. Itu semua fana. Anda tahu Si Kecil lebih baik dari siapapun! Tetaplah percaya diri. Berbeda cara, tapi memiliki tujuan yang sama – memberikan yang terbaik untuk Si Kecil dalam kondisi apapun. #stopmomshaming #nomoremomswar.

“Seorang anggota keluarga bertanya mengapa saya bersalin caesar, menurutnya keibuan menjadi berkurang, ini terjadi terus menerus. Akibatnya saya menyalahkan diri sendiri dan sempat down.” Martha Ethelina, ibu dari Flavio Bako, 9 bulan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.