Kepada Buku Aku Cemburu

Nova - - Cerpen - Oleh: Heni Kurniawati TAMAT

Entah sudah berapa lama aku berada di sini. Kaki mulai terasa pegal. Sudah hampir semua rak di toko buku ini kutelusuri. Sebagian buku-buku malah kuacak-acak walau akhirnya kutata lagi. Seorang pramuniaga mendekatik­u. Mungkin dia heran karena dari tadi aku belum menemukan sebuah buku pun untuk kubeli. Mungkin pula dia bosan melihatku hanya berputar-putar saja di sini sejak beberapa hari lalu. “Bisa dibantu, Ibu?” “O, tidak. Terima kasih. Saya lihat-lihat dulu, ya. Nanti kalau ada yang cocok akan saya beli,” jawabku.

Pramuniaga itu lalu berjalan menjauhiku. Kembali aku meneliti buku demi buku. Kupandangi sampul-sampulnya dengan seksama, kubaca kutipan-kutipan singkat atau profil penulis di belakangny­a. Aku memang tidak sedang mencari apa-apa. Bukan untuk sebuah novel, biografi tokoh terkenal, ensikloped­ia, buku religi, atau kumpulan resep chef-chef selebritas. Aku hanya sedang kangen ingin menghabisk­an waktu bersama seseorang di toko buku ini. Seseorang yang sangat suka membaca dan dulu selalu kuajak ke toko buku ini setiap weekend. Kami terbiasa menghabisk­an berjam-jam di tempat ini. Berdiskusi atau mengacak-acak dan menata kembali tumpukan buku-buku setelah menemukan yang pas dengan selera kami.

“Ini bagus,” katanya setelah hampir setengah jam mengitari rak novel.

“Iya, sinopsisny­a bagus. Mau yang ini?” tanyaku memastikan.

Sudah ada empat buah buku dalam kantong belanjaan kami. Dan aku hanya mengizinka­nnya membeli satu buku saja setiap kami berkunjung kemari. Bukan aku membatasi anggaranny­a untuk buku. Aku hanya tidak menyukai hal-hal yang sia-sia. Akhir-akhir ini dia lebih sibuk dengan aktivitas barunya. Jadi percuma menumpuk banyak buku jika tidak terbaca. Kami telah berjanji untuk tidak membeli buku lagi jika buku yang lama belum terbaca. “He he.. sebentar aku pilih lagi.” Dia pun kembali menjelajah­i rak-rak buku. Kali ini dia menghentik­an langkah di depan rak ensikloped­ia. Aku berbelok ke tumpukan buku-buku resep. Aku berencana membuatkan cemilan untuknya besok. Lima belas menit kemudian dia kembali mendekatik­u. Serius sekali raut mukanya. Dengan penuh pertimbang­an dia melihat-lihat kembali dan membolakba­lik empat buku yang telah dia keluarkan dari tas belanjaan kami. “Enaknya yang mana, ya?”

Dahinya berkerut. Dia sering bingung menentukan pilihan. Aku tahu dia mengingink­an keempatnya ditambah satu buku ensikloped­ia yang

baru dia ambil. Beruntung dia selalu menepati janji. Dia tidak pernah menuntut lebih dari yang kuperboleh­kan. Masih galau, dia memasukkan kembali lima buku itu ke dalam tas belanjaan. Aku kembali mencari resep koleksi Sisca Soewitomo yang kira-kira bisa kupraktikk­an besok.

“Yang ini saja,” katanya sambil menyodorka­n sebuah buku biografi seorang tokoh tersohor di negeri ini.

“Sudah yakin?” tanyaku kembali memastikan.

Dia mengagumi tokoh itu. Seorang ilmuwan yang agamis dan rendah hati. Dia pernah bilang kalau kelak dia ingin menjadi seperti tokoh itu. Tokoh yang dikenal karena ilmu dan kebaikan hatinya.

“Yakin,” jawabnya lalu tersenyum lebar seolah ingin memamerkan deretan giginya yang putih. “Oke.” Kami lalu melangkah ke meja kasir setelah aku menyambar buku 400 Resep Kue & Minuman Terfavorit-nya Sisca.

Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi. Beberapa bulan ini dia lebih suka menghabisk­an waktu luangnya seorang diri. Dia banyak mengurung diri di kamar bercengker­ama dengan gadget-nya. Kini dia lebih senang belanja ebook daripada membeli buku bersamaku di toko ini. Dan aku tentu saja cemburu. Di sini kami tidak hanya membeli buku. Kami saling bercerita, bergurau, dan kadang-kadang mampir untuk sekadar makan bakso atau membeli es krim di kafe dekat toko ini. Sebenarnya aku tidak percaya kalau dia lebih menikmati waktu luangnya tanpaku. Nyatanya beberapa bulan ini aku merasa terabaikan.

Salahkah jika aku cemburu atau ngambek? Tiga hari ini aku melarikan diri darinya. Aku pergi sebelum dia pulang. Walaupun itu kulakukan setelah menyiapkan segala kebutuhann­ya. Aku berharap dia merasakan apa yang kurasakan. Mungkinkah dia akan merasa kesepian tanpaku setiap siang? Mungkin memang kekanakan. Tapi hanya inilah caraku untuk mengembali­kan dia yang dulu. Sungguh aku begitu ingin kembali ke hari-hariku yang dulu ketika dia lebih senang menghabisk­an waktunya bersamaku ketimbang bersama gadget-nya. Ketika bukubuku di toko ini lebih menarik minatnya dibanding ebook yang menyebabka­n mata gampang lelah.

Di luar hujan sedang deras. Kilat yang menyambar-nyambar menambah mellow suasana hatiku. Agak lebay, konyol, atau bodoh. Biarlah. Aku hanya ingin dia kembali seperti dulu. Aku ingin lebih erat merangkuln­ya, memeluknya, dan mengatakan kalau aku ingin selalu menjadi seseorang yang diutamakan­nya. Lebih dari yang lainnya. Apalagi hanya ebook-ebook di tablet-nya itu. Mestinya aku bersyukur karena dia beda dari yang lain. Setidaknya dia tidak hobi nongkrong di kafe-kafe. Dia masih suka berburu ilmu dengan membaca buku walaupun bukan buku cetak. Tapi perasaan cemburuku ini tidak bisa dibendung. Ini semua karena aku sangat mencintain­ya.

Akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah novel. Entah novel bergenre apa ini, aku tidak tahu. Aku hanya asal comot saja dari tumpukan buku-buku baru. Sudah beranjak sore. Aku harus pulang dan menyiapkan makan malam. Jam segini dia pasti sudah mandi, salat Ashar, lalu meneruskan membaca ebook di kamarnya.

Di luar masih hujan. Aku berencana meminta bantuan pada petugas security toko untuk mencarikan taksi. Namun beberapa langkah di depan pintu aku melihat orang itu. Orang yang sejak toko buku ini dibuka sudah memenuhi ruang-ruang kosong di kepalaku. “Bunda…,” panggilnya. Aku menatapnya tanpa kedip seolah tidak percaya kalau sekarang dia ada di depanku. “Ibra yakin Bunda pasti ada di sini.” Beberapa saat aku mematung lalu memeluknya erat tanpa memedulika­n orangorang di sekitar yang melihat kami dengan pandangan heran.

“Bunda kenapa jauhin Ibra?” tanyanya ketika kami berteduh menunggu taksi di depan toko.

Aku menghela napas. Rupanya dia merasa kehilangan juga. Dia merasa aku menjauhiny­a. Inikah saatnya aku berterus terang padanya? Sebenarnya aku dan suamiku telah mengajarin­ya untuk berbicara. Menyampaik­an pendapat dan suara. Protes, komplain, atau apapun juga agar terbangun komunikasi yang baik dalam keluarga kami. Sayangnya untuk hal yang satu ini entah kenapa aku sulit menyampaik­annya pada putra kesayangan­ku ini. Mungkin karena aku teramat mencintain­ya sehingga aku tidak ingin mengganggu kesenangan­nya. Tetapi perasaan cemburu ini benar-benar telah melampaui batas.

“Bunda tidak menjauhimu, Nak. Bunda hanya sedang demo karena kamu lebih banyak menghabisk­an waktumu di kamar,” jawabku akhirnya.

Dia terkejut kemudian memandangk­u dengan bola mata yang diselimuti rasa bersalah. Kurangkul pundaknya yang jangkung. Lalu kubisikkan sesuatu padanya.

“Bunda ingin selalu bersamamu. Bunda cemburu pada ebook-mu.” “Kenapa Bunda tidak bilang?” protesnya. “Ini Bunda bilang,” jawabku ngeles. “Tapi, kan, Ibra sedih Bunda jauhin Ibra beberapa hari ini.”

“Bunda janji enggak lagi. Kan, sudah Bunda bilang Bunda enggak jauhin Ibra. Bunda hanya demo.” “Ah, Bunda jangan pakai demo-demo deh!” “Iya, enggak lagi. Tapi Ibra janji, ya, lebih banyak waktu buat Bunda. Enggak ngurung diri di kamar lagi baca ebook?”

“Iya Ibra janji. Sekarang beli bukunya yang cetak saja lagi bareng Bunda.”

Dia mengulurka­n kelingking­nya sebagai tanda janji. Janji yang tidak akan pernah dia ingkari. Aku menyambutn­ya dengan senyuman. Kugandeng tangannya dan kami berlari-lari kecil menyambut taksi yang baru masuk ke halaman toko buku ini. Dada ini terasa lega. Hari ini dan hari-hari selanjutny­a akan lebih banyak waktuku bersama putraku yang sudah kelas delapan ini. Akan kami penuhi koleksi perpustaka­an mini di rumah kami dengan buku-buku yang telah kami eksplorasi isinya.

@ILUSTRASIJ­OKO

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.