Komunitas

Mungkin ada banyak di antara kita yang punya teman korban bully. Tapi tak banyak yang kemudian tergerak untuk menjadi relawan seperti Katyana Wardhana.

Nova - - Etalase - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: DOK. SUDAH DONG

Hati-hati bila bercanda, kalau berlebihan, bisa-bisa jadi mengarah pada bullying. Dan efek bullying tidak main-main. Seperti yang dialami teman SMA Katyana Wardhana.

Temannya itu, waktu sekolah sering di-bully. Ia sampai mengalami trauma berat, hingga akhirnya memutuskan keluar dari sekolah karena tak sanggup menahan ejekan teman-temannya. Mimpi meraih cita-cita pun harus pupus di tengah jalan.

Sebagai teman, Katyana merasa prihatin. Dia menganggap, bullying adalah momok yang bisa mengganggu anak bangsa dalam meraih mimpinya di masa depan. Dia pun tergerak untuk berbuat sesuatu. Akhirnya pada 2014, dia dan temantemannya mendirikan Sudah Dong, sebuah komunitas yang punya misi membantu membuat perubahan besar bagi anak Indonesia, agar bisa bebas berekspresi, berkarya, dan belajar, tanpa ada lagi rasa takut akan tekanan dari orang lain dengan cara bullying.

Berawal dari Cerita

Katyana dan para relawan di Sudah Dong memang tergerak untuk menghentikan—atau paling tidak menimimalisasi—kasus bullying. Di sini, bukan cuma edukasi yang mereka berikan pada korban, tapi juga advokasi.

Tapi ternyata, ini bukanlah pekerjaan mudah. Perlu ada keterbukaan dari pihak korban, agar peristiwa buruk yang dialaminya itu bisa diketahui orang dan mendapat dukungan untuk sama-sama mengatasi masalahnya.

Sebab, dengan kita berani menceritakan kisah bullying yang pernah kita alami, orang terdekat akan memberi bantuan berupa dukungan. “Semangat dari orang terdekat itulah yang membuat kepercayaan diri kita tumbuh lagi. Membuat kita jadi tak patah arang menghadapi orang-orang yang mem-bully kita,” ujar Katyana.

Selain memberi semangat pada korban bullying yang mau bercerita, relawan Sudah Dong juga tak lelahlelahnya memberikan edukasi tentang bullying, karena mereka menganggap masih banyak yang belum paham. Bercanda berlebihan tanpa disadari bisa berujung bullying. Dan itu tak cuma dilakukan secara tatap muka, tapi juga melalui dunia online.

“Perlu diketahui, bullying saat ini bukan dilakukan secara langsung saja, tapi sudah merambah ke dunia digital. Makanya, kita juga memberi edukasi soal pengelolaan konten media sosial agar tak lagi berbau bullying,” tambah Katyana.

Menerima Curhatan

Agar kampanye stop bullying yang dilakukan Sudah Dong lebih tepat sasaran, mereka melakukan edukasi dengan dua cara, yakni secara online dan offline. Kalau online, kita bisa langsung belajar dan menyerap pengetahuan seputar bullying ini lewat website resmi Sudah Dong (sudahdong.com) dan akun Instagram @sudahdong. Bahkan, diam-diam para relawan juga memberikan edukasi melalui akun Instagram pribadi mereka!

Tak hanya edukasi, layanan online Sudah Dong juga menerima keluh-kesah korban bullying. Mereka bisa menuliskannya langsung pada fitur Berbagi Cerita. “Pengalaman (mereka) itu kami bagikan, agar publik tahu cerita teman-teman yang pernah jadi korban. Juga bertujuan memberi info kepada kita yang pernah mem-bully, agar tak mengulangi hal itu lagi. Sebab, dampaknya akan separah itu. Baca saja curhatan teman-teman kita di website Sudah Dong,” ungkap Katyana serius.

O, iya. Jika korban bullying yang curhat sudah terlihat sangat depresi dan trauma, Sudah Dong pun tak segan-segan menghubungkan mereka ke pihak lain untuk membantu menenangkan mereka. “Dalam hal ini kita akan bantu mereka untuk ngobrol dengan psikolog yang berpartner dengan kami. Beberapa kali pernah ada yang sampai seperti ini,” sambung Katyana.

Banyak Kegiatan Edukasi

Berbeda dengan online, edukasi offline biasa diberikan komunitas Sudah Dong lewat kunjungan ke sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di sekitar Jabodetabek. Dalam setahun, hampir sepuluh sekolah berhasil diedukasi. Ada juga edukasi lewat talkshow yang cukup sering dilakukan serta kampanye stop bullying di Car Free Day.

Kini, relawan Sudah Dong tak hanya bergerak di Jakarta, tapi sudah menyebar di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Aceh, Banjarmasin, Bandung, dan Surabaya. Dengan begitu, kampanye stop bullying bisa semakin luas. Harapannya, kasus-kasus bullying bisa jauh berkurang, tercipta masa depan anak-anak bangsa yang harmonis tanpa saling menjatuhkan.

Jangan pernah lelah, Sudah Dong!

Sejak digagas Katyana Wardhana pada 2014 lalu, Sudah Dong makin mengepakkan sayap. Tak kenal lelah perjuangkan kampanye stop bullying.

Salah satu aktivitas Sudah Dong yaitu dengan kampanye ke sekolah-sekolah dari SD hingga SMA.

Kampanye Sudah Dong juga dilakukan saat acara Car Free Day di Jakarta.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.