Anda & Anak

Anak yang kreatif mampu menjadi imajinatif dan menyelesaikan masalah. Namun, apakah kita sudah memberi mereka kesempatan untuk bereksplorasi?

Nova - - Etalase - MELISSA TUANAKOTTA FOTO: ISTOCK

Anak zaman now dikenal sebagai anak yang kreatif. Mereka berlomba-lomba untuk berkarya dan melakukan banyak hal positif di berbagai bidang. Kreativitas ini tentu tidak datang begitu saja, kita sebagai orangtua jelas punya andil cukup besar.

Seperti Utami (32), ibu dari Tia (5) ini mengaku selalu memberikan aktivitas kreatif kepada anaknya sedari kecil. “Aku punya keinginan agar anakku ini menjadi kreatif seperti anak-anak zaman now. Senang, deh, rasanya kalau lagi nonton Youtube liat anak masih kecil tapi udah bisa review mainan, udah jago sains, pokoknya jago di bidangnya masing-masing. Apalagi kalau lihat anak-anak mudanya pada kreatif-kreatif jadi vlogger, bikin startup, rasanya aku juga ingin anakku seperti itu, bukan cuma jadi pegawai kantoran. Makanya dari kecil aku suka bikin aktivitas yang kreatif untuk anakku.”

Untuk menghasilkan generasi yang kreatif, kita memang harus mengasah dan melatih kreativitas anak semenjak dini, tepatnya ketika anak sudah berusia 2 tahun. Pada saat ini anak sudah mulai aktif bergerak dan berbicara. Kita sebagai orangtua, orang yang paling dipercaya oleh anak, sudah bisa mulai membimbing dan mengarahkan si kecil kepada hal-hal kreatif.

“Misalnya, nih, pas Tia mau ambil mainannya, sama aku mainannya disimpan di kotak yang dikasih jaring-jaring dari tali rafia yang bisa digeser. Jadi mau enggak mau Tia harus cari cara buat ngambil mainannya. Pertamanya dia tarik-tarik, dia puterin kotak mainannya, eh, lama-lama dia geser tali rafianya,” kisah Utami sambil tertawa.

Apa yang dilakukan oleh Utami dibenarkan oleh Friska Asta, konsultan pendidikan dan psikologi dari Lembaga Klinik Hati. Menurut Friska, kreativitas memang terkait dengan pemecahan masalah.

“Anak harus dilatih dan diasah daya kreativitasnya semenjak dini supaya anak bisa dan terbiasa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya,” jelas lulusan Master Psikologi Terapan Unversitas Indonesia ini.

Buat Anak Kesusahan

Dulu kreativitas berbatas pada halhal yang terkait karya seni. Namun seiring perkembangan pengetahuan dan arus informasi, kreativitas didefinisikan lebih luas.

“Perbedaan kreativitas saat ini dengan dulu terletak pada konsep yang berkembang dan medianya. Sekarang kreativitas memiliki pemaknaan lebih dalam, bagaimana seseorang dapat mengembangkan ide dan gagasannya dengan cara yang baru atau berbeda,” jelas Friska.

Lalu bagaimana cara mengasah kreativitas anak? Beri batasan kepada anak.

Saat ini segala sesuatu dimudahkan dengan apa yang namanya teknologi. Bahkan makanan pun serba-instan. Hal-hal tersebut memang hasil dari kreativitas, tapi secara tidak langsung mengikis kreativitas penggunanya. Sehingga penting untuk memberikan batasan kepada anak.

“Misalnya, memberikan mainan dengan fasilitas terbatas, sehingga anak terpancing membuat lebih lagi. Contohnya, sediakan anak kardus bekas, gunting dan origami. Dorong anak membuat sesuatu dari apa yang tersedia. Dengan demikian daya kreativitas anak akan bekerja. Dengan ‘disusahkan’ anak akan menemukan jalan keluar,” jelas Friska.

Jika semua sudah difasilitasi, anak tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan imajinasi dan kreasinya. Hal tersebut dikarenakan, imajinasi, ide, dan kreativitas akan muncul jika situasinya mendesak dan anak diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi.

“Saat anak bosan main mobil-mobilan yang hanya maju mundur, anak akan memasukkan mobil ke dalam air seolah sedang mencuci mobil. Jika diberikan kesempatan lebih, mungkin akan berkembang lagi idenya jadi bengkel-bengkelan,” Friska menyontohkan.

Tapi ingat, kemampuan si kecil dalam menyelesaikan masalah tidak seperti orang dewasa. Dia butuh waktu dan kesempatan lebih banyak. Sehingga ketika anak melakukan kesalahan, kita jangan sampai memarahi, menyalahkan, dan mematahkan semangatnya. Sekali anak merasa bersalah, dia akan mogok untuk mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan kreativitasnya.

Kita sebagai orangtua justru harus membangkitkan rasa percaya diri anak ketika dia sedang mencoba menyelesaikan suatu masalah. Dukungan dan rasa aman yang diberikan orangtua akan membuat anak lebih berani untuk mencoba berbagai hal baru dan menghadapi tantangan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.