Tanya Jawab Psikologi

Nova - - Etalase - DRA. RIENY HASSAN Psikolog Alamatkan surat (lengkap dengan fotokopi KTP) ke Redaksi NOVA, tulisan rubrik ”Konsultasi Psikologi” pada amplop, bisa juga melalui e-mail: nova@gridnetwork.id

Tanya Yth. Bu Rieny,

Perkenalkan nama saya Ida, kelahiran 1987. Saya anak pertama dari tiga bersaudara, dibesarkan di keluarga yang sangat sederhana.

Ayah saya bekerja sebagai buruh serabutan dan ibu saya sebagai penjual kue di kampung. Saat duduk di bangku SD, setiap hari sepulang sekolah saya membantu ibu menjajakan dagangannya berkeliling kampung. Walaupun saya tidak menikmati masa kecil yang indah, saya masih bersyukur karena masih bisa bersekolah dengan baik. Beranjak remaja saya masih tetap harus membantu ibu. Tugas saya setiap pagi harus menyiapkan dagangan ibu saya sebelum berangkat kesekolah. Waktu itu ibu berjualan nasi uduk di dekat rumah dan dengan rutinitas itu saya bersyukur dapat menyelesaikan sekolah sampai ke SMK.

Jenjang pendidikan saya berjalan lancar dan setelah lulus sekolah saya melamar pekerjaan di sebuah perusahaan swasta di Bogor. Alhamdulillah bisa membantu ekonomi keluarga di rumah karena pada waktu itu ayah saya sakit. Beliau lumpuh dan saya harus menggantikan posisi Ayah menjadi tulang punggung keluarga, harus mengobati ayah saya, menyekolahkan adik-adik saya, dan membiayai makanan sehari-hari. Ibu sudah tak bisa berjualan nasi uduk lagi karena harus mengurusi ayah saya yang sedang sakit.

Waktu terus berlalu, saya pun bisa menyekolahkan adik-adik saya dan mereka lulus sampai ke SMK. Mereka pun juga sudah bisa membantu saya mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Saya bekerja kurang lebih 8 tahun lamanya, namun saat di perusahaan ada pengurangan karyawan, saya terkena PHK. Saya mencoba melamar lagi di perusahaan lain tetapi tidak pernah beruntung dan pada akhirnya saya ditawari tetangga untuk mengajar di PAUD.

Saya coba menekuni bidang tersebut dan untuk tetap eksis saya harus menempuh lagi pendidikan setara S1. Saya punya tekad—atau nekat, ya, Bu—untuk mulai kuliah dengan dana yang sangat minim sekali, di usia yang sudah tidak muda, dan prestasi juga tidak menonjol. Tetapi tekad saya untuk berhasil menjadi sarjana dan mengajar secara lebih profesional membuat saya bertahan.

Mengapa jalan yang harus saya tempuh, penuh liku, ya, Bu? Saya ingin berbagi dengan Bu Rieny, karena kalau saya ikut membaca NOVA milik orangtua murid, rasanya Ibu sudah ikut menyemangati saya untuk meniti kehidupan dengan positif. Kalau saya melihat sejarah hidup saya, rasanya tidak mungkin dengan gaji sekian bisa mencukupi makan sekeluarga, mengobati ayah yang sakit, dan membiayai adik-adik hingga tamat SMK. Nyatanya, itu bisa kami lalui, Bu. Jadi, kalau ada niat yang dibarengi dengan tekad yang kuat, kita harus yakin, bisa. Begitu, ya, Bu?

Mudah-mudahan Bu Rieny tak menganggap cita-cita saya berlebihan. Sudah miskin, cuma guru PAUD, mau jadi sarjana lagi. Di kampus memang ada beasiswa, tapi dari usia saja, saya sudah tak masuk kriteria. Apakah sekiranya ada beasiswa yang bisa saya dapatkan, ya, Bu? Dengan adanya beasiswa, saya berharap saya bisa kuliah lebih lancar dan kelak hidup lebih baik lagi. Saya ingin sekali menjadi guru atau dosen yang profesional dan bisa mencerdaskan anak bangsa.

Terima kasih, Bu, saya lega bisa bercerita, mudah-mudahan Ibu tidak menganggap email saya ini ecek-ecek, ya, Bu. Karena saya jujur menceritakan hidup saya dan cita-cita yang saya ingin capai. Terima kasih Ibu sudah mau membacanya dan mudah-mudahan memberi tanggapan dan saran.

Ida Z - di Jawa Barat

Jawab Ida sayang, Terima kasih untuk selalu membaca rubrik saya. Boleh, ya, dipanggil tanpa embel-embel Bu Guru? Beberapa orang memang diberi Allah jalan yang terlihat mulus dalam meniti hidup ini. Berkecukupan, sekolah di tempat favorit, dan mendapat gelar kesarjanaan di usia muda. Tetapi, yakinlah, semua orang punya masalah dalam hidupnya, sesuatu yang diinginkan dan belum didapat, atau gaya hidup yang didambakan tapi tak bisa diwujudkan, Ayah yang tak pernah paham dirinya, dan berjenis masalah lain yang lekat dengan kehidupan.

Maka, yang tak boleh dibiasakan menguasai pemikiran Anda adalah, keyakinan bahwa Anda adalah orang yang paling banyak punya kesulitan di dunia ini, dan karenanya tak berhak merasa bahagia. Kalau saya baca email Anda, di sana tersirat, kok, beberapa keberhasilan dalam perjalanan hidup Anda. Hanya saja, tampaknya Anda lebih memaknainya sebagai “sudah seharusnya itu dilakukan”, bukan sebagai kehebatan Anda menakhodai hidup Anda, bahkan juga menakhodai orangtua dan adikadik Anda untuk menjalani hidup ini. Saya yakin, tidak semua orang punya kegigihan dan ketekunan seperti Anda dalam bekerja dan dalam belajar di universitas untuk menggapai cita-cita sebagai lulusan sarjana PAUD. Perlu, lho, Ida untuk merayakan keberhasilan dalam hidup kita. Tidak harus momen kehidupan yang besar. Kalau sedang mencanangkan diet, misalnya, dan seminggu kita berhasil menghindari nasi, itu layak dianggap sebagai keberhasilan yang perlu kita rayakan. Hadiahi diri dengan makan satu potong tempe goreng, misalnya. Kan biasanya cuma makan kentang dan segala yang direbus. Cara ini, membuat Anda mampu memelihara antusiasme dalam menjalani kehidupan. Kemudian, kuatkan pula keyakinan diri bahwa Anda itu memang punya banyak kualitas kepribadian yang positif, sehingga Anda bisa tetap bertahan sampai sekarang. Bahkan, lebih kerennya lagi, tetap belajar untuk meraih cita-cita. Jadi guru PAUD yang profesional.

Tidak ada cita-cita yang berlebihan, selama kita percaya bahwa suatu saat kita pasti akan mampu meraihnya. Cita-cita adalah keberanian kita membayangkan bisa meraih atau mewujudkan sesuatu yang saat ini—secara objektif—kita masih belum mampu mewujudkannya. Di dalamnya ada harapan kehidupan yang kualitasnya lebih baik, memiliki kesempatan mengembangkan diri dan karier lebih luas karena sudah berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat lebih tinggi. Bahkan juga menjadikan diri bermanfaat buat lebih banyak orang. Ini semua adalah cita-cita.

Ida, insyaallah saya bisa mengusahakan Anda untuk memeroleh bantuan dana untuk mendukung pendidikan Anda, karena tampaknya memang memenuhi syarat. Keinginan maju yang kuat, usia sudah tidak muda lagi, dan kalau berhasil tamat akan mengangkat harkat keluarga. Pastikan pada diri sendiri, dengan kerja keras dan izin Allah, pasti bisa jadi sarjana. Program ini pernah membiayai 8 guru PAUD, dengan cerita kehidupan serupa dengan Anda, bahkan beberapa sudah mengajar di TK selama belasan tahun. Saat memutuskan untuk jadi sarjana, mereka berjuang susah payah, dengan IPK yang pastinya juga tidak menonjol. Tetapi program ini memang mengutamakan tekad kuat di dalam keterbatasan. Jadi, Ida, segera kirimkan data diri seperti fotokopi KTP, kartu mahasiswa, dan daftar nilai yang dilegalisasi oleh kampus Anda ke email rieny.hutami@gmail.com. Saya tunggu, ya.

Salam sayang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.