Curhat

Hingga usia enam tahun, tak ada yang aneh dengan kesehatan Camilo Arles Ardiraputra. Tapi begitu usia tujuh tahun, gejala mulai muncul. Ia pun didiagnosa menderita kanker otak stadium dua. Sang ibunda, Ira Damardini (40) curhat kepada NOVA beberapa waktu

Nova - - Etalase - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: DOK. PRIBADI

Saat mengetahui penyakit anakku, setengah nyawaku seperti hilang. Putra sulungku, sudah enggak seaktif dulu. Sedih melihatnya. Usia baru menginjak sembilan tahun, namun penyakit kronis menimpanya. Camilo didiagnosa dokter menderita kanker otak stadium dua! Tak habis pikir, kenapa di usia semuda itu cobaannya sudah berat sekali? Kenapa bukan aku saja yang menanggung semua itu?

Camilo memang sudah tak bisa beraktivitas seluwes dulu. Berjalan saja tidak bisa selancar dulu. Apalagi, dokter melarangnya beraktivitas berat, seperti berlari atau melompat-lompat. Takutnya, keadaan Camilo drop lagi.

Kondisinya memang sempat sangat parah. Mata kanannya tak berfungsi normal, hanya bisa melihat 30 persen dari mata normal pada umumnya. Semua itu bukan tanpa sebab.

Semakin Parah

Meski kondisi Camilo seperti itu, aku masih bersyukur. Apalagi keadaannya kini sudah mendingan dibanding saat-saat sebelum dan sesudah operasi. Sebelumnya, saat usia enam tahun, pernah ketika lagi asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba saja dia mengalami flu hebat, muntah-muntah, dan demam tanpa sebab yang pasti.

Diobati berkali-kali, penyakit itu tak juga sembuh. Bahkan keseimbangan tubuhnya perlahan hilang. Kalau lagi berjalan, tiba-tiba dia sempoyongan dan akhirnya jatuh. Bahkan sempat tak sadarkan diri. Aku sungguh bingung.

Saat itu, aku panik dan tak kuasa melihat keadaan anakku yang sudah berbulan-bulan tak ada perubahan, malah kemudian semakin parah. Lalu aku dan suami membawanya ke rumah sakit di sekitar tempat tinggalku, Ciputat, Jakarta Selatan. Setelah itu dirujuk lagi ke sebuah rumah sakit swasta di daerah Jakarta Selatan, untuk ditangani lebih intensif di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit).

Selang beberapa hari, dokter menyarankan agar Camilo dioperasi. Tapi, kami takut biayanya mahal, karena tak ditanggung BPJS. Makanya, sebelum operasi aku dan suami pinjam dana ke sana-ke sini—termasuk keluarga besar—hingga akhirnya dana terkumpul dan operasi bisa dilakukan.

Dari hasil operasi, aku mengetahui bahwa Camilo sudah mengidap kanker otak stadium dua. Artinya, operasi belum menyelesaikan semua, harus ada terapi dan pemberian obat rutin agar kankernya tak makin membesar.

Aku sempat bertanya pada dokter, kapan Camilo bisa sadarkan diri. Sebab,

pascaoperasi Camilo sempat koma beberapa waktu. Tapi, dokter malah menjawab begini, “Aku pun enggak tahu. Bisa sebentar, bisa juga lama. Tergantung dia bisa melewati masa kritis ini atau tidak.”

Hati ibu mana yang tak sedih mendengarnya. Di saat aku butuh kepastian, dokter malah tak bisa menguatkanku. Mungkin dia tak mau memberiku prediksi palsu, ya. Entahlah.

Akhirnya, setelah koma beberapa hari, Camilo sadar, namun keadaannya malah makin memburuk. Sejak saat itu, dia jadi kesulitan berjalan dan mata kanannya jadi tak senormal dulu. Dia sempat bertanya, apa yang sedang menimpanya? Aku akhirnya menjelaskan apa yang sedang dia derita. Aku menguatkannya, bahwa dia pasti bisa sembuh dan bisa melewati rintangan karena penyakitnya.

Selama menjalani masa pengobatan rutin setahun belakangan ini, Camilo pun terpaksa harus meninggalkan sekolahnya.

Dia yang harusnya sekarang kelas 4 SD, harus tertunda menjadi kelas 2 SD.

bisa bernapas lega

Namun, ada lagi yang membuatku kuat. Yaitu, semangat Camilo sendiri. Ketika kakinya tak bisa berjalan, tubuhnya terasa lemas saat bergerak, dia tak menyerah mengikuti arahanku untuk kembali perlahan menggerakkan anggota tubuhnya. Pelanpelan, dia bisa kembali berjalan, meski tak seluwes dulu.

Aku sempat berpikir, kenapa semua ini terjadi begitu cepat dan tiba-tiba? Apakah semua gejala sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi kami yang tidak paham? Kami memang bukan orang medis, juga agak terlambat menyadari. Tapi bukan berarti aku menyerah untuk menyembuhkan Camilo.

Sekarang, di saat kami sudah habis-habisan mengeluarkan biaya pengobatannya yang mahal, kami bersyukur karena banyak sekali donatur yang memfasilitasi. Kami memang membuka donasi bagi siapa pun yang mau membantu pengobatan Camilo.

Kini, setidaknya aku bisa bernapas lega, atau sekadar tidur lelap saat malam hari. Sebab Camilo sudah bisa melanjutkan aktivitasnya lagi. Aku juga senang bisa kembali melihat kebawelannya itu ketika sedang bermain di rumah. Atau, menyaksikan sifat malu-malunya lagi ketika bertemu orang asing yang tak dikenalnya. Sungguh aku rindu dia yang seperti ini.

“Ketika kakinya tak bisa berjalan, tubuhnya terasa lemas, dia tak menyerah mengikuti arahanku untuk menggerakkan anggota tubuhnya.”

Akibat kanker otak, Camilo sulit berjalan. Mata kanannya juga hanya bisa melihat 30% dari mata pada umumnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.