Petaka terjebak di Mobil: jangan Sampai ada korban lagi anti tinggalkan anak Sendiri

Berita mengenai tewasnya bocah R yang terkunci lebih dari 24 jam di dalam mobil barangkali masih membekas di ingatan. Bukan sekali dua kali kejadian serupa terjadi. Jangan sampailah, ada korban lagi.

Nova - - Tips Oto - JEANETT VERICA | FOTO: ISTOCK

Beberapa waktu lalu, Anda barangkali sempat menyimak pemberitaan mengenai anak kecil berinisial R yang tewas karena terkunci di dalam mobil.

Kronologi singkatnya kira-kira begini. R diduga keluar rumah untuk menonton ondel-ondel. Tak lama setelahnya, R diduga hilang oleh keluarga. Usut punya usut, rupanya R menyelinap masuk ke dalam sebuah mobil yang berada dalam kondisi tidak terkunci. Setelahnya, R justru terjebak dan terkunci di dalam sana. Pihak keluarga terus mencari keberadaan R hingga kira-kira 24 jam setelah hilang. R kemudian ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di dalam mobil yang lama terparkir. R kehabisan oksigen.

Well, bagaimanapun juga, kejadian ini tentu sangat memilukan. Bagaimana tidak? Peristiwa tewasnya seseorang lantaran terkunci di dalam mobil, bukanlah hal yang baru sekali dua kali terjadi. Mei 2018, peristiwa serupa sempat menimpa dua bocah di Purwakarta. Kedua cilik ini pun tewas.

Pertanyaannya, masa iya, peristiwa ini sama sekali tidak bisa dicegah? Jangan sampailah ada korban lagi. Lewat banyak cara, kejadian seperti ini tentu bisa kita antisipasi dan atasi.

Wajib bertindak Preventif

“Prinsipnya, si anak itu, apalagi kalau dia balita atau paling enggak di bawah 10 tahun, dia akan penasaran dengan segala sesuatu. Mobil atau benda-benda yang buat dia aneh, akan tampak seperti mainan,” kata Agustianto Beding, redaktur majalah JIP dan instruktur Brain Based Driving dari Otomotif.

Yah, walaupun akan sulit bagi kita untuk mengubah cara pandang anak terhadap segala sesuatunya, kita tentu tetap wajib memberi informasi yang benar kepada mereka. Salah satunya, bisa lewat penjelasan bahwa motor atau mobil itu bukanlah mainan. Malah, kita justru perlu memberitahu mereka sedari awal bahwa barang-barang tersebut adalah barang-barang berbahaya.

“Beli aja mainan, mobilmobilan. Kasih contoh kalau di jalan miring, mobil bisa jalan sendiri. Kamu jangan berdiri di depan atau belakangnya. Memberi contohnya tetap yang masuk akal. Prinsipnya tetap, kenalkan ke mereka bahwa kendaraan bermotor itu berbahaya, bahkan kalau di luar negeri, mindset (yang ditanamkan ke anak kecil) adalah, mobil dan motor itu barang mematikan,” lanjut Anto— begitu ia akrab disapa.

Langkah preventif boleh saja sudah kita tempuh. Namun demikian, bukan berarti kita lantas boleh 100% percaya melepas anak untuk bermain-main dengan si kendaraan bermotor. Apalagi, usianya memang belum cukup. Setidaknya sampai anak betul-betul paham dan punya kesadaran untuk bertanggung jawab, wajib sudah hukumnya bagi orangtua untuk senantiasa mengawasi si buah hati.

Tapi kalau meninggalkan mereka sebentar untuk turun ke minimarket, boleh, dong? Kata siapa?

“Enggak ada, tuh, istilahnya ninggalin anak kecil di dalam mobil sebentar atau lama, sendirian,” bilang Anto tegas.

Alasannya sederhana. Di dalam mobil ada banyak sekali komponen yang berbahaya untuk anak. Sudah ada setir dan beragam tombol otomatis, perseneling pun jelas jadi satu “godaan” tersendiri untuk memancing rasa ingin tahu si kecil. Dan hal ini jelas tak bisa dianggap sepele.

“Kalaupun misalnya terpaksa banget, banget, banget, meninggalkan anak di dalam mobil, pastikan mobil itu berhenti dengan baik. Kemudian, buka jendelanya tapi jangan terlalu terbuka. Cukup biar ada sirkulasi udara. Dan mesinnya jangan hidup. Pastikan juga kita pegang kuncinya,” ingat Anto.

ingat bahaya Setiap Saat

Jangankan anak kecil, ancaman mengerikan dari mobil juga bisa pula ikut menghantui kita, pihak-pihak yang lebih dewasa. Anto berkisah, setidaknya ada beberapa “pelanggaran” yang biasa kita lakukan sehubungan dengan kondisi kabin mobil, tanpa memahami bahayanya.

Misal, tidur terlalu lama di dalam mobil dengan kondisi AC menyala, atau terlalu sering menjadikan mobil sebagai hotel atau rumah kedua.

Kebiasaan ini, tentu tak hanya membahayakan si kecil yang ikut bersama. Tapi juga kita, para orangtua. Lagipula sebetulnya, “Istirahat di mobil enggak perlu lama-lama. Orang suka tidur di mobil, kadang lupa (buka jendela). Ini istirahat, lho, bukan melepas segala kelelahan di mobil. Dan kita itu lagi istirahat di mobil, bukan di hotel atau di kamar.”

Sebab sama seperti anak kecil, kita pun jelas bisa mengalami kondisi kehabisan oksigen tatkala tinggal terlalu lama di mobil.

“Enggak ada, tuh, istilahnya ninggalin anak kecil di dalam mobil sebentar atau lama, sendirian,” – Agustianto Beding, redaktur majalah JIP dan instruktur Brain Based Driving dari Otomotif.

Dan yang tak bisa dibantah adalah, udara yang tinggal di kabin mobil juga perlu sirkulasi. Sama halnya dengan kita, manusia yang butuh udara segar.

“Kalau mau istirahat, kunci pintu, buka sedikit jendela, parkir di tempat yang masih bisa jadi perhatian orang, jangan terlalu sepi. Sekarang di jalan tol ada rest area. Kalaupun kita terlalu lama di situ, orang masih bisa perhatikan kita,” terang Anto.

Dalam kondisi berjalan, ada baiknya kaca jendela juga rajin dibuka, maksimal setiap dua atau tiga jam, demi alasan sirkulasi. Kalau mobil dalam kondisi berhenti, kaca jendela memang sebaiknya dibuka sejak awal. Sebab, ketika oksigen di kabin mulai berkurang, kantuk akan cenderung mudah menyerang. Dan jika kita tertidur tanpa kaca jendela terbuka, Anda bisa tebak akibatnya, bukan?

“Ruangan sempit aja pengap. Apalagi kabin mobil yang lebih sempit?” tukas Anto, gamblang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.