“Aku Yakin MAS Vino Masih hidup”

Nova - - Curhat - BAGUS SEPTIAWAN FOTO: BAGUS SEPTIAWAN, DOK.PRIBADI

Farida Kurnia Wati belum mau keluar rumah.

Nia—begitu dia diakrabi masih mengurung diri di dalam kamar rumahnya di Kompleks Serpong Green Park 2, Tangerang Selatan. Hingga Selasa (30/10) lalu, Nia masih belum percaya suami tersayangnya itu telah pergi dan belum juga diketahui kabarnya.

Harvino (42), suaminya Nia itu adalah kopilot Lion Air JT-610 yang bersama 181 penumpang dan 6 awak pesawat lainnya ikut menjadi korban jatuhnya pesawat di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat (29/10) lalu.

Seperti yang dialami keluarga korban lainnya—juga kita—duka begitu mengharu biru. Dengan wajah sendu, dan sesekali menahan diri agar tidak menangis, Pribadi Agus Subagya bercerita tentang Harvino, kakak kandungnya. Ini cuplikan curhatnya.

“Kami di sini masih menantinya. Bukan menanti pulang dalam keadaan hidup, kami sudah mengikhlaskan kepergiannya. Tapi, kami menanti agar jasad Mas Vino bisa ditemukan secara utuh, sehingga kami bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali sebelum dikebumikan. Doain Mas Vino, semoga dia selamat dan bisa pulang ke rumah lagi, ya. Aku percaya dia masih hidup, kok,” begitu Mbak Nia berujar.

Sedih hatiku mendengarnya. Karena dilihat dari kejadiannya, kecil kemungkinan Mas Vino selamat. Meski sudah dibilangin pelan-pelan, dia masih kuat dengan pendiriannya.

Belum lagi ketiga anak yang ditinggal Mas Vino, Khansa (8), Rava (6), dan Halik (1,5). Mereka seperti belum mengerti kejadian yang menimpa ayahnya itu.

Sebelumnya, kami tak menerima firasat buruk apa pun. Makanya kami kaget begitu melihat di TV ada pesawat Lion Air yang kecelakaan. Apalagi setelah menerima rilis daftar korban, Mas Vino jadi salah satunya. Kami semua syok. Mbak Nia pun langsung pingsan begitu mendengar kabar buruk ini. Tak kuasa aku melihatnya, harus ditinggal suami secepat itu.

Empat Tahun Jadi kopilot

Sedih memang. Tapi kalau dipikir, toh sekarang Mas Vino sudah tenang berada di sisi Tuhan, meski jenazahnya belum

ditemukan. Dibanding terus menangisi, alangkah baiknya mengambil pelajaran dari dirinya yang sangat menginspiratif, salahsatunya semangat Mas Vino dalam meraih mimpi. Sejak kecil dia bercita-cita jadi pilot, mungkin karena dulu sering ikut ayah kami yang bekerja sebagai karyawan Angkasa Pura. Akhirnya, cita-cita itu tercapai.

Semua tak didapat kakakku itu secara instan. Butuh proses panjang. Dimulai setelah dia lulus dari sekolah penerbangan di Avindo Angkasa tahun 1997 silam. Mimpi Mas Vino sebagai pilot harus tertunda, karena

saat itu sedang krisis di Indonesia. Banyak maskapai penerbangan bangkrut, mereka tak bisa menerima karyawan baru. Dia beralih sebagai Air Traffic Control PT Angkasa Pura Semarang hingga tahun 2013. Kemudian setelah resign dari Angkasa Pura, dia diangkat sebagai kopilot Lion Air pada tahun 2014.

Sertifikat sekolah penerbangan membawa kakakku diterima sebagai kopilot, meskipun dia harus menempuh pendidikan penerbangan lagi selama setahun agar dapat lisensi sebagai kopilot. Dia rela memulai karier dari nol, dan selalu semangat dalam menggapai citacitanya. Hal lain yang kami kagumi adalah sifat dermawan Mas Vino. Tanpa diketahui pihak keluarga, ternyata dia dan teman Smanya mengelola dan membiayai sebuah panti asuhan yatim-piatu di Pemalang, Jawa Tengah.

Tuhan tampaknya lebih sayang sama Mas Vino. Makanya dia dipanggil untuk menghadap-nya terlebih dulu.

Meski sudah mengikhlaskan kepergiannya, pihak keluarga tetap berharap jenazah Harvino bisa segera ditemukan dalam keadaan utuh.

Sedari kecil Harvino sudah bermimpi menjadi seorang pilot. Dan sebelum dia wafat, mimpi itu pun tercapai.

Hingga kini, proses evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 masih terus dilakukan. Agar semua jasad korban, badan pesawat, hingga peralatan berharga lainnya bisa segera ditemukan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.