TAK PERLU SEPIRING TAPI SERING

Jika kita terus membujuk selama sebulan penuh si kecil agar mau makan brokoli, berarti ada yang salah pada diri kita.

Nova - - Anda & Anak - MELISSA TUANAKOTTA / MARIA ERMILINDA FOTO: ISTOCK

Nagita Slavina sempat dibuat kewalahan—rafatar Malik Ahmad anak semata wayangnya itu susah makan.

“Dia juga pilihpilih makanan. Ada juga enggak mau makan, maunya susu aja. Bukan cuma enggak mau makan nasi, tapi semuanya. Apalagi lihat sayur, dia bisa histeris,” keluh artis cantik ini.

Selanjutnya, Gigi—panggilan akrab Nagita—pun sangat khawatir tumbuh kembang Rafatar jadi kurang optimal.

Yang dialami Gigi tentu bukan sesuatu yang istimewa. Sebagian besar kita juga pasti pernah dan masih mengalami hal yang sama dengan kelakuan si kecil seperti itu.

Tapi, apa betul anak yang pemilih makanan (picky eater) pasti bakal jadi orang yang pemilih begitu dia dewasa?

Belum tentu. Karena tak ada satu pun teori yang memastikan demikian.

Menurut Tari Sanjojo, Psi., psikolog anak dari Sekolah Cikal, ketika anak pilihpilih makanan itu sebenarnya merupakan bagian dari tahapan perkembangan. Hal ini biasa terjadi ketika anak sudah memasuki usia 2-3 tahun.

“Karena sebetulnya kalau anak sudah mulai bilang tidak, atau memilih atau menolak pilihan yang di berikan pada dia, itu enggak buruk, itu sebenarnya merupakan pengembangan keterampilan kognitif yang luar biasa,” jelas Tari.

Namun, orangtua tentu tidak dapat membiarkan anak menjadi picky eater. Karena, anak di rentang usia itu—seperti kita tahu—justru perlu banyak bantuan. Selain si picky eater bisa kurang bagus asupan gizinya, dikuatirkan dia juga akan “..menjadi anak yang lebih sulit beradaptasi dengan hal-hal yang baru,” jelas Tari.

Lantas apa yang harus kita lakukan kalau si kecil kesayangan menjadi picky eater?

Pahami Situasi

Biasanya orangtua merasa bingung ketika ditanya oleh dokter, “Bu, kok, berat anaknya cuma naik setengah kilo?” Walau terkesan biasa, perkataan seperti itu membuat beberapa orangtua merasa bingung, tidak tenang, dan sulit berpikir jernih.

“Ya, kalau bingung saja, sih, enggak apa-apa, tapi ini bingung pakai marah, pakai panik, apalagi minggu depan jadwalnya buat ke dokter anak. Deg-degannya setengah mati. Mestinya, orangtua cari solusi. Cari tahu yang bisa membuat anak semangat makan apa, ya? Karena anak, kan, kadang on dan off. Kadang makan banyak, kadang enggak sama sekali. Jadi apa, nih, ya, menu atau kombinasi menu yang harus saya siapkan,” papar Tari.

Apakah hanya soal menu makanan yang bisa jadi solusi? Tentu tidak.

Karena, yang sering terjadi, ketika orangtua sedang berusaha mencari solusi menu makanan, anak mulai berulah karena merasa lapar. Ulah anak yang demikian tak jarang malah bikin jengkel orangtua.

Jika hal ini terus terjadi setiap hari, anak akan merasa situasi makan malah menjadi “horor” baginya. Dia bukan hanya jadi malas makan, tapi jadi sering konflik dengan orangtuanya.

Akhirnya, kita yang menyerah. Misalnya, anak cuma mau susu, maka kita kasih dia susu sebanyak banyaknya. Anak suka n y ajun k food, maka kita pun kasih anak junk food. Yang penting anak kenyang, enggak rewel, dan pas ke dokter anak berat badannya cukup.

Padahal, “Kita enggak mau anak cuma banyak makan, tapi kita mau dia menikmati acara makan. Dan bukan hanya berpatok pada situasi makan, tapi lebih besar kepada komunikasi antara orangtua dan anak,” jelas Tari

Meskipun kita wajib menentukan makanan anak, jangan lupa kita juga harus memerhatikan preferensi makanannya. Misal, kalau anak tidak mau makan brokoli, jangan sampai selama sebulan penuh kita berusaha keras memperkenalkan brokoli kepada anak.

Padahal, makanan atau gizi yang dikandung oleh brokoli itu bisa diganti oleh jenis makanan lain.

Jadi sebenarnya, kalau kita tahu preferensi makan anak, kita bisa menentukan menu yang lebih menyenangkan buat dia. Nah, pada saat menentukan menu makan inilah orangtua bisa berkreasi dan mengatur strategi. Misalnya, menyelipkan menu baru atau menu yang tidak favorit namun wajib dikonsumsi anak, tentunya dengan tampilan dan rasa yang menggugah selera.

Penting diingat bahwa anak juga berhak memutuskan seberapa banyak makanan yang akan dia makan. Enggak perlu sepiring, mungkin sedikit-sedikit tapi sering. Kita harus bisa mendengarkan anak dan memberikannya pilihan.

“Yang buat orangtua kadangkadang merasa anak sulit diatur itu karena kita enggak dengar suara anak dan itu juga salah satu yang membuat anak menjadi rewel,” jelas Tari.

Nah, semoga saja Gigi dan Raffi Ahmad juga mendengar nasihat psikolog kita ini.

“Anak sudah mulai bilang tidak.. atau menolak pilihan yang diberikan pada dia.. sebenarnya merupakan pengembangan keterampilan kognitif yang luar biasa.”

Tari Sanjojo, Psi. psikolog anak dari Sekolah Cikal

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.