KITA PERLU PUNYA BANYAK EKSTRA

Buat sebagian ibu, anak lelakinya tetap “still my boy”. Jika pasangan kita kebetulan yang seperti itu, haruskah kita menyerah pada “nasib”?

Nova - - Anda & Pasangan - MARIA ERMILINDA HAYON FOTO: ISTOCK

“Smengasihi ayangilah mertua seperti kamu

orangtua kamu sendiri!”

Nasihat semacam ini seringkali kita dengar, kita turuti, dan sepertinya tak pernah hilang pula dari hati dan pikiran kita.

Tapi, pernahkah kita mendengar nasihat “sayangilah menantu kamu seperti kamu mengasihi anak kamu sendiri”?

Harusnya ada juga. Dan kenyataannya, tak sedikit—katakanlah ibu mertua—yang begitu menyayangi menantu perempuannya.

Jika kedua nasihat ini sungguhsungguh diresapi dan dijalankan betul, mengapa masih saja ada masalah “ibu mertua vs menantu perempuan”?

Itu juga soal biasa. Toh hubungan kita dengan suami, kan tak selalu mulus—apalagi dengan ibunya.

Ditambah, budaya yang kita anut masih menempatkan perkawinan bukan hanya menyatukan dua orang tapi juga dua keluarga, bahkan lebih.

Jadi, kalau mertua selalu berada di lingkaran rumah tangga kita, masih dianggap wajar-wajar saja. Dan namanya juga berada dalam lingkaran, bisa saling berjabat tangan, tapi bisa juga saling beradu punggung. Kadang peduli bisa diartikan sebagai perhatian, namun tak jarang dituding menjadi ikut campur.

“Gangguan atau tidaknya tergantung dari pasangan itu sendiri. Gangguan itu akan terjadi kalau memang mertuanya sudah dianggap mengganggu dan membuat tidak nyaman. Biasanya perilakunya sudah kelewat batas dan berkesan mencampuri urusan rumah tangga. Jika bentuk kepedulian biasanya mengarah pada dukungan atau support. Perilaku itu dibatasi dengan adanya kebutuhan dari pasangan itu sendiri,” tutur Reynitta Poerwito, Bach., of Psych., M.psi dari Poliklinik Psikologi Eka Hospital BSD.

Yang disampaikan Reynitta jelas. Bahwa, sikap mertua tak melulu diartikan gangguan pada kehidupan berumah tangga anaknya.

Memang sih, ada saja kelakuan sang mertua yang bisa membuat hubungan suami-istri yang semula mesra menjadi tidak harmonis. Kita pun sering mendengar, ada mertua yang senang menyindir hingga membandingkan menantunya dengan perempuan lain, dan sederet panjang kisahnya—baik itu kita alami sendiri atau cerita sinetron yang ratusan episode itu.

Suami Menjadi Kunci

Lalu, apa yang harus kita lakukan jika ibu mertua kita berulah seperti itu?

“Hal ini hanya bisa diatasi dengan meningkatkan kedekatan dan komunikasi yang baik dengan suami, karena kunci utamanya adalah di pihak suami. Dalam hal ini idealnya, suami berdiri di depan istrinya. Bila cerita itu benar, kewajiban suami adalah membela istrinya terlebih dahulu. Intinya jangan sampai kesalahan itu sengaja atau tidak menjadi jurang pemisah antara hubungan istri dan mertua,” ujar Reynitta.

Jika suami tak kunjung bertindak, perlukah kita secara langsung menegur sang mertua?

Bisa jadi perlu. Jika ulahnya sudah melewati batas kepatutan. Namun, sebelum menegur mertua ada baiknya jika kita komunikasi dengan suami. Cara lainnya apabila tidak ingin terus menerus berkonflik dengan segala ulah mertua, maka jaga jarak interaksi dan turunkan pula harapan-harapan yang ada dalam diri kita pada mertua.

Selebihnya, ya kita perlu ekstra sabar, tapi sekaligus juga ekstra tegas. Kenapa harus begitu?

Pernahkah Anda mendengar, bahwa buat sebagian ibu, anak lelakinya dianggapnya tak pernah besar. Dan kini “the big boy”-nya itu Anda urus. Betul ikhlas seratus persenkah beliau?

Reynitta Poerwito, Bach., Of Psych., M.psi dari Poliklinik Psikologi Eka Hospital BSD.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.