BATAL Menikah, “Yang harus lebih Disalahkan ke Saya…”

Langkah Denny Sumargo dan Dita Soedarjo kandas. Keduanya memilih untuk berpisah baik-baik sebelum lanjut ke jenjang pernikahan.

Nova - - Selebritas - FIRLI | FOTO: ROY, DOK. INSTAGRAM @DITASOEDARJO

Persiapan pernikahan Denny Sumargo dan Dita Soedarjo sudah mencapai 50 persen. Namun di tengah jalan, pasangan ini memutuskan berpisah. Denny dan Dita batal menikah setelah bertunangan pada 4 Agustus 2018 lalu.

Padahal keduanya mengaku sudah sama-sama yakin untuk hidup bersama hingga akhir hayat. Kabar berakhirnya hubungan Denny dan Dita mulai tercium pada Kamis (13/12). Kala itu, Denny mengklarifikasi jika dirinya berselingkuh. Begitu pula dengan Dita yang mengisyaratkan dirinya batal menikah.

Berbagai spekulasi pun muncul. Tak lama berselang, Denny dan Dita menggelar jumpa pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (15/12). Keduanya begitu kompak dan lapang dada menjelaskan batalnya pernikahan mereka. Bahkan Denny dan Dita masih saling memuji. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana dengan kabar yang beredar soal batalnya pernikahan kalian?

Denny: Jadi sebenarnya saya kan baru saja selesai ketemu mama dan papa Dita, karena dari awal, kan, saya datang baik-baik, saya juga harus perginya baikbaik. Saya juga sudah ngobrol, saya juga minta maaf dengan segala kekurangan saya. Mereka very welcome. Papanya Dita is very nice guy, mamanya juga sama. Saya dan Dita sudah memutuskan barengbareng untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan. Dateng sendiri menemui orangtua Dita? Denny: Saya datangi keluarga Dita sendiri. Jadi, saya minta ketemu. Mereka titip maaf keluarga saya kalau kayak gini ada yang enggak enak, ada yang ngerasa tersakiti segala macam. Aku sama papa dan mamanya Dita kepinginnya kan masih berteman, dan silaturahmi kami juga tetap terjaga. Biar bagaimana pun mantan itu bukan berarti saling menjelek-jelekkan.

Apa alasan sebenarnya yang membuat kalian akhirnya berpisah?

Denny: Ada perbedaan visi dan misi. Kita enggak ketemu-ketemu, saya ke kanan, Dita ke kiri. Karakter kami enggak bisa ketemu, terlalu berbeda. Background enggak ada masalah karena papa dan mamanya enggak ngelihat itu sama sekali. Jadi, itu bukan big deal. Sisanya, kami enggak ketemu.

Dita: Lebih baik jadi teman, malah lebih seru. Jodoh kan di tangan Tuhan, kita enggak bisa paksa. Kadang-kadang orang itu baik, tetapi belum tentu itu jodoh kita.

Perbedaan visi dan misi itu dirasakan sejak kapan?

Dita: Jujur saja, sejak awal. Karena kan beda prinsip itu dari kita lahir di mana, keluarga kita, pendidikan, sekolah, pergaulan. Sebenarnya dari dulu, tetapi karena kita lengah saja, kita belum terlalu omongin, langsung tunangan saja.

Butuh waktu berapa lama untuk memutuskan tidak jadi menikah?

Denny: Sekitar enam bulan. Kan kita juga ada konseling agama untuk pra nikah, terus kita juga ada ketemu orang-orang yang sudah nikah. Terus juga banyak minta pertimbangan kiri dan kanan, ke pendeta juga.

Dita: Banyak belajar sih, aku bilang enggak sia-sia. Aku enggak nyesel banyak pelajaran buat aku makin dewasa dan aku enggak tahu married serumit itu.

Banyak yang support hubungan kalian, tidak ingin untuk mempertahankan?

Denny: Sebenarnya yang harus lebih disalahkan ke saya, karena saya yang harus lebih mengambil keputusan. Dita ini sebenarnya sudah sangat cukup baik buat saya. Cuma ada beberapa hal yang saya tidak akan jabarkan karena jatuhnya sudah pasti nyerempet ke mana-mana. Saya penginnya perjalanan kami ini, Dita punya perjalanan yang indah tanpa kita harus saling mengecilkan dan menjatuhkan. Akhirnya kita malah bersepakat di situ.

Apa yang membuat Dita sepakat batal menikah?

Dita: Bangun keluarga itu enggak gampang. Komitmen itu bukan cuma soal perasaan, perasaan hilang terus kamu cerai, itu enggak boleh. Kalau sudah menikah kan bukan cuma soal perasaan, tetapi komitmen. Menurut aku, aku belum sampai di sini, aku mungkin belum jodoh. Aku masih muda, masih 26 tahun.

Benarkah kalian batal menikah karena perbedaan kasta?

Dita: Itu malah enggak lho. Malah saya suka Denny itu very interesting. Orangnya enggak materialis, baik banget. Dia juga ngajarin aku arti kehidupan, dia sangat baik.

Bukan karena profesi Denny sebagai aktor?

Dita: Enggaklah, I love actor. Bukan karena profesi, lebih karena visi dan misi.

Denny: Lebih kebiasaannya sih. Kadangkadang saya kan harus kerja, tetapi dia perlu saya. Saya kadang-kadang jelasin, tetapi kadang-kadang saya kecapekan, jadi kita enggak ketemu. Tentu setiap wanita pengin pengertian. It’s okay? Saya coba memberikan yang terbaik dan cuma memang enggak ketemu.

Memangnya, kebiasaan Dita apa yang enggak sepaham?

Denny: Habit yang saya enggak sepaham sebenarnya banyaklah, hal-hal kecil, baju, tetapi it’s not a big deal. Kadang-kadang saya kan rese ya, suka ngingetin terus, sampai negur di Instagram. Ya dia enggak nyaman, saya juga ngerti kok. Kadang saya ngomong di Whatsapp. Dia bilang, “Apaan sih ini kan enggak penting.” Ya itu perbedaan yang ada.

Dita: Papa mama saya enggak pernah negur saya soal itu. Bukannya saya mau gimana ya, yang penting kan bukan hal-hal dosa.

Kecewa dengan keputusan ini? Denny: Saya lebih kecewa sama diri saya karena saya sebagai laki-laki menganggap diri saya enggak mampu. Anak ini sangat tepat untuk perjalanan hidup saya, tetapi kok enggak ketemu (visi dan misinya).

Memangnya, enggak sayang semuanya batal?

Denny: Sedih, saya sebenarnya sudah siapin rumah. Ya rumahnya dirubuhin lagi kali ya? Ha-ha-ha. Enggak apa-apalah. Adalah pasti dari setiap kehidupan kita enggak sesuai dengan harapan. Kita kan lihatnya mau ke arah baik atau buruk. Saya pikir mungkin rumah itu dan segala… sudahlah gitu deh.

Lalu, bagaimana dengan baju nikah, undangan, dan persiapan lainnya?

Denny: Baju sih aku belum, enggak ada masalah. Kebetulan kita belum bikin undangan.

Dita: Undangan belum bikin, tetapi contohnya sudah ada. Bajunya saya tinggalin tuh di desainernya Tex Saverio sama Yogi. Sudah hampir selesai.

Terakhir menangis kapan? Denny: Saya tidak menangis, malah saya harus menguatkan diri. Karena saya sudah bilang sama Dita, saya akan temani dia karena bagaimanapun ini berat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.